: WIB    —   
indikator  I  

Minimasi risiko atau maksimasi gain?

Minimasi risiko atau maksimasi gain?
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Teori diversifikasi behavioral dan teori portofolio tiga momen (mean, varian, dan skewness) mempunyai kesamaan dalam memandang investor saham ritel. Menurut kedua teori ini, investor dengan sengaja memilih portofolio saham yang tidak terdiversifikasi untuk memperoleh skewness (kemencengan) positif, yaitu return besar walaupun dengan probabilitas kecil untuk memungkinkannya naik kelas secara ekonomi. Berdasarkan pemahaman ini, saya pun menyusun hipotesis pertama penelitian saya bahwa jumlah saham yang dipegang seorang investor berhubungan negatif dengan skewness portofolionya.

Hasil pengujian sekitar 500 data investor ritel dari dua perusahaan sekuritas mendukung dugaan saya ini. Rata-rata skewness portofolio diversifikasi minim (memegang lima saham atau kurang) adalah lebih besar daripada portofolio yang terdiversifikasi ekstensif dengan belasan saham, yaitu 0,52 berbanding -0,28. Sementara, portofolio yang terdiversifikasi moderat dengan 6 saham-10 saham mempunyai skewness 0,11.

Untuk hipotesis kedua, ada dua pandangan berbeda mengenai hubungan antara kepemilikan deposito dan ORI dengan praktik tidak diversifikasi. Di satu sisi, ada kelompok investor yang diduga memperlakukan deposito dan ORI-nya sebagai lapisan terbawah dalam piramida portofolionya untuk proteksi diri dari kemungkinan kerugian besar seperti yang dinyatakan Shefrin dan Statman (2000).

Kelompok ini akan memandang portofolio sahamnya sebagai lapisan atas untuk mewujudkan aspirasinya sehingga cenderung untuk tidak melakukan diversifikasi. Di sisi lain, para investor saham yang memiliki deposito dapat dipandang sebagai investor yang konservatif dalam keputusan investasinya. Mereka diduga akan konservatif juga untuk portofolio sahamnya, yaitu dengan melakukan diversifikasi.

Faktor lain investor ritel tidak melakukan diversifikasi adalah mereka mungkin saja sudah memiliki reksadana berisiko, seperti reksadana saham atau reksadana campuran sebagai substitusi portofolio saham yang terdiversifikasi. Setelah diuji, ternyata tingkatan diversifikasi dan jumlah saham dalam portofolio tidak berhubungan dengan kepemilikan deposito atau ORI maupun reksadana saham/campuran.

Hipotesis keempat yang juga saya uji adalah pengaruh tingkat kecanggihan investor ritel terhadap jumlah saham dalam portofolio. Apakah investor ritel yang canggih, yang ditandai dengan penggunaan fasilitas margin dalam bertransaksi saham, cenderung untuk melakukan diversifikasi, seperti penelitian Goetzmann dan Kumar (2008) atau justru tidak melakukan diversifikasi, sesuai prediksi teori portofolio behavioral dan teori portofolio tiga momen? Hasil pengujian menunjukkan kecanggihan investor ritel tidak berpengaruh terhadap jumlah saham dalam portofolio atau terhadap tingkatan diversifikasi jika diversifikasi dikelompokkan dalam tiga tingkatan yaitu minim, moderat, dan ekstensif.

Namun, jika kelompok diversifikasi moderat dihilangkan sehingga hanya tingkatan diversifikasi minim dan diversifikasi ekstensif yang dibandingkan, tingkat kecanggihan menjadi berhubungan lurus dengan praktik diversifikasi. Ini berarti, semakin canggih seorang investor semakin besar kecenderungannya untuk melakukan diversifikasi. Hasil ini sesuai dengan temuan penelitian Goetzmann dan Kumar (2008) yang menggunakan proksi bertransaksi dalam opsi dan short sale untuk investor canggih.

Untuk hipotesis terakhir, yaitu apakah bias overconfidence mempengaruhi praktik tidak diversifikasi juga tidak terbukti dalam penelitian ini. Bias overconfidence terjadi jika seorang investor dalam kelompok 20% teratas dalam perputaran portofolio ternyata berada pada 20% terbawah dalam kinerja portofolionya.

Tidak signifikannya variabel ini mungkin saja disebabkan pengukuran di atas, yang diambil dari riset sebelumnya (Bailey et al, 2011 dan Goetzmann & Kumar, 2008), kurang tepat untuk konteks Indonesia.

Kesimpulan dari dua model pertama penelitian saya yang menguji pengaruh kelima variabel di atas terhadap tingkatan diversifikasi dan jumlah saham dalam portofolio, skewness merupakan satu-satunya faktor yang konsisten signifikan menjelaskan praktik diversifikasi saham oleh investor ritel domestik di BEI. Investor ritel tidak diversifikasi karena mengejar skewness return positif untuk portofolionya. 

Dengan tidak diversifikasi, mereka berharap dapat memperoleh return besar walaupun dengan probabilitas kecil. Untuk tujuan itu, mereka bersedia kompromi dengan tingginya risiko.

Masih ada model tiga yang akan membandingkan kinerja portofolio terdiversifikasi minim, moderat, dan ekstensif dari 1.000 investor ritel domestik yang diambil secara acak dari KSEI selama periode 3 tahun (2009-2011). Saya akan membahas pada kesempatan berikutnya. 


Close [X]