: WIB    —   
indikator  I  

Di tengah kegalauan bursa

Di tengah kegalauan bursa
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Jika Anda ketakutan membayangkan kerugian sebesar 20% dari investasi di bursa saham, sebaiknya jangan bermain saham. Begitu kata John Bogle, seorang investor saham legendaris

Nasehat John Bogle tersebut mengingatkan bahwa investasi pada saham bukan untuk semua orang. Ia hanya cocok untuk orang yang memiliki saraf baja yang tahan melihat turunnya harga saham secara tajam. Harga saham mengalami koreksi tajam selama sebulan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 20%. Saham di beberapa sektor bahkan turun lebih dalam.

Coba lihat sektor properti dan konstruksi yang sempat menjadi primadona para investor di semester pertama 2013. Saham PT Alam Sutera Realty Tbk yang terjun dari titik harga tertinggi Rp 1.160 per saham ke Rp 460 per saham. Saham PT Wijaya Karya Tbk  menyelam dari titik Rp 2.750 ke Rp 1.460.

Kondisi ini mengingatkan penulis dengan kondisi di BEI tahun 2011, saat bursa saham dunia digoyang krisis utang negara-negara Eropa. Saat itu, IHSG turun tajam dari level 4.100 di Juli 2011 ke level 3.200 di Oktober 2011. Kepanikan terjadi dan para pelaku pasar mulai ketakutan membayangkan krisis 2008 bakal terulang.

Sebuah email bernada galau masuk ke mailbox penulis. "Saya ingin bertanya, apakah IHSG bisa pulih kembali dalam waktu dekat? Mengingat krisis di Eropa dan Amerika yang cukup serius. Saya investor di Bursa Efek Indonesia dengan posisi nyangkut dan tidak melakukan cut loss," demikian isi email tersebut. Penulis yakin si pengirim email sudah sampai pada titik ingin menjual rugi saham-sahamnya.

Penulis lalu membalas bahwa IHSG pasti bisa pulih, namun jujur penulis tidak tahu kapan hal tersebut terjadi. Penulis juga menyarankan agar ia tidak menjual sahamnya tanpa perhitungan matang.

Yang kemudian terjadi, IHSG kembali ke level 4.100 enam bulan kemudian. Seperti kita ketahui, pada Juli 2013, IHSG membuat rekor di 5.251. Artinya, memegang erat saham saat harga turun tajam bukan sebuah ide yang buruk. Investor yang sabar terhindar dari kerugian nyata, dan bahkan bisa merealisasi profit saat bursa pulih.

Sebulan terakhir, email senada bermunculan di mailbox saya, dari investor yang sahamnya turun di bawah harga beli alias nyangkut. Pada kondisi seperti ini investor yang memegang saham dihadapkan dengan pilihan sulit: jual rugi alias cut loss atau membiarkan uangnya nyangkut?

Penulis selalu menyarankan agar investor tidak mengambil keputusan secara panik. Saat IHSG turun 326 poin (9%) dalam sehari (22 September 2011), atau 255 poin (5,6%) dalam sehari (19 Agustus 2013), kalau mau berpikir rasional, apakah penurunan sebesar itu pantas?

Jika trader saham, jawabnya lebih mudah karena seorang trader saham harus disiplin dalam cut loss maupun profit taking. Misalnya, saat saham sudah turun sebesar persentase tertentu, segera jual. Dengan demikian, trader tidak mengalami kerugian lebih parah dan terpaksa jadi anggota "The Nyangkutters" jika harga semakin turun.

Namun tidak semudah itu bagi investor. Keputusan cut loss sebaiknya dilandasi pada pertimbangan apakah asumsi saat kita membeli saham masih berlaku?

Jika asumsi membeli sudah tidak berlaku maka cut loss bisa menjadi keputusan bijak. Namun jika Anda yakin bahwa fundamental saham yang dipegang masih bagus, dan koreksi harga sudah berlebihan akibat kepanikan pasar, sebaiknya tidak melakukan cut loss. Itu sebabnya, seorang investor saham harus mengenal fundamental saham yang dibelinya dengan baik.

Mengutip nasihat Lo Kheng Hong, investor saham yang sukses, "Jika Anda yakin bahwa saham yang Anda beli bagus, mengapa harus menjualnya pada saat harga jatuh, dan menanggung kerugian lagi". Lo Kheng Hong bahkan menyarankan untuk membeli saham-saham bagus pada saat harganya jatuh.

Bayangkan, saham PT Bank Mandiri Tbk yang sempat menyentuh Rp 10.750, sekarang bisa dibeli dengan harga Rp 6.600 per saham, sama dengan harga satu tahun silam. Atau saham PT Semen Indonesia Tbk  yang sempat dihargai Rp 18.800  per saham sekarang bisa dimiliki dengan membayar Rp 12.400 per saham, sama dengan harga setahun lalu.

Penulis teringat mantra Sir John Templeton, investor saham legendaris, "The time of maximum pessimism is the best time to buy, and the time of maximum optimism is the best time to sell". Jelas tidak mudah mencari titik maksimum maupun minimum tersebut. Namun jika kita masuk ke bursa saat pesimisme merebak seperti sekarang, probabilitas sukses menjadi lebih besar dibanding masuk saat IHSG sedang sibuk memecahkan rekor tertinggi.

Menyandang predikat investor saham saat bursa sedang galau memang tidak mudah. Ibaratnya, maju bisa kena, mundur juga kena. Terus memegang saham, ternyata harga makin turun. Melakukan cut loss, eh, ternyata harga kemudian rebound. Nasihat buat investor, "Teliti sebelum melakukan cut loss, dan teliti sebelum membeli saham yang dianggap sudah murah". Semoga bearish cepat berlalu!   


Close [X]