Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Belajar dari Merek Global

Belajar dari Merek Global
Pengamat Asia Tenggara

KETIKA berbicara tentang bisnis fesyen (fashion), orang cenderung hanya fokus pada merek Gucci, Louis Vuitton, dan Giorgio Armani. Tapi, di era fesyen global, industri ini telah mengalami perubahan nyata di mass market, seperti yang terjadi pada merek Zara, H&M, dan Uniqlo, yang lahir dari perusahaan-perusahaan besar.

Inditex, produsen merek Zara, pada semester awal 2013, mencatat penjualan sebesar US$ 10,3 miliar. Pemiliknya, Amancio Ortega, merupakan orang terkaya ketiga di dunia versi Forbes. H&M memperoleh penjualan senilai US$ 9,1 miliar dan Uniqlo mencapai US$ 6,2 miliar.

Tiga merek tersebut sudah membuka gerai di Jakarta. Yang terbaru, pada akhir bulan lalu, H&M membuka dua gerai di Gandaria City dan Pondok Indah Mall.

Tiga brand tersebut sangat mahir dalam menggarap pasar Indonesia dan menuai sukses hampir di setiap pertunjukan fesyen di Paris, Milan, dan New York. Mereka mengerti bagaimana caranya menyesuaikan dengan selera pasar saat ini, dengan lebih mengutamakan warna, potongan, dan keceriaan.

Selain itu, merek-merek ini juga tidak terlalu mahal sehingga dapat menarik minat anak muda yang memandang busana sebagai sesuatu yang harus diperbarui dan dibeli secara berkala. Bahkan, saya pun berminat untuk membeli pakaian ketika saya mengunjungi gerai-gerai mereka. Misalnya, beberapa bulan lalu, saya membeli celana jeans berwarna merah terang dari H&M dan saya berusia 50 tahun! Jika membandingkan, saya menganggap bahwa merek mewah dari GAP dan Banana Republic sudah mulai membosankan.

Di antara ketiganya, Zara merupakan merek yang pertama kali membuka gerainya di Indonesia, yaitu pada Agustus 2005. Sekarang Zara sudah memiliki banyak outlet, di antara berbagai merek lain yang beragam, termasuk favorit saya, Massimo Dutti.

Uniqlo, merek fesyen asal Jepang, menanamkan investasi sebesar Rp 104 miliar untuk gerai pertamanya di Jakarta, dan saat ini sedang berencana membangun lebih dari 10 outlet di Indonesia hingga tiga tahun ke depan.

Secara geografis, bisnis mereka menyebar secara global. Tapi, untuk diversifikasi pasar, Zara juaranya. Sebanyak 45% penjualannya berasal dari pasar negara berkembang, dibanding dengan H&M yang hanya 14%.

Uniqlo yang menyasar produknya ke pasar Asia Timur, memperoleh pendapatan sebesar US$ 1,3 miliar dari penjualan di pasar negara berkembang di Asia, yaitu China, Hong Kong, dan Taiwan.

Tentunya, posisi Zara di Indonesia akan semakin ditantang oleh merek-merek pendatang baru ini yang memiliki sumber daya untuk bisa bersaing. Tanpa perlu dikatakan, sesungguhnya pasar konsumen Indonesia memang sangat menarik, dengan lebih dari 250 juta penduduk dan peningkatan kelas menengah sekitar 35 juta orang.

Masing-masing dari tiga merek besar ini memiliki strategi yang berbeda. Uniqlo memilih untuk fokus pada daya tarik tren jangka panjang. Kekuatannya terletak pada kemampuan untuk ber-inovasi dan berasal dari produk-produk dengan teknologi terbaru. Ada banyak produk yang menggunakan bahan sintetis, plastik lentur, bulu, dan bahan lain yang berkualitas tinggi.

Keunggulan Zara terletak pada kemampuannya mengakomodir selera konsumen yang cepat berubah. Zara dikenal sangat responsif dan memiliki sistem distribusi yang efisien. Rata-rata, Zara mampu menghasilkan lebih dari 10.000 desain baru setiap tahun, dan membutuhkan waktu maksimum 15 hari dari tahap desain ke proses penjualan.

Sedangkan H&M merupakan pelopor dalam membangun jaringan distribusi yang terintegrasi secara vertikal. H&M memiliki jaringan sebanyak 20-30 kantor produksi yang berdekatan dengan para agen penyalur sehingga dapat langsung melayani permintaan konsumen. Sebanyak 60% produksinya di Asia, dan sisanya di Eropa.

Selain itu, infrastruktur TI kelas dunia digunakan oleh tim pengembangan produk dan desain, sehingga menghasilkan manajemen yang efektif di semua saluran distribusi.

Sementara, kehadiran H&M, Zara, dan Uniqlo berdampak sangat baik bagi konsumen, kita mengharapkan produsen tekstil dan pakaian Indonesia bisa berjuang keras agar bisa menikmati bagian dari pasar di bisnis fesyen ini. Produsen Indonesia perlu memastikan bahwa mereka dapat mengatur kecepatan, kualitas, dan efisiensi dari pesaingnya di Turki, China, Bangladesh, dan tempat lain.