: WIB    —   
indikator  I  

Memanfaatkan mood mister market

Memanfaatkan mood mister market
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Pernah membaca novel klasik “Dr. Jekyll and Mr. Hyde” karya Louis Stevenson? Dr. Jekyll dan Mr. Hyde adalah sama tetapi berbeda. Mr. Hyde adalah transformasi dari Dr. Jekyll setelah minum ramuan ciptaannya.  Dr. Jekyll adalah peneliti santun, ramah dan banyak teman. Sebaliknya, Mr. Hyde adalah pria misterius, kejam dan pembunuh. Ia merupakan ekspresi dari kepribadian tersembunyi Dr. Jekyll. Begitu populernya novel ini hingga istilah “Jekyll and Hyde” dipakai untuk merujuk orang yang karakternya berubah cepat.

Perubahan mood Dr. Jekyll menjadi Mr. Hyde ternyata mirip perilaku pelaku pasar saham yang disebut sebagai “Mr. Market” oleh Benjamin Graham. Sebuah contoh nyata yang dikemukakan oleh Jason Zweig, dalam komentarnya untuk Bab 8 buku “The Intelligent Investor” karya Graham, sangat pas untuk menggambarkan perilaku Mr. Market yang “manic-depressive”. Pada 17 Maret 2000, saham Inktomi Corp. menembus titik harga tertinggi pada US$ 231.625. Sejak melantai di bursa pada Juni 1998, saham perusahaan pembuat peranti lunak mesin pencarian di internet itu telah naik 1.900%.

Apa yang mendorong kenaikan harga saham setinggi langit ini? Jawabnya adalah pertumbuhan pendapatan yang sangat cepat. Selama kuartal IV/1999, pendapatan Inktomi adalah US$ 36 juta, melebihi pendapatan selama 1998. Jika Inktomi bisa mempertahankan tingkat pertumbuhan pendapatan ini untuk lima tahun ke depan, pendapatannya akan melonjak dari US$ 36 juta per tiga bulan menjadi US$ 5 miliar per bulan! Dengan harapan pertumbuhan seperti itu, pelaku pasar semakin bergairah mengoleksi saham ini hingga mereka tidak peduli harga yang dibayar kemungkinan besar sudah jauh di atas nilai Inktomi.

Seperti kata pepatah “cinta itu buta”, Mr. Market tidak bisa melihat kenyataan bahwa Inktomi masih merugi. Pada kuartal IV 1999, Inktomi mencatat kerugian US$ 6 juta. Bahkan sejak Inktomi didirikan, perusahaan ini belum pernah memberikan laba satu sen pun. Ajaibnya, pada 17 Maret 2000, Mr. Market menghargai perusahaan kecil ini sebesar US$ 17 miliar!

Kemudian Mr. Market mengalami depresi mendadak yang menakutkan. Mood-nya berubah. Pada 30 September 2002, hanya 2,5 tahun dari harga tertinggi US$ 231.625 per saham, harga saham Inktomi menyentuh titik nadir di US$ 0,25. Yes, hanya 25 sen per saham. Total nilai pasarnya terjun bebas dari US$ 25 miliar menjadi kurang dari US$ 40 juta.

Apakah bisnis Inktomi berubah drastis? Ternyata tidak. Lalu apa yang berubah? Hanya mood Mr. Market. Perlu diingat, pada awal 2000, pelaku pasar sangat antusias terhadap bisnis internet sehingga mereka berani menghargai saham Inktomi hingga 250 kali lipat dari pendapatan perusahaan.

Mr. Market membuat kesalahan pertama: membeli terlalu mahal. Dua setengah tahun kemudian, demam bisnis internet berlalu. Harga saham perusahaan dotcom meleleh. Mr. Market berubah dari Dr. Jekyll menjadi Mr. Hyde dan dengan kejam mencabik saham Inktomi.

Namun dalam kemarahannya, Mr. Market dalam bentuk Mr. Hyde telah membuat kesalahan kedua: menjual terlalu murah. Pada 23 Desember 2002, Yahoo! Inc. membeli saham Inktomi seharga US$ 1,65 per saham, atau 7 kali lipat harga saham Inktomi pada 30 September. Sejarah mencatat bahwa Yahoo! mendapatkan saham bagus pada harga yang amat murah.

Di Indonesia, saham batubara pernah jadi primadona investor pada 2007. Lalu lihat apa yang terjadi dengan saham BUMI pada 2008. Sejak tahun lalu, saham sektor properti dan konstruksi mendadak jadi primadona.

Investor sebaiknya cermat mengestimasi nilai sebelum membeli. Bisa saja kisah transformasi dari Dr. Jekyll menjadi Mr. Hyde terulang lagi. Beberapa minggu terakhir, Mr. Market di Bursa Efek Indonesia sedang berubah dari Dr. Jekyll menjadi Mr. Hyde. Setelah mencatat rekor demi rekor di 6 bulan pertama tahun ini, IHSG longsor dari titik tertinggi di level 5.200 ke level 4.300 hanya dalam waktu dua minggu. Tidak banyak perubahan pada fundamental perusahaan. Meskipun ada faktor kenaikan harga BBM, hal ini sudah diantisipasi sejak awal tahun.

Nasihat Warren Buffett kepada investor terkait Mr. Market sangat bermanfaat. Buffett bilang, investor seharusnya memanfaatkan Mr. Market yang gampang berubah mood, bukan sebaliknya mengikuti mood-nya. Benjamin Graham, guru Buffett, mengajarkan prinsip simpel: “Jangan pernah membeli saham segera setelah terjadi kenaikan harga saham secara nyata, atau menjual saham segera setelah terjadi penurunan nyata.”

Sedangkan Buffett memberi petuah sakti: “Beli saham saat pelaku pasar ketakutan (Mr. Market dalam bentuk Mr. Hyde), dan jual saham saat pelaku pasar terlalu berani (Mr. Market dalam bentuk Dr. Jekyll).                                      


Close [X]