Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Krisis Keuangan India

Krisis Keuangan India
Pengamat Asia Tenggara

INDIA sedang dalam pemberitaan. Itu untuk semua alasan yang salah. Dengan jatuhnya mata uang rupee, ledakan defisit rekening berjalan, dan krisis utang perusahaan, penantang strategi China itu tampaknya akan menyeret seluruh Asia Pasifik menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Setelah beberapa tahun mengalami pertumbuhan PDB yang cepat, India berhenti tumbuh. Pertumbuhan di tahun 2012 sebesar 6,3%. Tahun ini, India sudah beruntung jika dapat mencapai di atas 3%. Untuk sebuah bangsa yang punya kebanggaan dengan ekonomi US$ 4.684 triliun, memiliki bom nuklir dan perlengkapan angkatan laut yang dilengkapi dengan kapal induk dan kapal selam, ini adalah kerugian besar dan sebuah peluang. India mungkin akan tercatat dalam sejarah ekonomi kontemporer sebagai pemicu krisis keuangan 2013, seperti Korea Selatan dan Thailand sebagai pelopor pada krisis tahun 1998.

Jadi apa yang salah di India? Bukankah anak benua raksasa seharusnya menjadi sebuah kisah sukses suatu perkembangan besar? Menurut dua ekonom dunia, Jean Dreze, dan pemenang Hadiah Nobel Amartya Sen yang baru saja menerbitkan buku An Uncertain Glory: India and its Contradictions awal tahun ini, India telah membiarkan sektor publik, khususnya kesehatan dan pendidikan, menjadi layu. Kegagalan dari pemerintahan dan pengaturan ini diperparah dengan kejahatan yang sangat mengakar pada kompleksitas masyarakat berkasta. Dan dengan pemilu yang dijadwalkan tahun depan (dilaksanakan hampir berbarengan dengan pemilu legislatif di Indonesia), terdapat sedikit keraguan bahwa kesalahan administrasi Kongres di bawah pimpinan Manmohan Singh sekali lagi akan mengakibatkan kegagalan dalam mengatasi birokrasi paling tidak efisien dan korup di dunia. Jadi, dengan keadaan bahaya yang datang secara cepat, akan bijaksana mengakui bahwa India tidak akan tiba-tiba pulih.

Untuk bersikap adil, track record India telah menjadi terkenal jika kalian berada di kelas menengah dan atas. Peluang telah berlimpah, meskipun ada kesalahan infrastruktur yang aneh, seperti pemadaman listrik di seluruh India Utara pada Juli 2012 (pada puncak musim panas).

Namun, bagi mereka yang berada kelas sosial bawah, kehidupan sudah kurang memikat. Ambil contoh, sedikitnya pengeluaran pemerintah India untuk kesehatan hanya 1,2% dari total PDB, China 2,7%, dan Amerika Latin 3,8%. Dikonversi menjadi pengeluaran mutlak, India telah menghabiskan US$ 39 per kapita, sementara China telah menghabiskan US$ 203 per kapita. Untuk menempatkan sesuatu menjadi perspektif, Indonesia menghabiskan 2,7% dari PDB dan US$ 100 per kapita untuk kesehatan.

Dapat dimaklumi, India telah menuai panen yang pahit dari investasi yang mengejutkan ini. Indeks kualitas hidup negara itu lebih rendah jika dibandingkan dengan tetangganya Bangladesh, meskipun Bangladesh memiliki PDB per kapita sebesar US$ 747, kalah jauh dibandingkan dengan India yang US$ 3.557.

India adalah bangsa yang besar dan memiliki beraneka perbedaan di utara dan barat (seburuk bagian Sahara Afrika), serta selatan yang umumnya baik. Jika menganut salah satu formulasi Sen dan Dreze, kesalahan pokok India adalah kesalahan pemerintah dengan uang rakyat yang dihabiskan untuk korupsi subsidi pupuk ketimbang mengembangkan kesehatan dan pendidikan.

Kita tidak dapat meremehkan biaya pengabaian untuk berinvestasi pada masyarakat ini: bukan hanya karena kejahatan yang lebih tinggi dan kemelaratan, tetapi juga dalam hal kesempatan yang hilang melalui modal manusia yang lebih baik. Sebab, hasil dari investasi yang mengerikan pada masyarakat sendiri, "ledakan demografi" India mungkin berharga sebagai pertumbuhan kaum muda yang tidak akan cukup terdidik dari sekitar 430 juta populasi.

Apa yang dapat Indonesia pelajari? Seperti India, Indonesia juga sebuah demokrasi besar dengan populasi kaum muda yang sedang berkembang. Tetapi, Indonesia juga berisiko gagal untuk berinvestasi pada masyarakatnya. Baru-baru ini, Index Pemerintahan Indonesia 2012 dengan Kemitraan NGO mengungkapkan, tak satupun dari 33 provinsi di Indonesia menghabiskan 20% target anggaran pendidikan.

Kita tidak tahu, ini pengeluaran yang efisien atau efektif. Pembuat kebijakan di Indonesia harus lebih berani di masa yang akan datang. Kegagalan untuk bertindak tegas akan menghukum republik ini menjadi raksasa frustasi lainnya seperti India.