Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

S&P and The Deathly Downgrade

S&P and The Deathly Downgrade
Chairman, Department of Finance Prasetiya Mulya Business School

Film pamungkas Harry Potter, “The Deathly Hallows- Part 2”, punya saingan berat. Selama seminggu terakhir drama di bursa saham berhasil memanas-dinginkan bumi.

Drama yang bisa diberi judul “The Deathly Downgrade” itu berawal dari kekhawatiran terhadap penurunan peringkat utang Amerika Serikat (AS) dari AAA menjadi AA. Yang memainkan peran protagonis di drama ini adalah lembaga pemeringkat terkenal seperti Moody, Fitch dan Standard & Poor (S&P).

Ketegangan dimulai ketika Kongres AS belum mengizinkan pemerintahan Barack Obama untuk menambah utang USD 2,1 triliun dengan syarat mengurangi utang USD 2,5 triliun selama 10 tahun mendatang. Tanpa itu, Pemerintah AS akan mengalami gagal bayar dan penurunan rating utang. Akibatnya, Indeks Dow Jones (IDJ) merosot selama delapan hari berturut-turut.

Akhirnya, kongres memberi lampu hijau dan Moody serta Fitch mempertahankan rating kredit AS. Drama berakhir? Tak semudah itu. Pada 5 Agustus 2011, S&P tampil beda dengan menurunkan peringkat utang AS menjadi AA. Ini penurunan pertama sejak 1941.

Reaksi investor di pasar saham adalah kepanikan. IDJ turun 5,5% pada Senin 8 Agustus 2011. Setelah itu IDJ selama 3 hari berikutnya menunjukkan chaos: naik 3,9%, turun 4,6% dan naik lagi 3,9%. IDJ baru anteng, akhir pekan lalu, dengan naik 1% pada Jumat silam.

Janji Fed mempertahankan bunga rendah serta prospek utang Eropa disikapi pasar secara berlebihan. Bursa saham kita tidak lepas dari kehebohan di AS. IHSG terpangkas 15% dalam waktu seminggu, sebelum balik ke level 3.900.

Apa hikmah yang bisa dipetik dari drama itu? Pertama, investor global, terutama di AS, masih trauma dengan krisis finansial 2008. Saat itu, harga saham di bursa AS serta IHSG anjlok lebih dari 50% selama 18 bulan.

Dengan kondisi seperti ini, bursa saham global diperkirakan masih akan mengalami beberapa gempa akibat reaksi berlebihan terhadap sentimen ekonomi global. Misalnya, kekhawatiran bahwa krisis utang Eropa akan menimbulkan kerugian besar pada bank-bank Eropa yang meminjami negara-negara PIIGS (Portugal, Ireland, Italy, Greece, Spain).

Tingkat pengangguran AS diperkirakan masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi melambat. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS akan masuk kembali ke jurang resesi.

Kedua, bagi investor saham berwawasan jangka panjang, sekali lagi diingatkan bahwa investasi saham membutuhkan nyali yang kuat.

Seperti kata Peter Lynch, fund manager legendaris, “Key organ for investing is the stomach, not the brain.” Artinya investor harus bisa menahan rasa mual ketika ombak mengayun kapal.

Benar pula pandangan Charles Brandes, pakar value investing. “Jika Anda tidak tahan melihat penurunan harga hingga 20%, jangan berinvestasi pada saham.” Bagi yang mudah stress karena roller coaster harga saham, sebaiknya menjauh dari saham, mengingat kesehatan jauh lebih berharga.

Tidak sedikit investor jangka panjang yang ikut menjual saham dengan panik. Mereka berpikir untuk beli kembali pada harga lebih rendah dan mulai rebound. Namun menentukan titik tersebut sungguh tidak mudah. Apalagi di saat pasar begitu bergejolak, analisis teknikal pun tak banyak membantu.

Yang banyak terjadi adalah ketika harga sudah rendah,  investor tetap tidak berani masuk karena mengira harga masih akan turun. Demikian pula ketika harga mulai memantul, mereka masih khawatir bahwa ini sinyal palsu. Akhirnya, investor menderita kerugian karena kehilangan momentum pemulihan harga saham yang cepat.

Advis sederhana bagi investor jangka panjang saat terjadi kepanikan adalah jangan panik dan tetap memegang erat saham. “Secara jangka panjang investasi saham tetap akan memberikan hasil yang bagus”, kata Robert Shiller, ekonom Yale yang tepat meramalkan gelembung saham IT dan perumahan.

Ia juga menyarankan agar investor AS tetap masuk ke saham secara perlahan dan selektif (modestly).  Bursa saham memang tidak mudah crash. Tercatat dari 12 bearish market di AS sejak The Great Depression-1929, hanya tiga yang mengalami penurunan harga lebih dari 40%.

Bagi investor jangka panjang, menjual saham hanya dilakukan jika saham sudah mencapai target keuntungan, investor membutuhkan dana atau jika asumsi saat membeli sudah tidak terpenuhi. Misalnya, perusahaan tidak bertumbuh seperti yang diharapkan atau harga saham dianggap sudah terlalu mahal.

Menjual saham karena panik sungguh tidak bijaksana, kecuali itu dilakukan demi alasan kesehatan. Sebaliknya, jika rajin menganalisis, investor akan menemukan saham dengan price to earning ratio (PER) rendah yang layak dikoleksi.