: WIB    —   
indikator  I  

Diversifikasi: Lain teori, lain praktik

Diversifikasi: Lain teori, lain praktik
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Penelitian mengenai praktik tidak terdiversifikasinya investor individu, dimulai dari Blume dan Friend (1975). Kelly (1995) menemukan fenomena yang sama, bahwa hanya 5% investor ritel yang memegang 10 saham atau lebih, dan 2% untuk 20 saham atau lebih. Tak beda dengan penelitian Barber dan Odean (2000) untuk data di Amerika periode Januari 1991-Desember 1996. Dari 78.000 sampel investor saham, median antara 2 dan 3 saham, dengan rata-rata 4 saham.

Polkovnichenko (2005) juga melaporkan, jumlah saham dalam portofolio investor rumah tangga selama 1983 adalah 2 dan meningkat jadi 3 pada 2001. Selama 18 tahun itu, 80% investor memegang 5 saham atau kurang dan 90% memiliki kurang dari 10 saham. Sementara Goetzmann dan Kumar (2008) menemukan, 25%−33% portofolio investor ternyata hanya terdiri atas 1 saham dan lebih dari 55% memegang 3 saham atau kurang. Pola ini terjadi sepanjang periode sampling, yaitu 1991-1996. Hanya 5%-12% portofolio yang terdiri lebih dari 10 saham. Dorn dan Huberman (2010) juga menemukan kondisi serupa di Jerman.

Ada tiga teori utama yang dapat menjelaskan mengapa investor ritel tidak melakukan diversifikasi, yaitu pendekatan bias psikologi (behavioral), teori portofolio behavioral, dan teori portofolio tiga momen.

Pertama, bias psikologi telah mempengaruhi investor individu hingga mereka mengabaikan diversifikasi. Bias psikologi itu adalah heuristic (Dorn dan Huberman, 2010; Merton, 1987; dan Tversky & Kahneman, 1973), familiaritas (Grinblatt dan Keloharju, 2001), favoritisme (Goldman, 1979), illusion of control (Langer, 1975), dan overconfidence (Odean, 1999).

Bias heuristic menyatakan, akibat kompleksitas masalah dan keterbatasan pada dirinya, manusia sering lebih mengandalkan cara praktis dan pintas dalam mengambil keputusan. Bias familiaritas dan favoritisme menyebabkan investor hanya mau mengoleksi saham perusahaan yang dia kenal baik dan sangat sukai.

Tidak melakukan diversifikasi juga dapat disebabkan bias psikologi lain seperti bias illusion of control dan overconfidence. Investor cenderung mempunyai ilusi kemampuan untuk mengendalikan situasi. Kedekatan dengan sejumlah saham tertentu memperparah overconfidence karena investor gagal menyadari bahwa pengetahuan dan informasi yang lebih banyak tak selalu menjamin hasil lebih baik.

Mengenai tidak diterapkannya diversifikasi ini, literatur behavioral finance (Shefrin & Statman, 2000 dan Statman, 2004) berteori lain. Menurutnya, investor menyusun portofolionya seperti piramida yang berlapis dengan lapisan terbawah untuk proteksi kerugian (downside) dan lapisan teratas bagi keuntungan besar (upside potential).

Selengkapnya, teori portofolio behavioral bilang, investor akan membagi uangnya dalam banyak lapisan, yaitu satu untuk tiap tujuan atau aspirasi. Keputusan membeli asuransi adalah untuk mengisi lapisan terbawah, sementara membeli lotre untuk lapisan atasnya. Beberapa mengisi lapisan atas, bukan dengan lotre, tetapi berupa portofolio saham yang tak terdiversifikasi.

Menurut teori portofolio behavioral, investor bersedia melepaskan manfaat diversifikasi dalam usaha untuk mencapai aspirasi ini. Keinginan investor untuk meraih potensi keuntungan atau untuk naik kelas secara ekonomi, menyebabkan mereka bersedia mengambil risiko lebih besar, seperti membeli reksa dana agresif, saham tak likuid, dan opsi call.

Penjelasan matematis tidak dilakukannya diversifikasi adalah konsep diversifikasi dalam dunia dengan tiga momen yang diawali dari tulisan Arditti (1967) dan Simkowitz & Beedles (1978). Diversifikasi tidak selalu dianjurkan untuk investor yang mendasarkan keputusan investasinya di tiga momen return pertama.

Alasannya, diversifikasi seperti pedang bermata dua. Yaitu mengurangi risiko yang tidak diinginkan (standar deviasi) sekaligus menghilangkan risiko lain yang diharapkan yaitu kemencengan (skewness) positif. Karenanya, investor yang risk-averse umumnya akan mempunyai portofolio dengan skewness yang rendah sebagai akibat dari usaha minimasi risiko (standar deviasi). Padahal, hasil penelitian Scott dan Horvath (1980) menunjukkan, investor bersedia membayar premi tambahan untuk aset yang dapat memberikan kemencengan yang positif.

Sejatinya, pemikiran tentang momen ketiga dalam distribusi return sudah dimulai oleh Markowitz (1952). Menurutnya, risiko dapat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, risiko volatilitas, yaitu varian atau instabilitas dari return portofolio. Kedua, risiko spekulasi, yaitu berhubungan dengan momen ketiga atau kemungkinan terjadinya return secara ekstrem, meski dengan probabilitas kecil.

Conine dan Tamarkin (1981) membuktikan hipotesis Simkowitz dan Beedles (1978) secara matematis bahwa portofolio yang terdiri atas sedikit saham dapat menjadi optimal jika memasukkan faktor skewness. Sayang, tak seperti model mean-varians, hingga saat ini belum ada model matematika baku untuk pembentukan portofolio optimal dengan memasukkan faktor skewness. Teori mana yang bisa menjelaskan praktik tak diversifikasi di kalangan investor ritel domestik di BEI? Saya menulisnya pada kesempatan mendatang. 


Close [X]