: WIB    —   
indikator  I  

Bulan purnama di atas bursa

Bulan purnama di atas bursa
Center For Finance and Investment Research Prasetya Mulya Business School

Pernah nonton film The Howling? Film ini adalah satu dari ratusan film Hollywood yang diinspirasi oleh legenda dari Eropa tentang serigala jejadian (werewolf). Alkisah manusia berubah menjadi serigala atau manusia setengah serigala tepat saat bulan purnama. Mengapa hanya di bulan purnama? Rupanya sudah sejak zaman Yunani kuno dan Romawi, orang percaya bahwa siklus bulan dalam mengitari bumi mempengaruhi tubuh dan pikiran manusia. Dalam bahasa Inggris, kata “lunacy” yang artinya gila berasal dari Luna, dewi bulan Romawi.

Serpihan riset biologi maupun psikologi menunjukkan adanya siklus Circatrigintan, siklus kehidupan manusia yang terkait dengan peredaran bulan. Misalnya, siklus menstruasi wanita hampir sama panjangnya dengan satu siklus bulan. Sebagian besar menstruasi terjadi pada awal bulan. Fertilitas wanita mencapai puncaknya pada minggu ketiga dari suatu bulan. Angka kejahatan, gangguan tidur, depresi, crisis call dan bunuh diri ditemukan meningkat saat bulan purnama. Rupanya bulan purnama tidak hanya membuat air laut pasang, tetapi juga menimbulkan perasaan depresi (depressed mood) maupun pesimistis.

Buat investor saham, pertanyaan yang menarik adalah “Apakah siklus bulan mempengaruhi harga atau imbal hasil saham?” Jawabnya tidak jika pelaku pasar saham berpikir rasional dalam mengambil keputusan jual atau beli. Namun riset menunjukkan bahwa saat membuat keputusan investasi, investor dipengaruhi oleh bias-bias psikologis dan perilaku. Misalnya, percaya diri yang berlebihan, ketakutan akan menderita kerugian dan fluktuasi mood alias perasaan.

Perasaan gembira, galau, optimistis, pesimistis mempengaruhi keputusan investasi yang dibuat investor saham. Literatur behavioral finance, antara lain, menunjukkan bahwa cuaca cerah di bursa saham membangkitkan perasaan optimistis sehingga berdampak positif terhadap imbal hasil saham (Hirshleifer dan Shumway, 2001).

Hal yang serupa ditemukan oleh Kamstra, dkk (2001), yakni cuaca mendung membuat investor mengalami perasaan depresi sehingga meningkatkan ketidaksukaan terhadap risiko (risk aversion). Akibatnya mereka cenderung membuat valuasi saham secara pesimistis.
Peneliti lain, Coval dan Shumway (2001) menemukan bahwa trader saham yang mengalami kerugian di pagi hari cenderung mengambil risiko yang lebih besar pada siang harinya, dibandingkan dengan para trader saham yang mengalami keuntungan di pagi hari.

Ada dua penelitian menarik mengenai pengaruh siklus bulan terhadap imbal hasil saham. Landasan teorinya sama, yakni bulan purnama memicu depresi dan pesimisme investor sehingga imbal hasil saham sekitar bulan purnama akan rendah karena risk aversion investor meningkat, atau proyeksi yang pesimistis terhadap prospek perusahaan.

Riset pertama dilakukan oleh Dichev dan Janes (Journal of Private Equity, 2003). Mereka menggunakan data di pasar saham Amerika Serikat selama 100 tahun, serta pasar saham di 24 negara lain selama 30 tahun. Temuannya sungguh menarik. Imbal hasil saham pada periode 15 hari di sekitar tanggal bulan baru hampir dua kali lebih besar daripada imbal hasil di periode 15 hari sekitar bulan purnama. Namun, mereka tidak menemukan bukti bahwa siklus bulan mempengaruhi volatilitas imbal hasil maupun volume perdagangan saham.

Riset kedua dilakukan oleh Yuan, dkk (Journal of Empirical Finance, 2006). Mereka menggunakan data pasar modal di 48 negara, termasuk Indonesia. Mereka menemukan bukti yang sama dengan Dichev dan Janes, yakni imbal hasil saham lebih rendah pada 15 hari seputar bulan purnama daripada 15 hari seputar bulan baru. Rata-rata perbedaan imbal hasil ini adalah 6,6%. Bahkan untuk analisis 7 hari seputar bulan purnama atau baru, perbedaan imbal hasilnya adalah 8,8%.

Pengaruh bulan purnama terhadap imbal hasil saham juga lebih terasa di pasar modal negara berkembang daripada negara maju. Pengaruh bulan purnama ini ternyata lebih kuat di saham berkapitalisasi kecil daripada besar. Mengapa? Saham small cap kebanyakan dimiliki oleh investor individu, sedang saham big cap dikuasai oleh investor institusi. Investor individu dianggap lebih rentan terhadap serangan efek bulan purnama. Yuan, dkk mengklaim bahwa hasil ini tidak dipengaruhi oleh volatilitas pasar, serta anomali pasar modal yang terkait kalender seperti Januari efek, weekend effect.

Fenomena Bulan Purnama ini menawarkan kesempatan cuan bagi trader saham. Beli saham sekitar bulan purnama, jual sekitar bulan baru. Namun, sebelum kita sibuk mengamati ukuran bulan, atau mengganti penasihat keuangan kita dengan kalender bulan, sebaiknya kita simak nasihat Profesor Dichev. Dia bilang bahwa strategi bulan purnama memiliki tingkat keberhasilan hanya 60%. Artinya, mungkin kita harus menunggu datangnya bulan purnama agar cukup “gila” untuk mempertaruhkan nasib uang jerih payah kita hanya pada siklus bulan.

 


Close [X]