: WIB    —   
indikator  I  

Merajut rantai kepedulian sosial

Merajut rantai kepedulian sosial
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Langkah demi langkah seseorang ketika berinteraksi dengan alam dan orang di sekitarnya menggoreskan tinta dalam buku sejarah perjalanan hidupnya dan orang lain. Dari sana akan tampak dengan siapa ia berinteraksi. Life is about building a history, demikian ditulis oleh George Mead di awal abad ke-20.

Setiap perbuatan manusia yang berdampak baik terhadap kehidupan lingkungannya akan menjadi buah bibir banyak orang dan diingat untuk waktu yang lama. Perbuatan tersebut akan diceritakan dan diajarkan ke generasi berikutnya dan seterusnya. Adapun perbuatan buruk akan dikutuk dan juga selalu diingat untuk waktu yang lama.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, kita baru menyadari bahwa peran sekolah bisnis menjadi semakin krusial dalam mengukir sejarah bangsa dan dunia. Terutama, melalui langkah-langkah dan sepak-terjang para lulusannya yang mempunyai otoritas mengambil keputusan penting dalam organisasi yang dipimpinnya di masa depan.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa lulusan sekolah bisnis ternama dan terpandang di dunia sekalipun, tidak selalu memberikan dampak yang positif bagi organisasi yang dia pimpin maupun masyarakat luas. Bahkan, ada lulusan sekolah bisnis ternama itu yang berperan sebagai penyebab keambrukan ekonomi negaranya, yang kemudian meluas menjadi krisis ekonomi dunia.

Berdasarkan fenomena tersebut, timbul pertanyaan: adilkah apabila sekolah bisnis yang disalahkan jika lulusannya berbuat tidak baik? Padahal, almamater bukan satu-satunya aktor yang dapat mengubah sikap dan perilaku mahasiswa dan alumninya. Terlalu banyak pihak-pihak terkait lain yang ikut berperan dalam membentuk karakter seseorang.

Lagi pula, bukankah tujuan sekolah bisnis adalah menghasilkan lulusan sebagai seorang pebisnis yang andal dan kompetitif serta mampu menghasilkan nilai tambah (finansial) bagi organisasi yang dipimpinnya? Sekolah yang tidak menghasilkan pemimpin seperti itu akan dipandang gagal.

Seandainya pun ada satu sekolah bisnis yang mau secara sukarela menjadi aktor perubahan dan penghasil lulusan sebagai pebisnis yang peduli pada masyarakat setempat, apakah mungkin sekolah ini mampu melakukannya sendirian? Bisakah itu dilakukan tanpa didukung oleh pihak-pihak terkait lain, terutama pemerintah—dalam hal ini Dikti sebagai regulator yang mengatur tata kelola sekolah bisnis.


Merajut hubungan

Sebenarnya, secara teori jalan keluarnya mudah karena di mana pun hukumnya sama. Perbuatan manusia pada dasarnya didorong oleh persepsi probabilitas keuntungan atau manfaat atas perbuatan masing-masing aktor. Ini layaknya suatu transaksi yang reciprocal alias timbal balik saling menguntungkan.  Alhasil, perbuatan yang dipersepsikan kurang atau tidak menguntungkan salah satu aktor akan dihindari.

Tentunya tingkat keuntungan ini dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan (needs). Semakin tinggi tingkat kebutuhan masing-masing aktor untuk mempertahankan hubungan, semakin tinggi pula upaya masing-masing aktor untuk  mempertahankan hubungan. Namun dalam hidup bermasyarakat, aktor yang terlibat jumlahnya banyak dan hubungannya kompleks serta saling terkait. Masing-masing memiliki kepentingan berbeda-beda.

Bagaimana caranya membangun komunitas yang harmonis dan berkelanjutan (sustainable) dalam tatanan masyarakat yang majemuk dan kompleks? Dasar hukumnya masih sama: dalam suatu hubungan yang semajemuk dan sekompleks apa pun, terdapat hubungan berpasangan antar dua anggotanya sehingga membentuk rajutan yang tak beraturan di antara pasangan tersebut.

Satu aktor dalam waktu bersamaan dapat merajut hubungan dengan banyak pasangan dalam waktu bersamaan. Namun tidak semua hubungan tersebut sama kuatnya. Kekuatan rajutan hubungan tersebut tergantung tingkat kebutuhan masing-masing aktor untuk mempertahankan hubungan seperti telah dibahas di atas.

Ketika suatu hubungan telah dianggap tidak dibutuhkan, maka dengan sendirinya akan mengakibatkan renggangnya hubungan. Untuk mempertahankan hubungan yang berkelanjutan, kunci katanya adalah membangun hubungan yang saling ketergantungan antar pasangan. Ketergantungan ini berfungsi sebagai perekat dalam hubungan yang harmonis. Namun karena tingginya dinamika hidup dan lingkungan, kebutuhan mempertahankan suatu hubungan dapat berubah sejalan dengan waktu.


Perlu SWOT analysis

Lalu, apakah berarti hubungan erat tidak dapat dilakukan untuk jangka panjang? Diperlukan analisis SWOT yang terus-menerus antar setiap pasangan. Hal ini mensyaratkan adanya interaksi berulang antar pasangan di dalam suatu jejaring sosial yang kompleks. Dengan demikian, memang kemampuan kita untuk menjalankan proses ini memaksa kita tidak mungkin memiliki hubungan akrab dengan banyak aktor.

Nah, kembali pada pembahasan semula mengenai sekolah bisnis yang dituntut untuk menghasilkan lulusan yang sadar dan peduli pada masyarakat sekitar. Kunci keberhasilannya adalah melakukan analisis SWOT terus-menerus guna merajut hubungan berdasarkan ketergantungan tersebut.

Para pemangku kepentingan (stakeholder) penting ditentukan sebagai aktor-aktor penting, termasuk warga dan pejabat dalam komunitas yang akan dibangun secara berkelanjutan. Sekolah perlu mencari informasi mendalam tentang kebutuhan masing-masing aktor penting tersebut, termasuk kebutuhan sekolah itu sendiri.

Dasar pemikiran inilah yang perlu dipikirkan dalam membangun model kerjasama antar-stakeholder sekolah bisnis dan komunitas sekitar.     

lenny.sunaryo@pmbs.ac.id


Close [X]