Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Nilai strategis manajemen risiko

Nilai strategis manajemen risiko
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School

Istilah  staying ahead of the curve yang berarti “berada di depan kurva” semakin marak digunakan. Coba Anda ketik kata tersebut di mesin pencari internet, dalam sekejap akan muncul referensi lebih dari 25 juta.

Istilah ini muncul seiring dengan semakin populernya pengelolaan bisnis berbasiskan risiko. Dalam manajemen risiko, sekumpulan kinerja perusahaan dapat digambarkan seperti kurva distribusi normal (bell shaped curve). Jumlah perusahaan berkinerja rata-rata mendominasi  industri. Perusahaan medioker seperti ini memiliki ciri-ciri kinerja yang tidak bagus tapi juga tidak jelek.

Di sisi lain, ada perusahaan yang mampu terus-menerus berada di depan kurva alias selalu mendahului perusahaan lain dan menjadi top ranking dalam kinerja jangka panjang di industrinya. Tentu perusahaan Anda ingin masuk dalam kategori ini.

Nah, apakah pengelolaan risiko dapat berkontribusi menjelaskan keunggulan ini?

Manajemen risiko terintegrasi dapat membantu perusahaan memiliki kinerja yang unggul. Dengan menggunakan survei pada 576 perusahaan di dunia, serta mempelajari laporannya, perusahaan konsultan Ernst & Young (2012) menemukan bahwa perusahaan dengan praktik manajemen risiko yang matang memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan perusahaan lain. Top 20% perusahaan tersebut memiliki tingkat pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan EBITDA/EV setidaknya dua kali lebih tinggi dibanding dengan perusahaan lain.

Perlu digarisbawahi, penerapan manajemen risiko memiliki derajat yang berbeda-beda. Kinerja keuangan sangat berkaitan dengan tingkat integrasi dalam fungsi-fungsi perusahaan. Dengan kata lain, penerapan manajemen risiko yang sekadarnya tidak akan memberi keuntungan yang maksimal bagi perusahaan.

Di Indonesia, penerapan manajemen risiko masih sering terpotong-potong (silos) dan berkisar pada urusan pengendalian keuangan, audit internal, standar kepatuhan, dan IT risk management. Perusahaan perlu mengintegrasikan serta mengkoordinasikan pada seluruh fungsi untuk meningkatkan kinerja.


Penciptaan nilai

Coba dengar keluhan ini: “Ide memiliki pengelolaan risiko memang bagus, tapi kenyataannya perusahaan kami tidak merasakan keuntungannya. Perusahaan justru disibukkan dengan laporan-laporan, jelas itu biaya bagi kami. Laporan tersebut terasa tidak berguna. Terlebih lagi, perusahaan sekarang terasa lebih lamban.”

Pengelolaan risiko mampu berkontribusi pada kinerja keuangan perusahaan lewat beberapa hal. Pertama, lewat mitigasi risiko, perusahaan mampu mengantisipasi kondisi buruk yang mungkin terjadi. Tentu saja manfaat yang ditimbulkan adalah menjaga keberlangsungan perusahaan dan biaya yang lebih rendah dibandingkan jika kondisi buruk datang tanpa rencana penanganan.

Misalnya, perusahaan yang ketergantungan bahan baku impor telah mengidentifikasikan Top 10 risiko dan Top 5 indikator kinerjanya. Jika mata uang menjadi risiko utama perusahaan, maka tren pelemahan rupiah jelas akan berdampak negatif pada arus kas perusahaan lewat membumbungnya biaya produksi. Jauh sebelum hal itu terjadi, dengan melihat dampak terburuk pelemahan rupiah terhadap arus kas, perusahaan akan menjadi lebih termotivasi untuk mengantisipasinya.

Penggunaan stress testing memang menempati peringkat tertinggi sebagai tools yang sangat berguna untuk membantu perusahaan mengantisipasi kekurangan likuiditas. Tes ini memasukkan asumsi terburuk yang kecil kemungkinan terjadinya dari risiko utama ke dalam proyeksi likuiditas perusahaan. Dengan melihat hasil terburuk yang mungkin terjadi, perusahaan akan menjadi lebih siap.

Kedua, lewat penurunan biaya. Identifikasi dan pemetaan risiko dapat menghilangkan adanya duplikasi kegiatan risiko seperti duplikasi pengontrolan. Lakukan investigasi atas proses kontrol perusahaan Anda. Jangan terkejut jika menemukan duplikasi dan kekosongan kontrol di titik-titik proses bisnis Anda. Perusahaan dapat mengefisiensikannya sehingga memperbaiki struktur biaya. Selain penurunan biaya, perbaikan struktur biaya mampu menciptakan keunggulan bersaing tersendiri bagi perusahaan.

Kombinasi dua faktor di atas akan membuat perusahaan mampu meningkatkan arus kas bebas lewat penurunan biaya dan stabilitas EBITDA. Investor memandang perusahaan lebih tidak berisiko dan berujung pada penurunan biaya modal. Perusahaan jadi mampu menciptakan nilai lewat manajemen risiko.

Agar dapat berada di depan kurva, perusahaan perlu memanfaatkan laporan pengelolaan risiko menjadi suatu keputusan strategis. Contohnya, kesimpulan dari serangkaian proses pengelolaan risiko adalah mengenai portofolio risiko. Hasil ini sangat berguna sebagai masukan dalam memilih investasi yang tepat untuk meminimumkan risiko keseluruhan. Keputusan investasi menjadi lebih terarah dan maksimal.

Untuk dapat dimengerti dan didukung oleh pemangku kepentingan, perusahaan perlu mengkomunikasikan secara terbuka, transparan, dan tepat waktu mengenai keputusan strategis yang akan diambil dengan peningkatan nilai perusahaan di masa datang. Jadi, pengelolaan risiko berkontribusi lebih strategis dalam pembuatan keputusan yang membawa perusahaan selalu mampu berada di depan.