Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Kapan kita harus menjual saham?

Kapan kita harus menjual saham?
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Keberhasilan investasi tidak hanya ditentukan oleh keputusan membeli, tetapi juga menjual. Kapan kita harus menjual saham? Coba simak contoh kasus Mr. D, seorang dokter bedah yang menginvestasikan sebagian kelebihan uangnya (free cash flow) di saham melalui reksadana. “Saya memilih reksadana karena tidak punya waktu dan keahlian yang cukup untuk memilih dan mengikuti perkembangan saham,” demikian Mr. D menjelaskan.

Tapi, layaknya seorang dokter bedah yang membutuhkan ketelitian dan analisis sebelum melakukan sebuah tindakan, Mr. D khawatir, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tajam di semester I tahun ini. Dalam email-nya kepada saya Maret silam saat IHSG ada pada level 5.000, Mr. D mengirimkan grafik IHSG selama periode bullish tersebut, disertai satu kata penuh arti: RAWAN. Dia minta nasihat apakah sebaiknya keluar dulu dari saham dan masuk kembali setelah kondisi “normal”.

Meskipun Mr. D bukan seorang pengamat ekonomi atau pasar modal, dia cukup pandai menangkap risiko dari kenaikan tajam IHSG. Harga saham yang naik tajam harus bisa dijelaskan secara rasional. Jika tidak, kenaikan itu lebih banyak disebabkan oleh aspek yang kurang rasional sehingga rawan terkoreksi. Aspek yang kurang rasional ini misalnya, tindakan spekulatif dan perilaku ikut-ikutan dalam membeli atau menjual saham (herding behavior) yang pada akhirnya melahirkan kepanikan.

Secara rasional, saham bisa naik tajam jika perkiraan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih (expected growth of revenue and profit - EGRP) perusahaan meningkat tajam. Atau, ada penurunan perkiraan biaya modal (expected cost of capital) perusahaan.

Di level perusahaan, misalnya, rencana produksi mobil low cost green car (LCGC) membuat perkiraan EGRP perusahaan mobil meningkat, yang pada akhirnya mendongkrak harga saham. Berita sebuah perusahaan konstruksi memenangkan tender sebuah mega proyek akan segera melambungkan EGRP dan harga saham perusahaan tersebut. Atau, peluncuran sebuah produk baru yang inovatif akan mendorong EGRP.

Di level industri, perubahan peta persaingan maupun peraturan di industri tersebut bisa mempengaruhi EGRP perusahaan. Misalnya, peraturan pengurangan atau pembebasan pajak atas bahan baku impor di sebuah industri akan mendongkrak EGRP. Contoh lain, pembatasan impor barang tertentu akan mendorong pertumbuhan industri tersebut. Bangkrutnya sebuah perusahaan, otomatis akan membuka peluang peningkatan EGRP bagi perusahaan-perusahaan lain di industri tersebut.

Di level ekonomi makro, perubahan perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional, tingkat inflasi, suku bunga, tingkat pajak, atau nilai tukar mata uang, menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi EGRP dan harga saham perusahaan. Misalnya, penurunan tingkat inflasi dan suku bunga akan mendongkrak EGRP perusahaan.

Namun, Mr. D juga tahu bahwa fluktuasi IHSG lebih sering ditarik ulur oleh investor asing. Maklumlah, untuk saat ini, kepemilikan asing di pasar modal mencapai sekitar 40%. Selain itu, investor domestik pada umumnya kurang percaya diri dan cenderung mengekor keputusan yang diambil para investor asing. Jadi, tidak heran jika perubahan kondisi ekonomi internasional, terutama Amerika Serikat (AS), berpengaruh besar terhadap IHSG.

Penulis mencermati, faktor-faktor internasional ini biasanya justru lebih dominan dibandingkan faktor domestik, baik di level perusahaan maupun industri. Krisis keuangan di AS tahun 2008 membuat IHSG jumpalitan. Ini terlihat dari ukuran statistik deviasi standar imbal hasil tahunan sebesar 47% (lihat tabel). Pengaruh krisis keuangan 2008 ini masih berlanjut di tahun berikutnya. Tahun 2010, volatilitas IHSG agak menurun.

Namun, pada tahun 2011, hantu krisis utang negara-negara Eropa serta resesi di Amerika Serikat membuat volatilitas IHSG kembali meningkat. Tahun 2012, ketakutan atas krisis utang negara-negara Eropa mereda. Dampaknya cukup nyata ke volatilitas IHSG. Deviasi standar imbal hasil tahunan turun tinggal 16% alias sepertiga dari volatilitas IHSG tahun 2008. Sayangnya, tahun 2013, IHSG kembali meletup-letup dan volatilitas kembali ke level tahun 2010. Melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya suku bunga dan ketidakpastian tentang stimulus ekonomi di Amerika Serikat menjadi faktor pemicu utama.

Kembali ke kasus Mr. D. Akhirnya saya menjawab email-nya, “Jika target imbal hasil investasi sudah tercapai, dan punya keyakinan yang cukup bahwa harga saham sudah terlalu mahal (overpriced), merealisasikan keuntungan investasi adalah hal yang bijaksana.”

Mr. D akhirnya mengambil keputusan untuk keluar dulu dari saham dan memindahkan dananya ke deposito. Ini yang disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Dia berencana untuk masuk kembali saat IHSG sudah kembali ke level “normal”. Mr. D cukup puas dengan imbal hasil yang diperoleh. Dan, yang lebih penting, dia bisa tidur tenang dengan keputusannya tersebut.