Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Volatilitas fundamental atau transitory?

Volatilitas fundamental atau transitory?
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Satu pertanyaan utama yang mengemuka mengenai indeks kita saat ini adalah, wajarkah fluktuasi saham yang terjadi dalam tiga minggu terakhir ini? Mengapa ini bisa terjadi?

Mengenai kejatuhan indeks, IHSG pernah merosot 65% selama 15 bulan pada Juli 1997–September 1998. Di tahun 2006, IHSG juga pernah meluncur 20% dari 1.553 menjadi 1.241 dalam empat minggu pada Mei – Juni. Dalam 3 minggu di Juli – Agustus 2007, IHSG juga turun 20% yaitu dari 2.401 menjadi 1.909.

Di 2010 dan 2011 pola yang hampir sama juga terjadi yaitu pada April–Mei 2010 dan September–Oktober 2011. Sementara tahun 2008 akan dicatat sebagai tahun yang paling menakutkan. IHSG terperosok -50,6% dari 2.746 menjadi 1.355 saat itu.

Di minggu-minggu terakhir ini, IHSG kembali terjun bebas dari 5.201 pada 29 Mei menjadi 4.515 Jumat lalu atau -13,2% dalam 23 hari. Kinerja bursa saham lain pun tidak jauh berbeda.

Untuk volatilitas harian, indeks bursa Kuala Lumpur pernah merosot 9,5% dalam satu hari pada 10 Maret 2008. Dow Jones bahkan pernah jatuh lebih dari 500 poin atau 22,5% hanya dalam satu hari yaitu pada 19 Oktober 1987.

Yang paling menyeramkan soal merosotnya harga saham adalah indeks Nikkei yang tergerus hampir dua pertiganya dalam 24 tahun, dari 38.916 di akhir 1989 menjadi 13.230 pada minggu lalu. Ini berarti investor saham di Jepang yang masuk pasar pada 1989 merugi 66%, jika hingga hari ini belum menjualnya.

Volatilitas adalah tendensi harga berubah di luar perkiraan. Perubahan harga itu bisa terjadi karena ada informasi baru mengenai nilai perusahaan (volatilitas fundamental) atau karena kepanikan dan overreaksi para investor (volatilitas transitory).

Harga aset umumnya mencerminkan nilainya. Harga aset berubah jika fundamentalnya berubah. Harga saham, karenanya, juga berubah ketika para investor mengetahui telah terjadi perubahan fundamental perusahaan, industri, dan perekonomian. Inilah yang dimaksud dengan volatilitas fundamental.

Sejatinya, volatilitas fundamental tidak hanya dialami saham, tetapi juga obligasi dan mata uang. Harga sebuah saham dipengaruhi rasio utang, laba, pertumbuhan penjualan, dinamika pasar input dan outputnya, serta kualitas manajemen. Sedangkan harga pasar obligasi tergantung inflasi dan rating. Untuk mata uang, yang menjadi faktor fundamental adalah stabilitas politik, inflasi, cadangan devisa, dan neraca perdagangan.

Khusus saham, kita bisa mengenali dengan mudah saham-saham bervolatilitas tinggi. Pertama, saham perusahaan yang berkecimpung dalam teknologi tinggi karena nilainya sangat tergantung pada keberhasilan riset untuk produk baru yang pasarnya mungkin belum ada.

Kedua, saham-saham komoditas yang harganya mengikuti permintaan dan penawaran global. Ketiga, saham dengan PER yang tinggi umumnya juga volatil. Keempat, saham-saham dengan rasio utang yang besar biasanya juga volatil karena adanya kewajiban membayar bunga yang besar di masa depan sementara tingkat penjualan perusahaan masih belum pasti. Kelima, saham-saham yang banyak dimiliki investor asing saat mereka masuk atau keluar pasar dalam jumlah besar seperti yang kita saksikan di BEI.

Mengapa investor harus panik atau bereaksi berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya volatilitas sementara (transitory) atau noise ini? Karena investor saham di mana pun sangat dikuasai dua ”ta” yaitu takut dan tamak. Saat harga sebuah saham jatuh karena banyak investor menjualnya, investor lain ikut menjual karena takut rugi lebih besar.

Sebaliknya, saat harga sebuah saham naik karena begitu besarnya minat beli di pasar, tidak sedikit juga investor yang ikut beli karena tamak. Padahal sangat mungkin tidak ada perubahan fundamental emiten, industri, dan ekonomi. Volatilitas akibat perilaku investor yang tidak bersumber dari perubahan fundamental perusahaan ini disebut sementara atau transitory karena harga pada akhirnya akan kembali ke tingkat wajarnya.

Tidak seperti volatilitas transitory, volatilitas fundamental walau kadang mengagetkan, adalah alami dan diperlukan untuk alokasi sumber daya secara efisien.

Menyikapi volatilitas yang terjadi di BEI saat ini, apakah volatilitas ini fundamental seperti 1998 atau transitory seperti 2008?  Saya lebih percaya volatilitas adalah transitory, terutama karena investor asing yang net buy sebesar Rp 19,5 triliun pada empat bulan pertama tahun ini keluar dalam jumlah yang lebih besar dalam sebulan terakhir ini sehingga menjadi net sell dalam tahun ini.

Meskipun demikian, saya tidak dapat membantah jika perekonomian kita dikatakan sedang menghadapi masalah serius dengan neraca perdagangan yang defisit sejak tahun lalu dan juga tahun ini, cadangan devisa yang menyusut, nilai tukar yang terdepresiasi tajam, dan inflasi yang menuju 8%. Mudah-mudahan ekonomi kita masih dapat bertumbuh 6% di tahun ini dan IHSG dapat segera kembali mendekati 5.000 pada akhir tahun.