Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Anomali December effect

Anomali December effect
Center For Finance and Investment Research Prasetya Mulya Business School

Dibanding bulan lain, Desember punya banyak kelebihan untuk ditunggu-tunggu. Liburan, bonus tahunan, kedamaian Natal, Santa Klaus yang rajin membagi hadiah, perusahaan tutup buku, investor menghitung cuan (untung) dan menyusun rencana investasi baru. Desember juga mengekspresikan keceriaan para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia. Berikut adalah rangkuman artikel penulis mengenai hubungan Desember dengan harga saham, dengan data yang diperbaharui.

Pada umumnya pelaku pasar modal lebih sadar terhadap January Effect daripada December Effect. January Effect adalah suatu anomali di bursa saham di mana sepanjang bulan tersebut harga saham melonjak. January Effect pertama kali ditemukan oleh Donald Keim (1983) dan kemudian didukung oleh banyak kajian empiris lain di AS maupun negara lain.

Penulis meneliti daily returns Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari awal Januari 2000 hingga akhir Agustus 2009. Dari sampel 2.330 daily return yang penulis peroleh, rata-ratanya adalah 0,05%. Volatitilitas daily return tersebut (diukur dengan standar deviasi) adalah 1,56% per hari. Daily return Januari ternyata 0,05% atau mirip dengan rata-rata sampel tersebut. Volatilitasnya juga tak jauh beda dari rata-rata, yaitu 1,73% per hari. Jadi, Januari bisa kita anugerahi gelar “bulan biasa”.

Dari analisis regresi, saya memperoleh beberapa hal menarik. Desember dapat dinobatkan sebagai “bulan terbaik” karena memiliki daily return terbesar (0,27%) dengan volatilitas relatif rendah (1,34% per hari). Oktober terpilih sebagai “bulan terburuk” (daily return – 0,18% dengan volatilitas tertinggi, yaitu 2,23%). Penghargaan “bulan ragu-ragu” jatuh pada Juli dengan volatilitas terendah (1,19% per hari) dengan daily return 0,12%.

Apa yang membuat Desember menjadi istimewa? Banyak yang menduga bahwa ini akibat praktik window dressing di bursa saham di pengujung tahun.

Menjelang akhir tahun ada pula Santa Claus Rally di bursa saham.  Ini merujuk pada fenomena kenaikan harga saham antara Natal dan Tahun Baru. Profesor Richard Sias dari Washington State University mencari bukti empiris dengan meneliti sampel periode 1984 sampai dengan 2004. Hasilnya, terdapat kenaikan harga saham dengan rata-rata 5,5% dalam waktu seminggu menjelang tutup tahun.

Di Indonesia, penulis juga menemukan bahwa pada periode 2001-2012, setiap tahun IHSG selalu mengalami kenaikan (rally) dari awal hingga akhir Desember dengan rata-rata kenaikan 5,6% (lihat tabel). Bahkan jika dihitung dari awal November hingga akhir tahun, rata-rata kenaikan mencapai 8,7%!. Imbal hasil selama Desember tidak pernah negatif selama periode 2001-2012. Ada apa di balik fenomena Santa Claus Rally ini?

Ada dugaan bahwa rally ini didorong oleh praktik window dressing di bursa saham. Bukti empiris mengindikasikan bahwa pada umumnya pengelola dana (fund managers) melakukan window dressing supaya laporan tahunan mereka ke investor tampak lebih cantik dari biasanya (Meier dan Schaumburg, 2004; Kapugu dan Whardani, 2008).

Bagaikan rumah berantakan yang dirapikan hanya jika ada tamu akan berkunjung. Ini dilakukan dengan cara menjual saham yang berkinerja buruk selama beberapa bulan terakhir. Dananya dipakai untuk membeli saham berkinerja bagus selama periode yang sama (winning stocks). Catatan fundamental pada kuartal ketiga bisa juga dipakai sebagai acuan untuk memilih saham unggulan. Dengan demikian fund managers akan terlihat lebih cerdas karena menginvestasikan dana pada saham-saham unggulan.

Yang lebih penting adalah aksi beli the winning stocks diharapkan bisa mengangkat harga saham sehingga mendongkrak kinerja reksadana. Yang dikhawatirkan oleh para investor reksadana adalah lonjakan harga ini bersifat semu karena tidak didukung aspek fundamental. Kenaikan ini kemungkinan besar terjadi karena harga “diangkat” beramai-ramai oleh para fund managers yang sedang giat bersolek.

Dari sudut pandang memaksimalkan imbal hasil bagi investor, window dressing bisa kontra-produktif karena mendorong fund managers menjalankan skenario “buy high, sell low”. Terutama jika setelah periode tutup buku berlalu fund managers segera menjual saham-saham yang dipakai untuk berdandan.

Ada pula dugaan bahwa sebagian emiten saham melakukan window dressing. Caranya dengan menggunakan jasa beberapa pialang untuk mengangkat harga saham agar rapor manajemen emiten tampak lebih seronok. Tindakan ini biasanya dilakukan pada satu atau dua pekan menjelang tutup buku supaya lebih efektif. Emiten berkinerja buruk dengan jumlah saham beredar relatif sedikit punya kecenderungan untuk melakukan window dressing. Soalnya “biaya” untuk mengerek harga saham menjadi lebih murah.

Data historis mengindikasikan anomali bulan Desember yang melawan teori pasar modal efisien. Anomali tersebut menimbulkan peluang untuk meraup cuan jangka pendek.