: WIB    —   
indikator  I  

Abenomics

Abenomics
Pengamat Asia Tenggara

PADA 9 Mei 2013 lalu, perusahaan Jepang, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), mengejutkan pasar dengan rencana mengakuisisi 40% saham Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dengan estimasi harga mencapai Rp 15,1 triliun. Sebelumnya, SMBC telah melakukan pembelian saham BTPN tahap pertama sebesar 24,26% senilai Rp 9,2 triliun (US$ 946 juta).

Di awal pekan ini, pasar kembali dikejutkan oleh Dai-ichi Life Insurance yang telah sepakat membeli 40% saham Panin Life dengan estimasi harga US$ 295 juta. Apa arti dari semua ini? Well, Jepang telah kembali!

Setelah menderita akibat ketidakstabilan politik dan perekonomian tanpa arah yang terkenal dengan sebutan Lost Decade pada 1991-2000 akibat harga aset mereka melambung, saat ini, tampaknya Jepang siap melakukan perubahan. Mengapa demikian? Satu kata: Abenomics.

Nama tersebut diambil dari nama Perdana Menteri Shinzo Abe yang kembali berkuasa dengan Partai Demokratik Liberal (LDP) pada Desember 2012. Masa pemerintahan pertama Abe sebagai Perdana Menteri pada 2006-2007 telah dilupakan, tetapi ia sekarang perlahan membentuk kembali Jepang.

Jadi, apa itu "Abenomics"? Abenomics adalah seri perubahan besar untuk kebijakan ekonomi jangka panjang. Menurut Yoshito Hori, Managing Partner dari Globis Capital Partners (22 Mei 2013), Abenomics terdiri dari "tiga panah". "Panah" pertama merupakan kebijakan moneter yang lebih agresif. Jepang telah menetapkan target inflasi sebesar 2%, depresiasi Yen, dan pengurangan nilai yang terbesar dalam sejarah.

Untuk memfasilitasi hal ini, Abe mengganti Gubernur Bank Jepang (BOJ), Masaaki Shirakawa, dengan Presiden Bank Pembangunan Asia (ADB) Haruhiko Kuroda pada Maret 2013. Kuroda adalah seorang kritikus konservatisme ekonomi BOJ dan menganjurkan untuk menerapkan kebijakan yang lebih berani.

"Panah" kedua adalah kebijakan fiskal. Abe memutuskan untuk meningkatkan pengeluaran fiskal Jepang hingga 2% dari total GDP Jepang. "Panah" terakhir merupakan reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan Jepang. Ini termasuk negosiasi bersama untuk Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang akan memberikan liberalisasi perdagangan dan deregulasi yang lebih besar. Hal ini diarahkan agar dapat mendorong investasi di sektor privat.

Abenomics adalah sebuah hembusan udara segar. Ortodoksi sebelumnya menuntut deflasi, Yen yang kuat, dan kewaspadaan fiskal. Ini jelas tidak lagi bekerja dan memang dijalankan dalam upaya pemulihan Jepang. Sebab, betapa banyak rekonstruksi dan stimulus yang dibutuhkan setelah bencana Fukushima.

Perjudian Abe tampaknya terbayar. Awal bulan ini, ekonomi Jepang tumbuh sebesar 3,5% dibandingkan kuartal II-2012. Pertumbuhan ini terutama didukung oleh konsumsi sektor swasta yang meningkatkan 60% produk domestik bruto (GDP) Jepang. Pelemahan Yen juga menolong ekspor Jepang menjadi lebih kompetitif. Pada April 2013, tercatat bahwa pengiriman luar negeri naik 1,1% dibandingkan tahun lalu.

Pada saat yang sama, Abe menyusun kembali kebijakan pertahanan dan luar negeri Jepang. Ia telah mendorong pengeluaran anggaran pertahanan Jepang "untuk pertama kali dalam 11 tahun" dan juga menyerukan penulisan ulang konstitusi setelah Perang Dunia II agar memungkinkan fleksibilitas lebih besar bagi militer.

Dan, yang lebih kontroversial, Abe tampil mempertanyakan pernyataan tentang tindakan Jepang dalam Perang Dunia II sebagai bentuk imperialisme, yang kemudian memancing kemarahan negara tetangga yaitu Korea Selatan dan China.

Namun, Jepang mempunyai implikasi yang lebih gampang dan agresif terhadap Asia Tenggara. Proyek fundamental Abenomics adalah mendorong kepercayaan diri Jepang setelah puluhan tahun resesi, kepemimpinan yang acuh tak acuh, dan sikap tunduk pada Amerika Serikat. Hal ini membuat Jepang menjadi lebih berani untuk menegaskan dirinya (terutama terhadap China dan Korea Utara) dan melakukan langkah besar dalam ekonomi di luar negeri.

Abenomics juga memperlihatkan bahwa ketika ia datang untuk memerintah, keberanian dan kemauan untuk melepas formula lama yang melelahkan, dapat memunculkan kebangkitan baru. Kegagalan dan kejatuhan adalah sebuah pilihan, bukan takdir. Saya ulangi: Jepang telah kembali!


Close [X]