Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Pesta tetap akan usai

Pesta tetap akan usai
Pengamat Asia Tenggara

INI sebuah berita kilat untuk Asia Tenggara: pesta itu tetap akan usai. Benar, bank sentral Amerika Serikat (AS) sudah memutuskan untuk melanjutkan pembelian surat utang (bond) melalui program quantitative easing (QE) sebesar US$ 85 miliar tiap bulan. Berharap saja, semoga aliran dana hot money tetap ada yang masuk ke kawasan kita.

Pada saat yang sama, presiden China, Xi Jinping menawarkan investasi dengan dana sangat besar di APEC Summit--termasuk berjanji menaikkan tingkat perdagangan hingga US$ 1 triliun dengan negara-negara Asia Tenggara, serta ingin membantu pendanaan infrastruktur perbankan--yang menyebabkan kegembiraan yang meluap. Memang, kehadiran Presiden Xi merupakan tindakan tepat bagi China. Ini sebuah kesempatan untuk menunjukkan kemakmurannya dibandingkan dengan disfungsi sistem demokrasi Amerika sehingga Barack Obama harus membatalkan kehadirannya di forum APEC.

Meskipun demikian, Asia Tenggara sangat salah jika mereka berpikir bisa bernafas lega atau percaya bahwa sudah terhindar dari ketidakpastian krisis ekonomi. Mengapa? Ada beberapa alasan.

Pertama, kita masih belum yakin dampak kegiatan pemerintah Amerika yang mandek (Shutdown). Terakhir kali pemerintah AS mengambil tindakan yang sama (goverment shutdown) adalah pada tahun 1995, selama 21 hari. Tindakan itu menyebabkan pemerintah Amerika kehilangan US$ 1,5 miliar atau setara US$ 2,1 miliar pada saat ini.

Beberapa pendapat menyatakan bahwa memperpanjang krisis akan memperparah perekonomian ke depan sehingga akhirnya Federal Reserve menunda mengurangi QE. Ini adalah pandangan yang tidak bijak.

Program QE, cepat atau lambat, pasti akan berakhir. Ben Bernanke dan Dewan Gubernur Federal Reserve lainnya mungkin telah memberikan penundaan, tapi ini hanya masalah waktu sebelum uang dari India, Indonesia, dan negara berkembang lainnya keluar lagi.

Selanjutnya, kita sebaiknya berdoa dan berharap kongres AS bisa menghasilkan kesepakatan bersama sebelum 17 Oktober 2013. Kongres harus menyepakati kenaikan plafon utang AS sebelum tanggal yang ditentukan. Jika gagal mendapat kesepakatan, pemerintah AS akan benar-benar kehabisan uang dan dampaknya AS menjadi negara yang gagal (default).

Konsekuensi kejadian ini tidak akan terbayangkan. Ini akan menjadi apokaliptis. Para penyokong China akan mengatakan bahwa ini akan menandai perpindahan kekuatan dari AS ke China.

Tapi, terus terang, China masih jauh untuk mampu melangkah ke arah itu. Perekonomian China sedang menurun. Pertumbuhan GDP melambat menjadi 7,5%.

Memang, Pacific Economic Cooperation Council's (PECC) baru-baru ini melaporkan bahwa China menjadi negara yang paling berisiko di Asia Pasifik karena pelemahan pertumbuhan ekonominya. Sekitar 60% responden di sektor publik dan swasta memprediksi bahwa pertumbuhan China akan melemah dalam kurun waktu 12 bulan ke depan.

Tapi, permasalahan di China lebih rumit. Di APEC Summit, Presiden Xi mengakui bahwa China harus melakukan reformasi struktural terhadap perekonomiannya. Bagaimanapun juga, isu seperti sektor perbankan China yang unsustainable dan besarnya utang pemerintah daerah di China menyisakan permasalahan yang tidak terselesaikan dan bisa menghasilkan krisis baru.

Dalam waktu yang dekat, kita akan melihat kemungkinan pertarungan ekonomi antara AS dan China. Ini bukanlah waktu yang tepat bagi ASEAN untuk berpuas diri. Reformasi harus dilakukan secepatnya untuk melindungi perekonomian.

Sedihnya, tampaknya, negara-negara Asia Tenggara melakukan tindakan yang biasa (populis). Thailand melanjutkan program pembelian beras murah bagi petani meskipun sudah menghabiskan US$ 21,4 miliar. Hasilnya adalah 18 juta ton persediaan beras yang tidak terjual.

Subsidi BBM sebesar US$ 21,4 miliar per tahun terus membebani Indonesia. Kelanjutan kebijakan itu hanya akan merugikan perekonomian ke depan.

Asia Tenggara membutuhkan para pemimpin yang bersedia untuk bersusah payah menanggapi reaksi publik jangka pendek untuk melakukan tindakan dan tujuan yang baik. Tapi siapa yang siap dan berani mengambil risiko itu?