Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Infrastruktur Indonesia

Infrastruktur Indonesia
Pengamat Asia Tenggara

BANYAK orang masih mengeluhkan buruknya infrastruktur di Indonesia. Pada 2011, ketika Bali menjadi tuan rumah pertemuan tingkat tinggi ASEAN+3, infrastruktur di sana masih sangat buruk. Kemacetan sangat parah, dan lokasi-lokasi penting di Nusa Dua sulit dicapai, serta minim pelayanan.
 
Infrastruktur yang terbelakang memang dapat menghambat potensi pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Dari pertemuan para pimpinan perusahaan se-Asia Pasifik (APEC CEO Summit), pimpinan maskapai penerbangan AirAsia, Tony Fernandes menyatakan bahwa infrastruktur akan menjadi isu utama dalam menjamin terciptanya konektivitas.
 
Pandangannya bisa saja benar, terutama menjelang ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Integrasi hanya dapat dicapai melalui konektivitas yang lebih luas. Indonesia, sebagai negara dan ekonomi terbesar di kawasan seharusnya dapat memimpin upaya ini. Dengan terpilihnya Dahlan Iskan menjadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada Oktober 2011 lalu, sesuatu yang lebih baru dapat dilakukan dalam upaya membangun konektivitas.
 
Tidak seorang pun yang tidak setuju dengan tujuannya untuk membuat BUMN di Indonesia menjadi lebih efisien dan bebas dari campur tangan politik, terutama BUMN yang bergerak di bidang infrastruktur. Lihat saja, sudah ada beberapa perbaikan yang dilakukan secara dramatis --setidaknya di Bali-- dan ditunjukkan selama KTT APEC awal bulan ini.
 
Sesungguhnya, Indonesia dapat mengerjakan proyek-proyek infrastruktur skala besar jika ada kemauan politik. Sebagai contoh, pembangunan jalan tol Nusa Dua-Benoa-Ngurah Rai dan perbaikan Bandara Ngurah Rai. Selama ini, kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah utama di Bali selama bertahun-tahun dan telah merugikan sektor pariwisata.
 
Data dari Dinas Perhubungan menunjukkan bahwa ada sekitar 2,2 juta sepeda motor dan 350.000 mobil di jalan-jalan di Bali setiap hari. Bahkan, terjadi kenaikan sekitar 12,42% jumlah kendaraan per tahun yang membuat masalah semakin rumit.
 
Dana sebesar US$ 155 juta dialokasikan untuk membangun jalan tol Nusa Dua-Benoa-Ngurah Rai sebagai upaya mengatasi masalah tersebut. Bahkan, jalan tol sepanjang 12,7 kilometer tersebut menjadi konstruksi jalan di atas air yang pertama di Bali.
 
Desain yang luar biasa ini memungkinkan terhindar dari masalah pembebasan lahan yang bertele-tele. Di sisi lain, perbaikan Bandara Internasional Ngurah Rai yang menghabiskan biaya sebesar US$ 288,4 juta akan menjadikannya sebagai bandara tersibuk ketiga di Indonesia dengan kapasitas 13,5 juta - 25 juta penumpang per tahun.
 
Proyek-proyek infrastruktur baru tersebut, tentunya, akan menjadi dorongan besar bagi industri pariwisata Bali yang memperoleh pendapatan sebesar US$ 1,87 miliar pada 2012 dari 6,2 juta wisatawan asing dan domestik, serta perekonomian secara keseluruhan.
 
Indonesia telah membuktikan kemampuannya membangun infrastruktur yang layak dan bermanfaat. Masalahnya adalah pembangunan tersebut tampaknya hanya dapat dilakukan atas dasar ad-hoc. Misalnya untuk mengantisipasi acara internasional atau sebagai respons mengatasi bencana alam atau masalah lainnya.
Pemerintah seharusnya lebih pro-aktif. Seharusnya, para pemimpin Indonesia tidak hanya berbicara tentang perlunya infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga secara aktif bekerja ke arah itu.
 
Memang, penundaan dapat menjadi lingkaran setan. Investor asing tidak akan tertarik untuk meningkatkan infrastruktur Indonesia jika masih terlihat pemerintahan yang korup atau sibuk dengan politik domestik atau tidak mau mengambil langkah-langkah yang radikal.
 
Infrastruktur, mestinya menjadi sebuah peluang. Perbaikan infrastruktur tidak hanya akan meningkatkan konektivitas ASEAN, tetapi juga dapat merangsang industri konstruksi. Di saat yang sama, kualitas jalan yang baik, jembatan, dan listrik akan meningkatkan mobilitas dan akses terhadap pendidikan, terutama bagi anak-anak di pedesaan.
 
Sumber daya manusia yang merupakan tantangan terberat lain yang dihadapi Indonesia tentunya juga akan meningkat. Jika gagal dalam hal ini, potensi Indonesia yang besar akan terbuang, tidak peduli berapa banyak sumber daya alam yang dimilikinya. Sungguh, infrastruktur yang lebih baik adalah bagian dalam menjadikan perekonomian lebih matang. Sekarang adalah waktunya Indonesia untuk tumbuh!