Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mengelola risiko usaha

Mengelola risiko usaha
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Risiko merupakan fluktuasi yang terjadi karena adanya ketidakpastian di masa depan. Jika kita ditanya, apakah besok pagi jam 08.00 di Cilandak akan terjadi hujan? Jawabannya, mungkin hujan dan mungkin tidak hujan. Fluktuasi dari jawaban tersebut menunjukkan adanya risiko.

Sebaliknya, keadaan di masa lampau tidak berisiko. Jika kita ditanya, apakah jam 08.00 pagi kemarin di daerah Serpong terjadi hujan? Jawabannya salah satu: pasti hujan atau pasti tidak hujan. Walaupun keadaannya pasti, kita mungkin tidak memiliki informasi akurat tentang hal tersebut.

Keterkaitan antara risiko dengan tingkat laba ternyata tidak semudah yang diperkirakan. Ada yang mengatakan bahwa semakin tinggi risiko maka tingkat labanya akan naik. Ada juga yang mengatakan kebalikannya, yaitu semakin tinggi risiko, tingkat labanya akan turun.

Ternyata, kedua pendapat tersebut ada benarnya. Saat seseorang memilih suatu investasi, berlaku hubungan yang positif. Yaitu, semakin tinggi risiko yang dihadapi, investor akan meminta tingkat laba yang lebih besar.

Tetapi, pada saat seseorang menjalankan suatu usaha berlaku hubungan yang negatif. Yaitu, semakin rendah risiko usaha, semakin besar tingkat laba yang diperoleh. Karena itu, perusahaan selalu berusaha mengurangi risiko usaha agar tingkat laba yang diperoleh meningkat.

Untuk menangani risiko usaha, semua karyawan perusahaan dari manajemen puncak sampai level terbawah perlu mengidentifikasi semua risiko usaha yang ada dalam lingkup kerjanya masing-masing. Jika ada risiko yang luput diidentifikasi, perusahaan otomatis menerima risiko tanpa ada upaya untuk mengurangi risiko tersebut.

Kemudian risiko-risiko usaha diukur dengan cara yang mudah dimengerti oleh seluruh karyawan perusahaan. Cara yang paling mudah dan biasa digunakan adalah mengukur tingkat kegawatan dan tingkat kemungkinan jika risiko usaha terjadi.

Kondisi saat ini dari risiko usaha digambarkan dalam matriks tingkat kegawatan dan tingkat kemungkinan. Perusahaan umumnya menggunakan matriks 5*5, yang terdiri dari lima kolom untuk tingkat kegawatan (sangat rendah, rendah, sedang, tinggi,  sangat tinggi) dan lima kolom untuk tingkat kemungkinan (sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, sangat tinggi).

Perusahaan lalu menentukan sasaran dari pengelolaan risiko untuk satu tahun ke depan dengan menggunakan matriks yang serupa. Lalu, perusahaan berupaya mencari cara terbaik mengurangi risiko usaha agar sasaran risiko usaha yang sudah ditentukan dapat tercapai dengan biaya serendah mungkin.

Setelah pengelolaan risiko usaha berjalan setahun, hasil yang dicapai dibandingkan dengan sasaran yang sudah ditentukan. Jika sasaran tidak tercapai, cara-cara perbaikan pengelolaan risiko perlu dilakukan.


Pemindahan risiko

Ada berbagai cara yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko usaha. Salah satu cara yang banyak dipakai untuk mengurangi risiko ialah asuransi. Saat perusahaan membeli asuransi, risiko usaha dipindahkan ke perusahaan asuransi dengan membayar premi. Asuransi memiliki beberapa kelemahan yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, tidak semua risiko dapat diasuransikan. Asuransi hanya cocok untuk mengurangi risiko usaha yang tingkat kerugian yang ditimbulkan tinggi dan tingkat kemungkinan terjadinya kecil. Berarti hanya sebagian kecil dari risiko usaha yang dapat diasuransikan.

Kedua, asuransi dapat menimbulkan keadaan ketika karyawan menjadi teledor karena karyawan tahu bahwa jika ada kerugian maka perusahaan asuransi akan menanggung kerugian tersebut. Walaupun kerugiannya diganti, kejadian yang berisiko tersebut dapat mengganggu operasional perusahaan.

Ketiga, jika kita membeli asuransi, perusahaan perlu membayar premi, sedangkan masih ada banyak cara lain untuk mengurangi risiko usaha dengan biaya lebih murah.

Selain asuransi, ada banyak cara lain yang dapat digunakan untuk menangani risiko usaha. Pencegahan risiko merupakan upaya untuk mengurangi tingkat kemungkinan risiko usaha, misalnya penggunaan bahan sulit terbakar mengurangi kemungkinan risiko kebakaran. Pengurangan risiko merupakan upaya mengurangi besar kerugian, misalnya pintu darurat di pusat belanja sehingga pengunjung dapat keluar gedung jika ada kebakaran.

Pemindahan risiko merupakan upaya untuk mengurangi risiko dengan cara memindahkannya ke pihak lain, misalnya di karcis parkir tercantum kalimat “Semua kehilangan barang merupakan tanggung jawab pemilik kendaraan”. Pemisahan risiko merupakan upaya mengurangi risiko dengan cara menyebar aset perusahaan. Misalnya, bahan yang mudah terbakar disebar ke tangki-tangki yang lebih kecil dan berjauhan agar jika terjadi kebakaran tidak semua bahan yang mudah terbakar tersebut musnah.

Manajemen kontingensi merupakan upaya sistematis untuk mengurangi risiko jika terjadi suatu kerugian yang sangat besar. Misalnya, rencana darurat yang sistematis menghadapi gempa bumi besar di pembangkit tenaga listrik. Penerimaan risiko ialah upaya untuk menerima risiko usaha, setelah mempelajari bahwa upaya pengelolaan risiko yang lain tidak ada yang cocok atau mahal.

Perusahaan perlu mengidentifikasi semua risiko usaha secara lengkap. Risiko usaha yang luput diidentifikasi dapat membuat operasional perusahaan terganggu. Perusahaan tidak boleh hanya menggunakan asuransi sebagai satu-satunya cara menangani risiko usaha.

Ada banyak cara lain yang bisa digunakan untuk mengurangi risiko usaha. Perusahaan harus secara kreatif mengombinasikan upaya penanganan risiko usaha tersebut agar dapat mencapai sasaran risiko usaha yang telah ditentukan dengan biaya yang serendah mungkin.                                 

nugrohos@pmbs.ac.id