: WIB    —   
indikator  I  

Pilih mana: saham atau emas?

Pilih mana: saham atau emas?
Chairman Department of Finance Prasetiya Mulya Business School

Silakan tebak: investasi mana yang lebih populer: saham atau emas?  Baik, kalau sudah mengunci jawaban Anda, saya beritahu hasilnya berdasar metode googlemetric. Saya memasukkan kata kunci "investing in stock" di mesin pencari google dan melihat jumlah hasilnya. Ternyata ada 240 juta hasil. Lalu, saya ulangi, kali ini dengan memasukkan kata kunci "investing in gold" dan mendapat 129 juta hasil.

Emas merupakan alat investasi tertua dan paling mudah dipahami. Konon logam mulia ini sudah ada di peradaban manusia sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi.  Persamaan emas dan saham adalah keduanya menawarkan keuntungan melalui kenaikan harga.

Namun sejatinya “model bisnis” emas dan saham amat berbeda. Emas tidak menghasilkan arus kas operasional. Sekilo emas akan tetap sekilo emas sampai kapan pun. Tapi satu kedai kopi Starbucks bisa beranak-pinak menjadi 17.009 kedai di 50 negara! Sejak IPO di 1992, harga saham Starbucks melesat karena bisnisnya berkembang hingga menjanjikan lebih banyak uang. Harga emas berfluktuasi dengan alasan berbeda, yakni besaran permintaan dan penawaran untuk emas.

Imbal hasil saham, secara historis, mengalahkan emas. Di Amerika Serikat, selama 1926-2006, investasi saham memberi rata-rata keuntungan 11% per tahun. Sedang emas hanya 4,2% per tahun. Selama 1981-2000, saham memberikan rata-rata keuntungan 13% per tahun, sedang emas hanya 2% per tahun.

Sesuai prinsip high risk, high return, fluktuasi harga emas lebih rendah daripada saham. Namun terjadi anomali selama 1 dekade terakhir, Juli 2001 hingga Juni 2011. Saat itu harga emas naik rata-rata 19% per tahun, sedang harga saham hanya naik 2%!

Bagaimana dengan di Indonesia? Bagi investor di negeri ini, membeli emas mengandung dua risiko. Pertama, fluktuasi harga emas dunia yang biasanya dinyatakan dalam satuan US dollar (USD) dan nilai tukar USD ke rupiah. Jika harga emas naik dan nilai tukar USD menguat, harga emas dalam rupiah akan melonjak.

Konsekuensinya, jika harga emas turun dan nilai tukar USD melemah, harga emas dalam rupiah akan anjlok. Namun 3 tahun terakhir ini, nilai tukar rupiah ke USD cenderung stabil hingga mengurangi kepeningan dalam berinvestasi emas.

Perbandingan antara imbal hasil saham (diwakili IHSG) dan emas (dihitung dalam rupiah) saya sajikan dalam tabel di bawah. Pada periode 1997-2010, secara rata-rata investasi emas lebih menguntungkan daripada saham. Ini lebih disebabkan oleh nilai tukar USD ke rupiah yang cenderung melemah.

Pada periode 2002-2010 dan 2005-2010, saham memberikan keuntungan lebih tinggi. Namun pada periode Maret 2008 (IHSG tertinggi sebelum krisis keuangan) dan Desember 2010, rata-rata investasi di saham memberikan keuntungan lebih rendah (14%/tahun) dibandingkan emas (17%/tahun).

Pada periode Oktober 2008, IHSG terendah saat krisis keuangan, hingga Desember 2010, investasi saham memberikan rata-rata keuntungan yang fantastis, sampai 70% per tahun, melebihi emas yang sebenarnya juga mencatat rekor (33%/tahun).

Bagaimana kalau kita membeli produk hybrid antara saham dan emas? Misalnya membeli saham perusahaan penghasil emas seperti Aneka Tambang? Well, bukan ide jenius karena ternyata kinerja emiten itu tidak sebagus menyimpan emas. Harga ANTM di 2007 yang sudah  Rp 2.300 per saham, kini malah melorot hingga sekitar Rp 2.100 per saham.

Dari segi risiko investasi, emas jelas mengungguli saham. Selama 1997-2010, pertumbuhan harga emas hanya pernah negatif sebanyak dua tahun. Sedang IHSG mengalami kerugian di 5 tahun.

Namun harga emas mudah stagnan dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya, harga emas hanya bergoyang sedikit selama 25 tahun di periode 1980-2004! Ini berita buruk bagi investor yang punya penyakit “get-evenitis” (belum mau jual jika masih rugi). Dana investasi bisa nyangkut untuk jangka waktu teramat lama.

Ada satu kelebihan emas yang membuat ia makin berkilau di mata investor, yakni kemampuannya untuk mengurangi risiko portofolio saham. Data menunjukkan bahwa saat bursa saham crash, harga emas cenderung tak terpengaruh. Bahkan, harga emas bisa naik. Misalnya, saat terjadi krisis Subprime Mortgage 2008 di AS.

Sewaktu Indonesia mengalami Krisis Moneter 1998, harga emas dalam USD juga stabil. Artinya emas memiliki fungsi lindung nilai alias hedging. Korelasi antara harga emas dan harga saham yang rendah terutama pada saat ekonomi memburuk merupakan sesuatu yang amat berharga dilihat dari kacamata diversifikasi risiko.

Kesimpulannya, emas bukan lawan saham. Keduanya saling melengkapi. Untuk tujuan meminimalkan risiko portofolio, aturan umum adalah menaruh 10% dari dana di emas. Namun, melihat imbal hasil emas yang cukup tinggi belakangan ini, menaruh 20% dana di emas layak dipertimbangkan.

 

Bagian ke III (terakhir) dari seri tulisan tentang investasi di emas


Close [X]