: WIB    —   
indikator  I  

Memanfaatkan reaksi pasar

Memanfaatkan reaksi pasar
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Siapa manajer klub sepak bola tersukses? Jawabnya mudah, Sir Alex Ferguson (SAF). Dia membawa Manchester United (MU) menjuarai English Premiere League sebanyak 13 kali. Lebih dari ini, prestasi ciamik di lapangan hijau diiringi dengan penciptaan nilai ekonomis bagi pemilik MU, keluarga Malcolm Glazer. MU juga sukses membangun komunitas penggemar di seantero jagat. Brand yang kuat dimanfaatkan secara efektif untuk mencari cuan sebanyak-banyaknya. 

Wajar jika majalah Forbes, Januari lalu, menobatkan MU sebagai klub sepak bola paling berharga dengan nilai US$ 3,3 miliar (£2,2 miliar). Padahal pada 1989, nilainya cuma US$ 25 juta. Saat MU melantai di bursa, investor kawakan seperti George Soros ikut tergiur membeli sejumlah besar saham MU.

Tak heran, ketika SAF mengumumkan hendak pensiun, harga saham MU di bursa saham New York langsung longsor dari US$ 18,77 menjadi US$17,73. Berapa nilai SAF? Penurunan sebesar 5,5% itu merepresentasikan penurunan nilai MU sebesar £118 juta, sekitar satu setengah kali nilai transfer pemain sepak bola termahal di dunia, Cristiano Ronaldo, yang £80 juta. Wow!

Di pasar modal yang efisien, investor di bursa saham akan segera bereaksi terhadap semua berita yang menyangkut nilai perusahaan. Mundurnya SAF dikhawatirkan akan berdampak pada prestasi MU dan prospek kinerja keuangannya. Investor yang pesimistis segera melepas sahamnya, menyebabkan penurunan harga.

Umumnya, pasar akan bereaksi terhadap pengumuman laporan keuangan dan aksi korporasi seperti pembayaran dividen, akuisisi, buyback saham, dan rights issue. Tapi, berita perubahan manajemen puncak perusahaan akan membuat pasar bergejolak. Harga bisa naik atau turun tajam. Mari kita lihat contoh yang terjadi di Bursa Efek Indonesia.

Ketika Rachman Halim, Presiden Komisaris PT Gudang Garam Tbk (GGRM), berpulang di hari Minggu (27/7/2008), harga saham GGRM sontak naik 19% ketika bursa di buka di hari Senin. Padahal sejak awal 2008, harga saham GGRM sudah terpangkas 54%. Apa penyebabnya?

Saat itu, GGRM diberitakan sudah lama menjadi target akuisisi beberapa produsen rokok internasional. Keluarga Halim diisukan ingin melepas GGRM karena bisnisnya mulai meredup namun ditentang oleh Rachman Halim. Maka, wajar bila harga saham langsung melambung ketika penghalang rencana akuisisi telah tiada.

Sejumlah investor berspekulasi dengan membeli saham GGRM. Secara teoretis, harga saham perusahaan yang menjadi target akuisisi pada umumnya akan naik setelah pengumuman akuisisi. Namun, beberapa hari kemudian, keluarga Halim membantah akan menjual GGRM, dan harga saham GGRM sontak turun mendekati level sebelum berita kematian Rachman Halim.

Contoh lain adalah ketika Direktur Utama PT Astra International, Tbk (ASII), Michael D. Ruslim mendadak meninggal karena demam berdarah. Kabar meninggalnya Michael Ruslim di pagi hari 20 Januari 2010 memicu penurunan harga saham ASII dari Rp 36.250 menjadi Rp 35.700 (1,5%). Padahal pada hari itu praktis tidak ada sentimen negatif yang melanda ASII maupun bursa saham. Duka investor berlanjut hingga 3 minggu di mana saham ASII turun lagi hingga Rp 32.750. Total investor kehilangan hampir 10% kekayaannya. Namun, ketika Prijanto Sugiarto diumumkan menggantikan Michael Ruslim, harga saham ASII berangsur-angsur pulih dan bahkan akhirnya melejit hingga level Rp 80.000.

Aksi korporasi juga bisa merontokkan harga saham. Misal, saat tersiar kabar bahwa royalti yang harus dibayar PT Unilever Indonesia, Tbk (UNVR) ke induknya, naik dari 3,5% menjadi 8% sampai 2015, harga saham UNVR merosot hingga

Rp 20.350 (turun 22%) pada medio Desember 2012. Hal yang sama terjadi saat PT Holcim Indonesia, Tbk (SMCB) harus membayar royalty lebih tinggi. Harga sahamnya sontak turun hingga Rp 2.600 (turun 20%).

Investor bisa memanfaatkan reaksi pasar untuk membeli saham underpriced. Reaksi pasar terhadap sebuah berita buruk biasanya berlebihan. Mereka sering lupa bahwa perusahaan yang bagus selalu punya strategi untuk menghadapi berbagai masalah. Dengan berjalannya waktu, investor akan sadar bahwa kekhawatiran mereka berlebihan.

Saat ada berita buruk dan harga turun tajam, investor bisa menunggu beberapa hari hingga harga saham turun cukup nyata, misalnya 15%-20%, sebelum mulai masuk. Tentu dengan tetap memperhitungkan aspek fundamental emiten itu. Hasilnya lumayan. Beberapa bulan kemudian, harga saham UNVR mencapai Rp 31.250 dan harga SMCB pernah menyentuh Rp 3.975.


Close [X]