Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Siap untung, siaga buntung

Siap untung, siaga buntung
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Setelah naik selama 5 bulan pertama di awal tahun ini sehingga menembus 5.200 dengan return di atas 20%, IHSG akhirnya jatuh terperosok. Mungkin hanya satu dari seribu analis, jika ada, yang pada awal tahun ini memprediksi, IHSG bisa ambruk sampai 3.800-an sebelum ditutup 4.195, akhir pekan lalu. Saya sendiri konsisten memprediksi dan percaya indeks akan menuju 5.000 sesuai dengan besarnya angka pertumbuhan nominal perekonomian kita, meski IHSG di bulan Mei sudah jauh di atas target itu. What goes up must come down.

Dengan kinerja indeks seperti ini, apakah seorang investor saham masih bisa meraup return positif dari portofolio sahamnya dalam beberapa tahun terakhir? Jawabannya tergantung kapan investasi saham itu dimulai. Untuk itu, marilah kita menghitung ulang return tahunan geometrik dari portofolio saham yang dibentuk tahun-tahun lalu.

Untuk menyederhanakan, saya mengasumsikan Anda adalah investor saham langsung dengan strategi buy and hold, dan bukan melalui reksadana saham atau lainnya. Beta portofolio saham diasumsikan sekitar satu dan Anda menyusun portofolio hanya pada saat pertama kali masuk dan kemudian memegang semua saham dalam portofolio itu hingga hari ini.  

Sebelumnya, saya akan jelaskan perlunya asumsi-asumsi di atas. Return tahunan geometrik adalah return rata-rata dalam setahun atau per annum dengan menggunakan konsep bunga majemuk dan bukan total selama periode investasi dan bukan berdasarkan konsep bunga sederhana. Dibandingkan return aritmetik, return geometrik sedikit konservatif atau lebih rendah.

Asumsi buy & hold dan hanya melakukan investasi sekali saja di awal diperlukan untuk memudahkan perhitungan. Jika asumsi ini tidak ada, penghitungan akan menjadi sedikit lebih rumit karena kita akan mempunyai ukuran return yang ketiga yaitu return tertimbang berdasarkan uang karena besar uang yang investasikan berubah-ubah akibat penambahan atau penarikan dana.

Asumsi investasi dilakukan secara langsung diperlukan untuk memastikan investor juga memperoleh dividen tunai selain capital gain. Besar dividen tunai atau yield dividen tahunan rata-rata ini untuk saham-saham LQ-45 adalah sekitar 2%. Sementara besarnya capital gain (loss) dicerminkan oleh kenaikan (penurunan) IHSG.

Terakhir, asumsi beta portofolio adalah satu, yang akan terjadi jika investor melakukan diversifikasi atau mengoleksi belasan hingga puluhan saham, perlu dituliskan karena beta sebesar itulah yang akan membuat nilai portofolio bergerak persis mengikuti pasar (IHSG).

Jika Anda mulai berinvestasi pada akhir 2008 atau awal 2009 saat IHSG masih bercokol di angka 1.350, Anda boleh menyesal tetapi mestinya tidak perlu terlalu bersedih dengan penurunan IHSG sebesar belasan persen dari awal tahun hingga akhir minggu lalu. Return tahunan Anda masih positif dua digit. Dari capital gain, Anda masih memperoleh sekitar 25%. Ditambah dengan dividen tunai sekitar 2%, total return tahunan Anda menjadi minimal 27%. Lumayan bukan?

Jika Anda memulai investasi saham pada akhir 2009 atau awal tahun 2010 saat IHSG berputar-putar di kisaran 2.600-an, capital gain portofolio Anda masih positif belasan persen. Memperhitungkan dividen tunai, return tahunan Anda mendekati 15%. Return sebesar ini tentunya jauh lebih baik dibandingkan alternatif tabungan, deposito di bank dan ORI.

Selanjutnya, jika Anda menjadi investor saham di akhir 2010 ketika IHSG berada di angka 3.500, capital gain portofolio Anda hanya sekitar 6,2% dan total return tahunan adalah 8,2%, tidak berbeda jauh dengan return deposito dan obligasi ritel.

Keadaan juga masih menyenangkan meskipun Anda baru memutuskan membeli saham langsung pada awal tahun 2012 saat indeks bergerak datar (sideways) di 3.900-an. Anda masih mengalami kenaikan portofolio, walaupun relatif kecil. Memasukkan dividen tunai, investasi saham Anda hanya sekitar bunga deposito.

Terakhir, Anda paling tidak beruntung jika Anda belum genap setahun menjadi investor saham. Secara rata-rata, Anda buntung sebesar 3%. Lebih menyedihkan lagi jika Anda membentuk portofolio saham ketika IHSG sedang menuju rekor tertingginya sepanjang sejarah di bulan Mei lalu. Dalam kondisi paling tidak diharapkan ini, total kerugian Anda bisa mencapai 15%-20%, seiring dengan penurunan indeks dari angka tertingginya.

Lesson learned, investor saham harus siap dan siaga, tidak saja untuk untung besar, tetapi juga rugi dalam. Untuk itu, pastikan dana dalam portofolio saham Anda memang tidak akan digunakan dalam jangka pendek, katakan 1-2 tahun ke depan.

Secara empiris, pemindahan dana dari emerging market ke negara-negara maju, seperti yang terjadi sekarang ini hanya terjadi sekali dalam satu dekade. Pada waktunya, investor asing akan kembali memburu produk keuangan di negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang menjanjikan yield jauh lebih menggiurkan daripada AS, Jepang, dan Eropa.

Kita semua pun menantikan masuk dan baliknya dana miliaran dolar yang saat ini hengkang dari pasar modal kita.