Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mencicipi Batik Air

Mencicipi Batik Air
Pengamat Asia Tenggara

LION Air Group memiliki pesanan pesawat terbesar di dunia yang mencapai 700 unit, dan berencana untuk meningkatkannya menjadi 1.000 pesawat dalam dua tahun sampai tiga tahun ke depan. Grup yang beroperasi di Malaysia melalui Malindo Air ini sudah memiliki pengaruh di domestik dan juga di internasional dengan penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kuching dan Kota Kinabalu, serta rute yang akan datang ke New Delhi dan tujuan lain di Indonesia yang dimulai September nanti.

Pekan lalu, dalam perjalanan ke Ambon, saya mencoba konsep terbaru Rusdi Kirana yaitu layanan full service Batik Air. Kelas bisnis saya pilih karena saya kebetulan berada dalam perjalanan kerja. Memang benar bahwa maskapai Batik Air masih cukup baru, beroperasi sejak Mei 2013 ketika segmen biaya murah di pasar dalam negeri sudah hampir jenuh. Namun Batik Air melayani pasar yang sedang berkembang yakni Indonesia bagian timur.

Pada saat yang sama, maskapai ini menawarkan harga sangat tinggi, sebesar Rp 6 juta, untuk perjalanan satu arah untuk kelas bisnis dari Jakarta ke Ambon. Jika Anda membandingkannya , Garuda Airlines membanderol biaya Rp 7,529 juta untuk perjalanan yang sama. Berikut adalah pikiran saya yang lain.
Konsep dan logo Batik Air tidak perlu dipikirkan. Sudah jelas maskapai ini ingin menekankan ekslusivitas dan kualitas premium dari pengalaman penerbangan. Logo yang amatir melemahkan niat ini. Namun, waktu adalah uang. Pengusaha dan pejabat akan lebih memilih Batik Air dengan tiga jam non-stop penerbangan antara Ibukota Provinsi Maluku dan Jakarta daripada harus terbang melalui Makassar.
Keberangkatan tengah malam (pukul 00:30) dari Bandara Soekarno-Hatta juga berarti mereka dapat melakukan satu hari penuh pertemuan sebelum berangkat. Check in diprioritaskan dan penumpang seperti saya kemudian ditemani dari konter ke lounge. Namun, lounge-nya mengecewakan. Pada saat hari akan berganti, staf mengantuk dan tempatnya berantakan.

Staf Batik Air masih muda, cerah, tampan, dan membantu. Meninggalkan Anda di lounge, mereka memegang boarding pass, lalu mereka kembali secara personal untuk mengantar ke pesawat. Layanan ini mirip dengan apa yang Anda akan alami jika bepergian dengan jet pribadi.

Saya yakin, banyak orang kaya yang sering terbang akan menghargai layanan ini. Kompartemen kelas bisnis sangat elegan dengan warna krem lembut yang ramah dan skema warna coklat, serta kursi berbaring sepenuhnya berbahan kulit. Saya ditempatkan di barisan depan. Namun, hanya beberapa kursi yang terisi. Anehnya, lampu kabin tidak redup selama penerbangan malam saya dari Jakarta ke Ambon.

Para pramugari yang sangat cantik. Seragam mereka sangat feminim dan mereka terlihat seperti peranakan Chinese muda. Mereka masih kurang berpengalaman tapi semoga ini akan meningkat dari waktu ke waktu.
Layanan makanan tidak mengesankan. Baki ditata dengan baik, tapi makanan yang disediakan sebenarnya sangat biasa. Namun, saya menghargai gundukan buah yang pramugari berikan kepada saya setelah makan.
Sayangnya, dan tidak seperti kelas bisnis Garuda, kopi yang disajikan instan. Kopi adalah salah satu produk lokal Indonesia yang besar. Seharusnya, yang ada adalah Kopi Toraja dan Kopi Aceh.

Sistem hiburan sangat baik dan up-to-date. Pilihan film yang baik dari Reese Witherspoon, komedi This Means War sampai The Hobbit.

Kembalinya ke Bandara Soekarno-Hatta, saya dikawal turun dari pesawat dan seorang wanita muda menunggu sampai tas saya secara pribadi dibersihkan dan diantarkan ke saya.

Setelah mempertimbangkan semuanya: Batik Air ini adalah sebuah kesuksesan. Grup ini perlu meningkatkan layanan dan kualitas makanan, plus saya harapkan mereka mendesain ulang logo. Namun, hanya dengan empat pesawat 737-900, service yang diberikan sangat terbatas untuk saat ini.

Untungnya, saya kemudian mengerti bahwa mereka memiliki 31 pesawat lain yang sedang dipesan, termasuk Boeing 787-8s dan Airbus A320-200. Jika ada lebih banyak pesawat yang ditambahkan, Batik Air akan mampu memberikan persaingan nyata bagi Garuda sebagaimana para wisatawan yang sering bepergian beralih maskapai untuk mendapatkan perubahan. Meski begitu, penerbangan non-stop ke tujuan kunci Indonesia Timur adalah pemenang sejati.