Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Fesyen dan merek lokal

Fesyen dan merek lokal
Pengamat Asia Tenggara

SIAPA bilang Anda tidak bisa menjadi kaya raya dari fesyen? Dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes 2013, Amancion Ortega, pengusaha fesyen dari Spanyol, dinobatkan sebagai orang terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan bersih mencapai US$ 57 miliar.

Tahun ini saja, kekayaan pribadinya meningkat hingga US$ 19,5 miliar, jauh lebih besar dari miliarder lainnya di dalam daftar itu. Kekayaan Ortega diperoleh dari kesuksesan merek Zara yang dia miliki melalui Grup Inditex. Inditex juga merupakan perusahaan induk untuk merek-merek terkenal lain, seperti Massimo Dutti, Stradivarius, dan Pull and Bear.

Dengan laba € 1,932 miliar di tahun 2012, Inditex mempekerjakan lebih dari 100.000 orang. Saat ini, terdapat 1.751 gerai Zara di berbagai belahan dunia, termasuk 11 gerai di Indonesia. Jika kita menghitung keseluruhan merek fesyen di bawah Inditex, Ortega memiliki lebih dari 6.000 outlet di seluruh dunia.

Pertumbuhan pesat Inditex ini sangat mengagumkan mengingat tekanan yang dialami ekonomi global saat ini. Mungkinkah fesyen menjadi lebih krusial untuk memompa semangat di tengah-tengah krisis dan kelesuan ekonomi saat ini? Apa yang ingin saya telusuri di sini adalah kemungkinan bisa atau tidaknya peruntungan seperti ini direplika oleh kawasan Asia Tenggara? Bisakah kawasan kita menyamai kesuksesan merek Uniqlo dari Jepang?

Saya pikir, kenapa tidak? Zara pun bermula di La Coruna, sebuah kota di sebelah utara Spanyol bagian barat. Nyatanya, ada beberapa wilayah di Asia yang memiliki pasar ritel berpadu dengan semangat fesyen. Kota paling menggairahkan yang menawarkan merek-merek asli lokal (bukan merek-merek mewah membosankan sepertik Orchard Road dari Singapura) adalah Bangkok yang baru saja saya kunjungi minggu lalu.

Walaupun pada saat itu saya hanya nongkrong di mal Central Plaza di Ladprao, di bagian utara kota (kurang lebih sama dengan Taman Anggrek di Jakarta), persembahan ritel lokalnya sangat berkelas dan modis. Jika disejajarkan dan dibandingkan dengan merek-merek global semacam GAP, Zara, dan Topshop, apa yang ditawarkan oleh Thailand sebenarnya memancarkan daya tarik visual.

Di saat konsumen tengah asyik mencari-cari sesuatu yang modis dan benar-benar khas, pusat-pusat perbelanjaan di Bangkok melampaui rekan-rekannya di Asia Tenggara. Toko-toko seperti Greyhound, Chaps, Jaspals, Disaya, dan Kloset secara keseluruhan sangat menarik.

Tapi, saya betul-betul terpesona oleh kreasi dan gairah yang dipamerkan oleh FlyNow, sebuah butik kecil, yang memadukan motif khas barok Eropa, keagungan gaya bangsawan Thailand, keunikan, serta keanggunan. Saya kemudian mengetahui bahwa FlyNow ternyata merupakan bisnis yang substansial. Didirikan pada tahun 1983 oleh perancang busana Somchai Songwatana, merek ini memiliki 10 toko dan 60 konsesi di Thailand.

Penciptaan merek lokal dan replika Zara tentunya merupakan dua hal yang berbeda. Persoalan produksi, manajemen rantai suplai dan logistik, sejatinya, menjadi kian kritis seiring perkembangan zaman. Tetap saja, merek-merek Thailand ini sangatlah modis, berkualitas, dan sekaligus modern.

Seperti yang diungkapkan oleh Kedutaan Besar dan Konsulat Perdagangan Denmark di Bangkok dalam laporan terakhirnya. Industri fesyen domestik menyumbangkan hingga 17% dari GDP Thailand. Industri ini juga merupakan sub-sektor manufaktur terbesar di Thailand, mempekerjakan hingga lebih dari 1 juta orang.
Ekspor garmen juga dilaporkan menyumbang lebih dari 60% dari total ekspor per tahun yang mencapai US$ 6 miliar. Indikasi dari keseriusan industri ini adalah keberadaan Pusat Kreasi dan Desain Thailand (TCDC) yang disponsori pemerintah dan di bawah Kantor Perdana Menteri. Lembaga ini didirikan untuk berperan sebagai sarana pembelajaran utama dan sumber disain dan kreativitas.

Motto lembaga ini sangat instruktif: "Menarilah dengan imajinasimu dan ubah lah hidupmu". Faktanya, salah satu Pusat Perbelanjaan Thailand (yang dimiliki Central Retail Corporation) akan membuka cabang barunya di Grand Indonesia.

Outlet seluas 21.000 meter persegi dengan nilai investasi US$ 19,5 juta itu akan dibuka pada September 2014. Saya tentunya berharap mereka membawa banyak merek fesyen Thailand dan selanjutnya mengilhami perancang busana lokal untuk menciptakan sektor ritel yang makin bergairah dan menguntungkan.