: WIB    —   
indikator  I  

Urbanisasi megakota: Masalah dan peluang

Urbanisasi megakota: Masalah dan peluang
Ketua Prasetiya Mulya Business School

Pada tahun 2050, diperkirakan 70% lebih penduduk dunia bertempat tinggal di berbagai kota yang tersebar di seluruh penjuru bumi ini. Dalam kurun waktu lebih pendek, yaitu pada tahun 2025, sekitar dua miliar orang penduduk menempati 600 kota di dunia. Sebagai pusat bisnis, kota-kota ini juga diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 60% dari produk domestik bruto (PDB) dunia.

China merupakan salah satu contoh fenomenal. Sebagai negara berkekuatan ekonomi sangat besar, diperkirakan lebih dari 120 juta penduduknya akan berdomisili di berbagai kota pada tahun 2025. Bahkan, setiap kota di Negeri Tirai Bambu ini akan berpenduduk lebih dari satu juta orang.

Keberhasilan kota menjadi pusat bisnis, pendidikan, dan kesehatan akan meningkatkan daya tarik urbanisasi berkelanjutan. Keberhasilan itu pula yang kemudian akan mentransformasi kota menjadi megakota (megacity).

Pada tahun 1950 silam, hanya ada dua megakota: New York dan Tokyo. Pada 2015 nanti, jumlahnya diperkirakan sudah bertambah menjadi 33 megakota.  Megakota-megakota baru ini lebih banyak berada di negara-negara Asia, seperti: Beijing, Guangzhou, Osaka, Seoul, Delhi, Mumbai, Karachi, dan Jakarta (bukan Jabodetabek).

Pada tahun 2015 itu, penduduk megakota akan berjumlah 369 juta orang. Perkiraannya, sebanyak 36,2 juta orang bermukim di Tokyo, Bombay (22,6 juta), Delhi (20,9 juta), Mexico City (20,4 juta), dan Jakarta (13,5 juta).

Dari segi usia terbentuknya, megakota dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, megakota yang baru muncul seperti Jakarta yang masih harus berkutat dengan tingkat pertumbuhan tinggi dari urbanisasi. Kedua, megakota transisional yang ditandai dengan pertumbuhan melambat dari urbanisasi. Ketiga, megakota dewasa yang memiliki pertumbuhan sekitar 1%, atau bahkan kemandekan pertumbuhan dari proses urbanisasi.

Megakota memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, sekurang-kurangnya berpenghuni 10 juta penduduk. Dari perspektif megakota, keberlanjutan dan tingkat pertumbuhan yang tinggi dari urbanisasi meningkatkan kapasitas sumber daya produktif yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan megakota.

Urbanisasi menambah jumlah tenaga kerja potensial, yaitu tenaga kerja dengan upah murah atau tenaga kerja terdidik dan terampil teknologi. Mereka menjadi modal untuk meningkatkan daya saing megakota dalam upaya merebut arus masuk investasi bisnis asing dan peningkatan konsumsi domestik sebagai modal pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, tersedianya tenaga kerja terdidik dengan spesialisasi tertentu dan canggih menjadi modal megakota untuk menjadi pusat penelitian bisnis dunia atau perakitan produk berteknologi tinggi dari perusahaan global atau memberikan layanan berketerampilan tinggi.

Urbanisasi menyediakan tenaga potensial untuk pembangunan infrastruktur megakota. Urbanisasi juga akan memberikan layanan infrastruktur terbaik dari segi waktu dan biaya sehingga meningkatkan daya saing untuk menarik investasi swasta di sektor infrastruktur.

Megakota yang sudah uzur, seperti New York dan Tokyo, masih mampu mempertahankan kekuatan daya saingnya untuk menduduki peringkat atas daya saing global pada tahun 2012. Jakarta sebagai megakota baru muncul memiliki daya saing yang lemah jika dibandingkan megakota Asia, seperti Beijing, Seoul, Shanghai, dan Delhi.


Tantangan megakota

Selain berkontribusi positif terhadap megakota, pertumbuhan tinggi bisnis, investasi, dan penduduk juga sekaligus menambah beban. Megakota berkewajiban menyediakan berbagai jenis layanan infrastruktur, sumberdaya air, dan menjaga kualitas udara yang sehat untuk menjamin kelangsungan pertumbuhan bisnis dan meningkatkan kualitas kehidupan penduduknya.

Meningkatnya permintaan layanan di tengah kelangkaan atau keterbatasan prasarana yang dapat disediakan, akan menjadi tantangan baru dalam pengelolaan megakota di masa depan. Ada beberapa skenario megakota di masa depan.

Pertama, skenario “megakota miskin”  akan memindahkan beban megakota ke penduduknya. Jadi, kesulitan megakota adalah kesulitan penduduknya.

Kedua, skenario “megakota kaya” akan melayani kebutuhan penduduknya secara baik asalkan bersedia membayar harga tinggi. Tokyo adalah megakota tua dan kaya yang termahal biaya hidupnya.

Megakota miskin hanya memiliki layanan infrastruktur dan layanan kehidupan yang minimal karena keterlambatan pembangunan infrastruktur atau kesemrawutan pengelolaannya. Contohnya, bukan sekadar kemacetan melainkan juga kesemrawutan lalu lintas. Kesemrawutan terjadi bukan hanya karena meningkatnya permintaan jalan, tapi, lebih pada kelangkaan layanan infrastruktur megakota.

Contoh lain, pemadaman listrik bergilir dan terjadwal bukan hanya disebabkan oleh meningkatnya permintaan pasokan tenaga listrik tapi lebih akibat ketidakmampuan megakota dalam menyediakan tenaga listrik untuk mendukung aktivitas penduduknya.

Megakota kaya senantiasa berusaha memenuhi aneka ragam permintaan layanan penduduknya agar dapat mempertahankan kualitas kehidupan dan aktivitas penduduknya. Pengelolaan megakota yang baik adalah kunci keberhasilan untuk memberikan layanan terbaik meski prasarananya terbatas. Misalnya,  New York. Walaupun megakota tua, kota ini masih memiliki daya saing yang tangguh di antara megakota di dunia karena kemampuannya mengelola dan melayani lebih dari 22 juta penduduk yang tinggal di sana, secara lebih baik.

Urbanisasi dan megakota saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat besar jika dikelola  sebaiknya-baiknya. Megakota jangan hanya menjadi sebuah unit pemerintahan, tapi sebagai tempat meningkatkan kualitas hidup penduduknya. Sebaliknya, urbanisasi bukan menjadi beban tapi jadi sumber daya produktif bagi megakota.     


Close [X]