: WIB    —   
indikator  I  

Bulan bahagia dan bulan sedih

Bulan bahagia dan bulan sedih
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Prediksi saya mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan ini nyaris meleset. Saya menerka IHSG tidak akan turun selama Juni. Namun yang terjadi, IHSG malah meluncur ke 3.721 pada Jumat 17 Juni 2011 sebelum rebound ke 3.849 akhir minggu lalu.

Ini bukan kali pertama prediksi saya kurang akurat. Tahun lalu saya menebak IHSG menuju 3.500 di akhir tahun. Nyatanya indeks melesat dan ditutup di 3.703.

Sebagai penasihat investasi sebuah Badan Usaha  Milik Negara (BUMN), akhir bulan lalu, saya mempresentasikan bahwa IHSG mampu bertahan, atau bahkan naik, selama Juni. Baru sekitar Agustus atau paling cepat pertengahan Juli nanti, IHSG mulai kehabisan energinya.

Prediksi saya mengenai IHSG sepanjang semester pertama tahun ini tentunya berdasarkan beberapa alasan. Kecuali ancaman inflasi akibat kenaikan harga komoditi, indikator ekonomi kita yang lain sejatinya positif.

Sebelumnya, di akhir bulan Januari lalu saya katakan bahwa IHSG akan stabil di 3.500 sampai dipublikasikannya laporan keuangan emiten di akhir Maret. Ini karena IHSG kita telah naik terlalu pesat di beberapa bulan terakhir tahun 2010.

Saya berani memprediksi IHSG akan kembali menembus 3.700-an di sekitar awal April karena percaya kinerja keuangan sebagian besar emiten akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Alasan lain, dalam 17 tahun terakhir (1994-2010), rata-rata kinerja IHSG selama Februari adalah -0,6%, demikian juga dengan bulan Maret.

Sebelum 2010, rata-rata pergerakan IHSG di bulan Maret adalah -0,1%. Rata-rata IHSG mengalami kenaikan di April, Mei, dan Juni yaitu 3,4%, 3,1%, dan 2,5%.

Selain di ketiga bulan itu, kinerja IHSG juga mengagumkan di bulan Desember yaitu 4,8%, diikuti Januari (3,2%) dan November (2,4%). Bulan Desember adalah bulan kejayaan para investor saham di BEI karena dalam sepuluh tahun terakhir IHSG selalu naik di bulan penghujung tahun (Lihat tabel Kinerja IHSG berdasar Bulan).

Hanya dalam dua tahun dari 17 tahun terakhir, IHSG di bulan Desember negatif. Di urutan berikutnya untuk bulan dengan frekuensi return positif terbanyak adalah Januari dan Juni, yaitu naik dalam 11 tahun. Bandingkan dengan return positif bulan Agustus dan November yang hanya 6 dan 8 kali masing-masingnya. Di tujuh bulan lainnya, IHSG memberikan kinerja positif sebanyak 9-10 kali dari 17 kemungkinan.

Setelah IHSG bergerak sideways di sekitar 3.800, pertanyaan yang relevan adalah bagaimana prospek indeks bulan per bulan hingga akhir tahun. Sebelum koreksi akibat isu menanti quantitative easing lanjutan negeri Paman Sam dan krisis utang Yunani dua minggu lalu, saya memprediksi IHSG akan mengalami penyesuaian di bulan Agustus tahun ini yaitu dari 3.900-4.000 menjadi sekitar 3.700-3.800.

Selama 1994-2010 di bursa kita menunjukkan IHSG rata-rata turun -4,5% dengan kisaran -31,5% hingga plus 13,1% selama bulan Agustus.

Bulan kedelapan ini juga akan dicatat sebagai bulan dengan kerugian terbesar yaitu 31,5% pada tahun 1997, diikuti dengan bulan November sebesar minus 31,4% di tahun 2008. Buruknya kinerja IHSG di bulan Agustus mirip dengan jeleknya Dow Jones di bulan Oktober.

Untuk kinerja Juli, statistik IHSG tahun 1994-2010 masih memberikan keuntungan normal 1,1%-1,2%. Sedangkan bulan September dan Oktober adalah periode konsolidasi. IHSG umumnya akan bergerak sideways di dua bulan ini dengan kecenderungan negatif yaitu +0,76% di bulan September dan -0,81% di bulan Oktobernya.

Banyak hipotesis bisa diajukan untuk menjelaskan fenomena di bulan Juli-Oktober. Dugaan saya, IHSG masih positif di bulan Juli karena masih maraknya RUPS dan cum-date di bulan ini. Sementara Agustus adalah masa pascapembagian dividen, saat harga saham menyesuaikan diri terhadap dividen yang dibayarkan. Jika kas dan ekuitas emiten berkurang dengan dibayarkannya dividen, maka sudah sewajarnya harga saham emiten itu ikut terkoreksi.

November dan, terutama, Desember adalah bulan yang sarat window dressing adalah bulan-bulan yang disukai investor saham dengan return bulanan 1,4% dan 4,8%. Bulan November juga akan dikenang sebagai bulan yang pernah memberikan return terbesar yaitu 28,4% di tahun 1998, sementara Desember akan diingat sebagai bulan dengan risiko kerugian paling kecil karena return berkisar dari -3% hingga 16% selama 17 tahun terakhir. Bandingkan dengan kemungkinan kerugian terbesar untuk sebelas bulan lainnya yang berkisar dari -8,6% (Januari) hingga -31,5% (Agustus).

Kesimpulannya, hati-hatilah di bulan Agustus serta agresiflah di bulan November dan awal Desember. Tentu, ada asumsi dalam kesimpulan saya ini, yaitu sejarah akan berulang. Ini juga asumsi dasar dari analisis teknikal yang mendominasi bursa kita.


Close [X]