Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

NonLQ-45 lebih perkasa dari LQ-45

NonLQ-45 lebih perkasa dari LQ-45
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kinerja saham lapis dua dan tiga kembali mendominasi 10 top gainers di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada semester pertama 2011. Sepuluh saham jawara itu mungkin tidak pernah Anda dengar: CLPI, RODA, SAIP, GMTD, SRAJ, CKRA, UNIT, ADMG, PSDN, dan CMPP. Mereka memberikan keuntungan berkisar 530,4% hingga 145,7% dan rata-rata 261,6%.

Bukan bermaksud mengecilkan, namun keterbatasan waktu dan uang tidak memungkinkan investor saham memahami seluruh 435 saham emiten di bursa. Jadi, untuk menebak 10 saham top gainers apalagi yang jadi juara relatif sangat sulit. Anda mempunyai mesin uang jika mampu menebaknya karena akan memperoleh return ratusan persen tiap tahun.

Yang jelas, sang pemenang bukan saham LQ-45 atau 50 saham berkapitalisasi terbesar. Dari sisi nilai kapitalisasi pasar sebagai salah satu kriteria perusahaan bagus,

10 saham top gainers semester I adalah perusahaan jelek berkapitalisasi Rp 23 miliar–Rp 3 triliun dengan rata-rata Rp 1,2 triliun. Saya pernah menyinggung ini dalam artikel berjudul "Jangan Abaikan Perusahaan Jelek" di harian ini edisi 4 April 2011.

Di bawah 10 top gainers, ada 13 saham perusahaan jelek lain yang memberikan return minimal 100%. Tak ada satu pun dari 23 saham itu yang berasal dari 45 saham terlikuid (LQ-45). Sementara top gainers LQ-45 hanya memberikan gain tertinggi sebesar 65,3% yaitu ENRG. Hanya 22 saham di dalam LQ-45 yang harganya naik 2,6% hingga 65,3% selama semester I-2011.

Tertarik pada kinerja saham LQ-45 yang selalu kalah dan tertinggal dalam daftar top gainers, saya mencoba membandingkan kinerja indeks LQ-45 dengan IHSG. IHSG terdiri atas saham LQ-45 dan saham nonLQ-45. Kita juga dapat menghitung perubahan indeks nonLQ-45 dibanding perubahan indeks LQ-45 dalam periode sama.

Ternyata, selama lima dari enam tahun terakhir (2006-2011) kinerja indeks LQ-45 kalah dari IHSG. Indeks LQ-45 hanya sedikit lebih baik (0,5%) daripada IHSG pada tahun 2007.

Perbedaan kinerja paling mencolok terjadi tahun lalu. IHSG membukukan keuntungan 46,1% sedangkan indeks LQ-45 hanya 32,7%. Tahun 2010 pun dikenang sebagai tahun kejayaan saham-saham nonLQ-45. Tanpa lompatan besar harga saham nonLQ-45 yang melejit 71,3%, IHSG tidak akan bisa melesat 46,1%. Sementara selama tahun ini hingga akhir pekan lalu, IHSG kembali mengungguli indeks LQ-45 dengan kenaikan 8,6% berbanding 7,8%.  

Dengan asumsi bobot saham LQ-45 dalam IHSG adalah 65,3% (berdasarkan nilai), saya menyusun perubahan indeks nonLQ-45. Sesuai dugaan, indeks saham berkapitalisasi kecil dan tidak likuid (nonLQ-45) lebih tinggi 2% hingga 38,6% daripada indeks LQ-45 setiap tahun dalam 5 dari 6 tahun. Sementara indeks LQ-45 hanya pernah satu kali menang tipis 1,4% daripada indeks nonLQ-45 (lihat tabel).

Dalam kurun lima setengah tahun, dari awal 2006 hingga pekan lalu, IHSG telah naik 246% dan indeks LQ-45 180%. Yang mencengangkan, indeks nonLQ-45 naik lebih dari dua kali laju indeks LQ-45 yaitu 370%. Padahal, selisih kenaikan kedua indeks itu tidak terlalu jauh setiap tahun, kecuali tahun 2010.

Memang, jika Anda adalah investor institusi yaitu manajer investasi atau manajer keuangan yang mengelola dana masyarakat atau dana pensiun karyawan atau kas perusahaan, saya tidak berani merekomendasikan apa-apa. Anda tetap harus menaruh sebagian besar dana dalam saham LQ-45 yang berkapitalisasi besar. Risiko tinggi jika Anda berilusi mampu mengidentifikasi saham-saham yang akan menjadi 10 top gainers dan menaruh dana di saham itu.

Berbeda jika Anda mengelola dana sendiri, yang tidak perlu mempertanggungjawabkan kinerja investasi kepada orang lain. Jadi, Anda bebas memilih saham. Silakan alokasikan sebagian dana Anda, misalkan 20%-40% buat saham nonLQ-45. 

Tapi, menempatkan separuh atau lebih portofolio pada saham-saham ini juga tidak saya sarankan terutama jika jumlahnya besar. Sebab, pasar dan frekuensinya tipis. Anda berani menerima tantangan dan risiko ini?