: WIB    —   
indikator  I  

Behavioral finance vs teori pasar efisien

Behavioral finance vs teori pasar efisien
Pengamat pasar modal dan pasar uang

Berawal dari ketidakpuasan terhadap teori pasar efisien (TPE) dalam menjelaskan banyak fenomena keuangan, behavioral finance (BF) mulai menunjukkan diri hingga akhirnya memperoleh pengakuan sama dengan TPE dari komite Nobel bulan lalu. Literatur keuangan mencatat setidaknya ada lima perbedaan antara TPE dan BF.

Pertama, TPE mengasumsikan semua agen ekonomi akan memaksimalkan expected utility (kepuasan), sedangkan BF mengasumsikan individu akan meminimumkan expected regret (penyesalan). Contohnya, banyak investor saham juga membeli obligasi atau properti dalam usaha meminimumkan future regret jika pasar saham tidak bergerak sesuai keinginannya.

Kedua, TPE mengatakan manusia itu bersifat risk averse alias menghindari risiko. Sifat ini menjelaskan banyak orang di dunia tidak menyukai investasi di pasar modal dan lebih memilih deposito yang tidak berisiko.

Dalam pandangan BF, investor itu sebenarnya bukan risk averse tetapi loss averse. Ini sesuai dengan teori prospeknya Daniel Kahneman (1979), psikolog pertama dan satu-satunya yang memenangkan Nobel ekonomi pada 2002. Menurut Kahneman, investor itu risk averse jika sedang mengalami untung. Tetapi jika sedang rugi, investor cenderung menjadi seorang risk taker.

Contohnya, seorang investor membeli saham pada harga Rp 2.000. Beberapa hari kemudian, harga saham naik menjadi Rp 2.200 dan analis bilang, saham itu mempunyai peluang 50% ke Rp 2.400, dan 50% ke Rp 2.000 lagi. Karena risk averse, sebagian besar investor diprediksi akan menjual saham itu.

Dengan merealisasikan keuntungan sebesar Rp 200 ini, investor merasa menang dan menilai keputusan pembelian saham yang dilakukannya tepat. Alasan lainnya adalah karena decreasing sensitivity, bahwa keuntungan Rp 200 berikutnya (dari Rp 2.200 menjadi Rp 2.400) memberikan kepuasan lebih kecil daripada Rp 200 pertama. 

Sekarang misalkan keadaan sebaliknya terjadi, harga saham itu beberapa hari setelah dibeli turun menjadi Rp 1.800. Analis yang dihubungi mengatakan, ke depan saham itu berpeluang sama besar untuk naik menjadi Rp 2.000 atau turun ke Rp 1.600. Dalam situasi seperti ini, hampir pasti investor akan memilih untuk tetap memegang sahamnya karena sudah terlanjur rugi.

Merealisasikan kerugian berarti mengaku salah dan ada rasa malu, jika hal ini diketahui orang lain. Kahneman menyebut ini sebagai disposition effect.

Ketiga, TPE mengasumsikan manusia itu dapat melakukan prediksi yang tidak bias yaitu yang sesuai dengan teori Bayes (conditional probability). BF mengasumsikan sebaliknya bahwa prediksi manusia itu seringnya bias karena tidak memahami konsep probabilitas bersyarat dari Bayes. Berikut ilustrasinya.

Misalkan, ada 100 tas yang masing-masing berisi 100 koin. Dari 100 tas itu, 45 tas masing-masing berisi 70 koin hitam dan 30 koin merah. Sementara, 55 tas lain berisi sebaliknya yaitu 30 koin hitam dan 70 koin merah. Jika sebuah tas diambil secara acak, berapa peluang tas itu berisi lebih banyak koin hitam? Jawabannya 45%.

Sekarang misalkan sebuah tas diambil secara acak dan dari tas itu diambil 12 koin dengan pengembalian. Dari 12 koin yang terambil itu, ternyata 8 berwarna hitam dan 4 berwarna merah. Dengan informasi di atas, berapa peluang tas yang terambil itu adalah tas yang berisi lebih banyak koin hitam?

Ketika Shefrin (2002) melakukan eksperimen ini, dua jawaban paling banyak dia peroleh adalah 45% dan 67% yaitu sekitar 55% responden. Angka 45% berasal dari proporsi awal dan 67% sangat mungkin dari 8/12. Jawaban sisanya menyebar dan tertinggi adalah jawaban 75%. Tidak ada yang menjawab benar karena jawaban yang diharapkan adalah 96,04%. Ini menandakan prediksi manusia itu jauh dari akurat karena tidak memproses informasi terakhir dengan benar atau tak berdasarkan teorema Bayes, sesuai yang dikatakan BF.

Keempat, TPE memandang manusia sebagai pengambil keputusan yang selalu berdasarkan rational expectation. Sementara BF mengatakan pengambilan keputusan sering didasarkan pada ekspektasi yang naif atau normal. Jika TPE mengatakan investor akan mencari return yang optimal, BF mengesampingkan kemungkinan itu karena investor berusaha untuk mendapatkan return yang memuaskan. Itulah sebabnya banyak orang Indonesia cukup puas dengan bunga deposito yang rendah itu.

Terakhir, TPE mengasumsikan manusia adalah makhluk ekonomi yang rasional dengan profit sebagai motif utama. Sementara BF melihat aspek lain yang juga mendasari keputusan seseorang seperti rasa bangga, bersalah, malu, takut, empati, atau jiwa sosial yang ada dalam diri setiap manusia. Buktinya, banyak orang memberikan donasi tanpa menyebutkan nama. Ada juga, semisal, yang bersusah payah menyelamatkan orang lain dari bangunan yang terbakar.   


Close [X]