: WIB    —   
indikator  I  

Panic selling melanda bursa

 Panic selling melanda bursa
Pengamat Pasar Modal dan Pasar Uang

Setelah menikmati keuntungan fantastis dalam dua tahun terakhir, yaitu 87% dan 46%,  tahun ini, investor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) harus siap menghitung kerugian. Kamis pekan lalu, IHSG merosot 328,4 atau 8,9%. Wajarkah penurunan sebesar itu?

Dalam pandangan saya, investor bereaksi berlebihan. Istilah lain fenomena ini adalah panic selling. Ketika indeks berada di angka 3.300-an adalah saat yang pas mengoleksi saham murah. Ini tidak berbeda ketika IHSG anjlok ke level 1.400-1.500-an pada akhir 2008. Saya katakan saat itu bahwa saham sedang sale 55% off dan yang namanya diskon besar tidak berlangsung lama.

Ketika pasar kembali normal, diskon sering tidak ditawarkan lagi. Keadaan hampir sama kini terjadi lagi. Saham-saham di bursa kita mulai banyak yang dijual dengan diskon 10%-15%.

Mungkin Anda menganggap saya terlalu optimistis. Sejatinya, sama seperti Anda,  saya juga skeptis dengan perekonomian dunia. Presiden Bank Dunia Robert Zoellick mengatakan, ekonomi dunia mulai memasuki zona bahaya pada 15 September lalu.

Jika Yunani gagal membayar obligasinya, banyak bank di Eropa yang memegang obligasi negara tersebut akan mengalami kerugian. Akhirnya, mereka kesulitan likuiditas. Rata-rata rasio utang 17 negara Euro yang mencapai 87% sungguh mengkhawatirkan.

Selain Yunani, ternyata Italia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) ketiga terbesar di zona Euro juga terlilit utang sehingga S&P menurunkan rating-nya pekan lalu. Di saat yang sama, di Amerika Serikat (AS) masih terjadi perbedaan pendapat tentang upaya pengurangan defisit. Ada pula masalah pengangguran yang menembus rasio 9% dan rasio utang sekitar 100% dari PDB.

Jepang pun tidak dapat diandalkan menjadi penyelamat krisis utang zona Euro dan AS. Negara ini dinilai lamban dan gagal menangani dampak pasca gempa dan tsunami yang disusul krisis nuklir pada Maret lalu. Utang Jepang sudah lebih dari dua kali lipat PDB sehingga Moody’s bulan lalu menurunkan peringkat negeri ini menjadi Aa3 alias tiga tingkat di bawah rating tertinggi dan sejajar China.

Terakhir, China yang semula diharapkan dapat menggantikan peran Jepang sebagai lokomotif perekonomian global menghadapi persoalan tingginya inflasi dan tumpukan utang dalam negeri akibat pembiayaan mega proyek infrastrukturnya.

Dengan empat kekuatan ekonomi global yang menguasai separuh PDB dunia yaitu zona Euro, AS, China, dan Jepang, menghadapi masalah serius ekonomi, wajar jika IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dan tahun depan. Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Jika Agustus lalu volatilitas tajam hanya terjadi di pasar saham kita, di bulan ini, kepanikan juga melanda pasar uang. Sehingga rupiah menembus Rp 9.000 per dollar AS. Bahkan, sempat Rp 9.450 meski Bank Indonesia sudah menghabiskan lebih dari US$ 3 miliar untuk intervensi.

Di pasar SUN, dana asing keluar dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan di pasar saham yaitu Rp 15 triliun pada 12-16 September lalu. Yield SUN jangka 5 dan 10 tahun melesat 70 basis poin pekan lalu meski pemerintah melakukan buyback hingga Rp 2 triliun.

Untuk stabilisasi pasar surat utang ini, pemerintah mempunyai mekanisme kerja dengan mengajak BUMN menjadi standby buyer surat utang sejak awal tahun ini. Maklum, minggu lalu, CDS Indonesia sudah melonjak 90% yaitu menjadi 234 dan 325 basis poin untuk surat utang 5 dan 10 tahun.

Perlambatan ekonomi global akan mempengaruhi perekonomian kita melalui dua cara. Pertama, di sektor riil, akan ada penurunan permintaan ekspor, termasuk komoditas kita. Efeknya, harga komoditas akan terkoreksi. Di saat yang sama, investasi asing langsung (FDI) diperkirakan mengalami kontraksi.

Kedua, pada sektor finansial. Pembalikan dana asing akan melemahkan rupiah dan menaikkan yield surat utang. Mengulangi kejadian akhir 2008 lalu, saat terjadi ketidakpastian besar seperti saat ini, investor lebih suka memegang dana tunai dalam mata uang kuat. Sehingga dollar AS ikut menguat.

Mengacu kepada kondisi itu, berapakah IHSG wajar kita di akhir tahun ini? Di awal tahun ini, saya memprediksi IHSG akan ke 4.100-4.200 karena bagusnya fundamental kita. Namun, dengan merebaknya krisis utang global, IHSG akan ikut tertahan di teritori 3.800-3.900 dengan PER sekitar 14 pada akhir Desember nanti. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi kita tetap di atas 6% tahun ini dan 2012 karena ekspor hanya menyumbang 27% dari PDB.

Faktor pendorong  lain IHSG adalah masuknya investor saham individu, terutama melalui reksadana saham. Semoga masuknya dana investor saham domestik tersebut akan mampu mengimbangi keluarnya dana investor asing.


Close [X]