: WIB    —   
indikator  I  

Temporary advantage

Temporary advantage
Center for Human Capital Prasetiya Mulya Business School

Sinyal awal terhadap suatu  perubahan besar acap  diabaikan karena denyutnya yang lemah. Kita lebih sering menihilkan hal itu dengan cara menampik kehadirannya atau mengabaikan pengaruh pentingnya.

Ketika berbincang dengan beberapa pemimpin bisnis pada sebuah seminar baru-baru ini,  tersirat adanya tanda-tanda pergeseran lingkungan bisnis yang tampaknya biasa saja. Adalah hal yang jamak para pebisnis menghadapi banyak persoalan. Namun, situasinya menjadi berbeda jika penyelesaian persoalan ini malah menimbulkan persoalan lain yang tidak pernah tuntas.

Selain kerumitannya yang meningkat,  persoalan seperti ini  timbul karena terkait erat dengan beragam sumber penyebab. Barangkali, bisa disejajarkan dengan benang kusut yang sulit diluruskan.  

Kekusutan ini diperparah dengan melemahnya keunggulan bersaing  yang pernah mereka miliki. Hal ini sangat terasa dalam percakapan santai dengan segelintir pebisnis lain pada suatu pertemuan makan siang.

Keunggulan bersaing yang dibangun dan dijaga selama ini, sering tidak mampu lagi menjadikan perusahaan mereka sebagai pemimpin pasar. Pelanggan tidak lagi menyambut gembira produk yang ditawarkan, pertumbuhan jauh dari harapan, bahkan harga saham mulai turun perlahan-lahan. Memang tidak drastis dan mengejutkan, tetapi cukup  alasan untuk mengerutkan kening kita.

Adakah ini suatu gejala awal yang menandai perlunya pendekatan berbeda dari sebelumnya? Ataukah ini hanya hal sementara yang akan teratasi dengan mengandalkan kompetensi yang selama ini telah teruji baik? Meyakini hal yang pertama berarti menghadapi risiko ketidakpastian atas tindakan yang terlalu dini. Sebaliknya, menerima yang kedua, bisa menyebabkan pebisnis terjebak pada kelalaian bertindak sigap.

Menghindari jebakan

Professor Camillus, seorang pakar strategi dari Katz Graduate School of Business, mengingatkan bahwa semakin banyak persoalan bisnis seperti di atas yang akan dihadapi pemimpin bisnis. Persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengumpulkan lebih banyak informasi atau sekadar memilah persoalan itu menjadi bagian lebih kecil. Persoalan itu tidak terhindarkan kemunculannya karena bersumber pada perubahan yang cepat, akar penyebab yang saling terkait dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

Ketika perusahaan bertumbuh cepat di arena persaingan yang tidak hanya terbatas pada industrinya, tingkat kerancuan persoalan meningkat. Menghadapi hal tersebut, keunggulan perusahaan saat kini bisa tumpul dan kehilangan daya saingnya.

Peta persaingan yang dikenal selama ini dapat berubah karena konvergensi industri yang mengaburkan batas-batas antar-industri. Konsekuensinya, arena persaingan menjadi lebih luas, dan pemain di industri tetangga bisa menjadi pesaing utama.

Industri telekomunikasi misalnya, tidak lagi memiliki batas yang tegas dengan industri teknologi informasi dan komputer. Produsen telepon genggam tidak hanya bersaing dengan produsen telepon genggam lainnya, tetapi juga perlu memperhitungkan kegesitan produsen komputer yang merambah lini ini. Hal yang sama bisa pula terjadi sebaliknya.

Dalam perubahan seperti ini, berkonsentrasi pada upaya mempertahankan posisi unik dalam industri untuk jangka waktu yang lama bisa jadi sulit diwujudkan. Perusahaan dituntut mengembangkan keunggulan baru dari waktu ke waktu. Argumen yang disampaikan Professor McGrath dari Columbia Business School ini sangat relevan dengan lingkungan bisnis yang turbulen. Pandangannya mulai menggeser pemikiran dominan yang selama ini diyakini sebagai pendekatan jitu dalam strategi bersaing.

Jika begitu kenyataannya, perusahaan perlu memahami lingkungan eksternalnya secara benar, sehingga mengenal baik gejolak arena persaingannya. Di samping itu, perusahaan harus memahami internal kesejatiannya secara bening yang menyangkut tata nilai, harapan, dan kompetensi. Kebeningan ini akan membantu dalam membangun dan mempertahankan keunggulan bersaing terbarukan.

Pada akhirnya, kegesitan perusahaan dalam menyesuaikan diri dengan dinamika persaingan yang bergerak cepat akan menjadikan keunggulan tersebut senantiasa relevan. Bagi para pemangku kepentingan, ini adalah  bukti bahwa perusahaan bertumbuh karena mereka terus membangun keunggulan yang sejalan dengan perubahan lingkungan bisnisnya.  

Tidak terbantahkan, perubahan tersebut terjadi tanpa  jadwal kalender yang pasti. Melihat hal itu dan masa keunggulan yang singkat,  maka selayaknya pemimpin bisnis senantiasa awas terhadap tanda-tanda awal perubahan. Memang tidak mudah dan sederhana untuk mengenalinya. Apalagi, batas lingkup persaingan semakin kabur, dan keterlibatan pemangku kepentingan semakin tinggi. Semuanya perlu mendapatkan perhatian yang seimbang.

Karena itu, selain terus memperbarui kompetensi, perusahaan perlu membangun jaringan yang luas dalam upaya menciptakan nilai tambah melalui pertumbuhan yang sehat. Keterlibatan mitra yang mumpuni akan membantu perwujudan hal ini. Dalam konteks inilah, aliansi strategis menjadi semakin perlu.

Akhirnya, sebagai aktor terpenting dalam pengelolaan perusahaan, pemimpin bisnis perlu mempertimbangkan kembali kesesuaian pendekatan yang selama ini mereka gunakan.  Bukanlah hal yang tabu mempertanyakan kembali asumsi yang digunakan dalam membangun keunggulan. Apakah batas  arena  bersaing telah berubah? Masih sahihkah logika dominan yang membuahkan kinerja prima selama ini?

Walaupun kepastian masa depan sering samar dan masa keunggulan kadang singkat, menyadari dan menerima keadaan ini merupakan langkah awal penentu pertumbuhan yang dihargai oleh para pemangku kepentingan.           


Close [X]