: WIB    —   
indikator  I  

Stock split: Madu atau racun?

Stock split: Madu atau racun?
Center for Finance & Investment Research Prasetiya Mulya Business School

Di dunia yang sempurna, aksi korporasi memecah saham (stock split) tidak akan mempengaruhi kekayaan pemegang saham. Jika kita memiliki 100 saham dengan harga pasar Rp 1.000 per saham, kekayaan kita adalah Rp 100.000. Jika saham tersebut dipecah menjadi 2 (two-for-one split), Anda akan memiliki 200 saham senilai Rp 500 per saham, dan tetap memiliki kekayaan Rp 100.000. Tetapi riset akademik mengindikasikan bahwa stock split bisa membuat investor bertambah kaya atau jadi lebih miskin.

Tujuan stock split atau pemecahan nilai saham adalah perusahaan ingin menurunkan harga saham yang dianggap sudah terlalu tinggi. Akibatnya, investor kesulitan untuk membeli saham tersebut, sehingga likuiditas saham turun. Bayangkan, saat saham PT Astra Internasional Tbk mencapai harga Rp 80.000 per saham, untuk membeli 1 lot (500 saham), dibutuhkan dana Rp 40 juta. Jika ingin tahu apakah seorang investor atau trader bermodal cukup besar, kita tinggal tanya apakah dia punya saham Astra Internasional. Selain itu, harga saham yang tinggi dikhawatirkan bisa membuat sebagian investor takut membeli karena persepsi bahwa saham tersebut kemahalan (overpriced).

Dengan mengembalikan harga saham ke level lebih optimal (optimal trading range), diharapkan likuiditas saham meningkat. Mengapa likuiditas saham penting? Saham yang kurang atau tidak likuid akan menambah risiko pembeli saham. Kenaikan risiko investasi akan membuat imbal hasil yang diminta naik, sehingga harga saham turun.

Pada kasus saham Astra Internasional, akhirnya pemegang saham perusahaan memutuskan untuk melakukan pemecahan saham dengan rasio 1:10 (ten-for-one stock split) melalui Rapat Umum Pemegang saham (RUPS) 27 April 2012. Artinya, 1 saham Astra Internasional dipecah menjadi 10 saham. Nilai nominal saham sebesar Rp 500 per saham otomatis berubah menjadi Rp 50 per saham.

Jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor Astra Internasional meningkat dari 4 miliar saham menjadi 40 miliar saham. Namun yang lebih penting diperhatikan investor adalah hari akhir perdagangan saham dengan nominal lama. Investor atau trader yang ingin memanfaatkan aksi stock split untuk mendapatkan keuntungan bisa membeli saham tersebut sebelum tanggal tersebut.

Bagaimana caranya? Jika saham yang harganya Rp 70.000 dipecah menjadi 10 saham, maka harga saham seharusnya menjadi Rp 7.000. Namun, penelitian empiris tentang stock split mengindikasikan bahwa harga saham segera naik setelah stock split dari harga seharusnya. Jika setelah stock split harga saham menjadi Rp 7.100, maka trader bisa memperoleh keuntungan Rp 100 per saham. Jika diasumsikan kenaikan Rp 100 tersebut murni akibat aksi stock split, bukan dari sentimen lain, maka ada potensi meraup keuntungan (cuan). Dari mana datangnya Rp 100 tersebut?

Ada dua penjelasan buat fenomena kenaikan harga setelah stock split di atas harga wajar (Baker dan Powell, 1992). Pertama, teori signaling. Teori ini didasarkan pada asumsi ada perbedaan informasi yang dimiliki investor dengan manajemen (insider). Investor berusaha membaca prospek perusahaan dari aksi manajemen.

Stock split dilihat oleh investor atau pelaku pasar sebagai sinyal bahwa perusahaan memiliki prospek yang bagus. Logikanya, jika prospek laba bersih perusahaan bagus, maka harga saham akan naik signifikan. Akibatnya, harga saham yang sudah tinggi akan semakin tidak terjangkau oleh investor. Manajemen perusahaan mengantisipasi hal ini dengan melakukan stock split.

Penjelasan kedua adalah teori likuiditas. Stock split menyebabkan saham menjadi terjangkau oleh sebagian besar investor. Investor yang tadinya hanya bisa bermimpi untuk memiliki saham tersebut kini dapat mewujudkan mimpinya.

Akibatnya, ada kenaikan permintaan yang cukup nyata pada saham tersebut pasca stock split. Dorongan ini menyebabkan harga saham naik. Skenario lain, harga saham yang lebih terjangkau membuat trading atas saham tersebut meningkat.

Pengamatan penulis terhadap beberapa stock split di Bursa Efek Indonesia mengindikasikan bahwa adanya fenomena kenaikan harga pasca stock split tersebut. Ini terjadi terutama untuk saham yang memiliki fundamental yang bagus namun tidak overpriced (berdasarkan PER-nya), dan kondisi pasar sedang bullish. Misalnya, saham Astra Internasional dan Bank BRI. Hal ini bisa dimaklumi karena stock split saham berfundamental bagus bisa diartikan sebagai sinyal bagus mengenai prospek perusahaan. Selain itu, banyak investor sudah menunggu ingin memiliki saham tersebut. Periode bullish, secara psikologis, ikut mendorong permintaan atas saham pasca stock split.

Namun hati-hati, tidak semua stock split memberikan cuan. Ada juga saham yang turun setelah stock split. Hal ini dimungkinkan karena saham tersebut memang tidak memiliki fundamental yang bagus maupun kemahalan (overpriced). Stock split tidak akan menolong saham berfundamental jelek, malah bisa menimbulkan sentimen negatif investor.


Close [X]