: WIB    —   
indikator  I  

Mengejar mas-mas

Mengejar mas-mas
Chairman, Department of Finance Prasetiya Mulya Business School

Masih ingat film drama komedi arahan Rudi Soedjarwo yang meraih sukses di 2007? Dalam film itu, dua wanita cantik memperebutkan seorang mas (sebutan untuk pemuda Jawa) yang suka berpakaian tradisional dan naik sepeda ontel.

Mirip dengan kisah di film tersebut, sejak 2001, terutama dua tahun terakhir ini, makin banyak pemilik dana, termasuk bank sentral di berbagai negara, yang mengejar emas. "Demam emas" saya rasakan melalui berbagai pertanyaan tentang investasi emas yang selalu muncul di talk show investasi.

Emas populer karena harganya yang menanjak selama 10 tahun terakhir. Grafik 1 Dasawarsa Harga Emas memperlihatkan, harga emas di Juli 2001 hanya US$ 260 per ons troi (1 ons troi= 28,35 gram). Pada Juni 2011, harga emas sudah US$ 1.500 per ons troi.

Jika menggunakan strategi buy and hold (beli lalu diamkan), emas memberikan keuntungan hingga 475% selama 10 tahun. Kenaikan harga emas pada periode tersebut cukup fantastis, rata-rata 19% per tahun! Sebagai pembanding, di periode yang sama, kenaikan IHSG adalah rata-rata 24% per tahun.

Gambaran yang amat berbeda jika kita melihat data harga emas sebelum 2001. Pada periode 1981 – 2000 kenaikan harga emas per tahun hanya 2%. Investasi emas selama periode 1926 – 2006 hanya memberikan rata-rata imbal hasil 4,2% (dalam USD), sedikit di bawah imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka panjang.

Jika harga emas  di masa mendatang mereplikasi kinerjanya selama 10 tahun terakhir, jelas emas layak diperhitungkan secara lebih serius sebagai alat investasi. Imbal hasil 19% per tahun lebih dari cukup untuk mengalahkan inflasi. Apalagi, fluktuasi harga emas tidak setinggi fluktuasi harga saham.

Apakah harga emas akan terus melaju tentu bergantung pada faktor pendorongnya. Kita tahu bahwa setelah krisis keuangan global pada 2008, AS mencetak uang untuk mendukung program stimulus ekonominya. Akibatnya, nilai tukar dollar AS  terhadap valuta negara-negara di dunia cenderung turun. Bank sentral di berbagai negara berusaha menurunkan cadangan devisa yang berupa dollar AS dan menaikkan cadangan devisa dalam emas.

Investor global yang babak belur dihajar krisis di pasar surat berharga pada 2008, juga pindah ke emas, yang mereka nilai lebih aman. Keraguan terhadap prospek ekonomi global tak cuma menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya krisis, tetapi juga inflasi tinggi. Emas secara tradisional dipandang sebagai alat penangkal inflasi yang likuid dan paling mudah dipahami.

Selama faktor pendorong tersebut masih kuat, peluang harga emas untuk naik selama beberapa tahun ke depan masih terbuka. Apalagi pada akhir 2010 emas baru menyumbang 0,3% dari world portofolio.  Selain itu, dengan semakin majunya ekonomi beberapa negara berkembang, seperti Brasil, Rusia, India dan China, muncul harapan permintaan terhadap emas makin meningkat.

Di sisi lain, perlu dipahami bahwa lonjakan harga emas selama satu dekade terakhir telah memancing investor untuk berbondong-bondong berinvestasi di emas. Ada pepatah: "It is human nature to see the future as blue sky for any asset that is rising, and the opposite if falling."

Perilaku herding alias ikut-ikutan ini membuat permintaan emas meningkat tajam dan menyulut kekhawatiran bahwa harga emas sudah terlalu mahal (overpriced).

Investor seolah lupa bahwa harga emas pernah stagnan sekitar 25 tahun. Kisarannya dari US$ 459 di awal 1980  hingga US$ 435 pada awal 2004. Emas juga pernah stagnan selama 35 tahun, mulai awal 1935 (seharga US$ 35) hingga awal 1968 (US$ 35,5).

Investor kini mengalami demam emas. Greed mengalahkan fear! Namun, keserakahan bisa menciptakan bubble. Suatu saat lonjakan harga emas akan berhenti. Suatu ketika ketakutan dan kepanikan bisa menghempas harga emas. Kapan? Susah dijawab karena sulit sekali menebak perilaku investor.

Kalaupun rally harga emas tetap berlanjut, jangan terlalu berharap bahwa harga emas akan melaju dengan kecepatan seperti dua tahun terakhir ini. Sebaiknya kita tidak menaruh semua dana di emas karena ada risiko harga emas mengalami stagnasi dalam waktu panjang. Bahkan, harga bisa turun.

Diversikasikan dana kita di emas, saham dan obligasi karena emas terbukti mampu melindungi nilai portofolio saham, dan atau, obligasi. Sejarah mengajarkan bahwa saat bursa saham crash atau harga obligasi hancur, harga emas tidak turun bahkan malah naik. Komposisinya tentu disesuaikan dengan tujuan dan horison investasi serta profil risiko dari masing-masing investor.


Close [X]