: WIB    —   
indikator  I  

COO, the next CEO di masa depan

COO, the next CEO di masa depan
Center for Asian Supply Chain Competitiveness Prasetiya Mulya Business School

Manajemen perusahaan umumnya dibagi menurut fungsi organisasi. COO, yang merupakan kependekan dari chief operating officer, memegang salah satu fungsi tersebut yaitu operasi bisnis. Pembagian tanggung jawab untuk masing-masing fungsi organisasi tersebut mendorong konsentrasi tugas pengelolaan dan  pengawasan yang efektif.

Namun, pola manajemen organisasi berdasarkan fungsi ini telah menuai banyak kritik. Salah satunya dari Profesor Hammer dari MIT pada tahun 1990-an. Ia mengajukan konsep manajemen yang berorientasi proses lintas fungsi organisasi.  Saat ini, manajemen perusahaan yang berorientasi proses  telah banyak diadopsi dan diajarkan di sekolah-sekolah bisnis terkemuka di seluruh dunia.  

Manajemen perusahaan yang berorientasi proses tentu membuat COO memegang peranan yang sentral dalam membangun daya saing perusahaan. Untuk itu perlu interpersonal dan leadership skill. Interpersonal skill diperlukan, karena dalam melakukan perubahan proses bisnis, seorang COO akan berhubungan dengan fungsi organisasi yang lain. Adapun leadership skill penting  agar berani melakukan terobosan-terobosan yang besar.

Seorang COO juga harus mengerti proses bisnis di semua fungsi organisasi perusahaan. Pengetahuan ini menghidupkan proses komunikasi dan diskusi secara rasional sehingga memudahkan pengambilan keputusan.  

Peranan COO seperti itu semestinya sudah diketahui oleh para profesional di bidang manajemen operasi. Cukupkah itu? Sepertinya tidak, karena sekarang ini terjadi transformasi dan tren baru manajemen operasi bisnis yang perlu dicermati oleh COO atau mereka yang memiliki keinginan menjadi COO.  

Ke depan, kinerja operasi bisnis akan menjadi semakin penting sebagai pembeda strategi perusahaan.  Strategi operasi akan semakin menekankan daya saing perusahaan melalui keunggulan operasi berbiaya rendah (leanness). Namun, mempunyai kemampuan operasi yang cepat tanggap dalam memenuhi keinginan customer yang bisa berubah tidak sesuai dengan prediksi (agility).

Kemampuan operasi bisnis ini, yang juga dikenal dengan leagile operations capability, menjadi kunci utama transformasi manajemen operasi bisnis perusahaan.


Tantangan manajemen

Tren manajemen operasi lain yang sedang berkembang adalah transparent operations. Ini dampak kemajuan teknologi informasi dan internet, yang memungkinkan perusahaan memiliki kompetensi operasional yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Misalnya, dengan teknologi GPS, operator taksi Bluebird bisa memonitor pergerakan seluruh armadanya, dan memberikan fasilitas pada customer yang memesan taksi untuk mengetahui posisi terkini dari taksi pesanannya. Hal ini menciptakan keunggulan baru bagi Bluebird.

Contoh lain, customer yang membeli barang secara online dapat mengetahui secara live proses barang yang dipesan sejak transaksi sales order di penjual, handling, dan transportasi hingga pengantaran ke tempat tujuan.

Ke depan, transparansi operasi akan semakin meluas diaplikasikan sebagai strategi mendekati dan memenangkan customer. Bukan tidak mungkin, seorang yang inden mobil baru akan bisa mengkustomisasi dan memantau secara live mobil yang dipesannya, mulai dari proses perakitan di pabrik, pengiriman ke dealer, hingga serah terima dengan pembeli.

Di sisi lain, transparansi operasi juga mendorong perusahaan semakin berani mengalihdayakan proses bisnisnya.  Perusahaan manufaktur semakin fokus pada pengembangan produk dan mencari perusahaan lain untuk proses manufaktur dan komponen disediakan oleh jaringan supply chain-nya.

Profesor Erkan Bayraktar mengatakan, fenomena transparansi operasi ini unik karena membalik teori klasik manajemen operasi. Sebelumnya, perusahaan cenderung menjaga kerahasiaan proses produksi dan mengawasi supplier secara ketat. Di sisi lain, komunikasi dengan customer dipercayakan pada distributor atau retailer.

Ke depan, perusahaan semakin banyak melakukan outsourcing proses bisnis namun semakin tersambung secara langsung dengan customer melalui layanan dan transparansi operasi. Dampaknya adalah perusahaan semakin melihat layanan produk menjadi sama pentingnya, bahkan bisa lebih penting, daripada produk jualannya.  

Namun kemajuan teknologi informasi dan internet mendorong munculnya fenomena information overload yang diterima perusahaan. Padahal, integrasi informasi ke dalam rekayasa proses bisnis merupakan salah satu sumber utama dari penciptaan nilai tambah perusahaan.

Tantangan manajemen operasi di masa depan adalah merancang proses bisnis yang secara cepat dapat memilah, eliminasi informasi yang tidak relevan, dan analisis. Kemudian, menghasilkan informasi yang membuka peluang kompetitif perusahaan dalam menghadapi pergeseran pasar lokal ke global dan permintaan yang bergeser dari produk standar menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan customer.  

Mengutip laporan DNA of the COO yang diterbitkan Ernst & Young di pengujung tahun 2012, chief operating officers (COOs) di masa depan akan mendapat toughest job dibandingkan dengan C-suite lain.  Selain itu, transparansi operasi serta kemajuan teknologi informasi turut menambah peran COO dalam lingkungan perusahaan.

Artinya, ada peluang luar biasa bagi seorang COO untuk berperan lebih besar dalam mengeksploitasi pengetahuan dan pengalamannya untuk inovasi dan kontribusi strategik bagi penciptaan perusahaan yang unggul di masa depan.  Ini sejalan dengan riset Ernst & Young yaitu jika dibandingkan dengan C-suite executives lain, seperti CFO dan CIO, akan semakin banyak COO yang memegang peran sebagai the next CEO di masa depan.     


Close [X]