: WIB    —   
indikator  I  

Perubahan dari Jonan

Perubahan dari Jonan
Pengamat Asia Tenggara

MASYARAKAT Indonesia sering bersikap kritis terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan memang sudah seharusnya begitu. Perusahaan-perusahaan ini merupakan salah satu aset bangsa dan tidak ada seorang pun, kecuali yang terbaik, boleh menjalankannya.

Untungnya, eksekutif-eksekutif generasi baru sedang bermunculan dan memimpin BUMN-BUMN yang sedang menghadapi masalah. Salah satunya adalah Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pria yang kini berusia 50 tahun itu mulai menjabat Dirut KAI sejak Februari 2009.

Tentunya, beberapa minggu terakhir ini, tidak mudah baginya. Kecelakaan yang terjadi baru-baru ini di perlintasan kereta api Bintaro, Pesanggrahan, merupakan tragedi yang mengerikan, dan menggarisbawahi krisis yang dihadapi sistem transportasi Jakarta. Selain masalah kemacetan lalu lintas, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan infrastruktur secara menyeluruh.

Tapi, Jonan telah mampu membuat perubahan besar dalam KAI. Perusahaan ini telah terlalu lama terganggu karena skandal korupsi dan pelayanan yang buruk.

Memang, banyak yang skeptis ketika Jonan mengambil alih kepemimpinan, termasuk kalangan dekatnya sendiri. Banyak orang yang menilai bahwa dia telah mengambil keputusan yang sulit dipercaya, beralih karier dari sektor swasta yang menjanjikan (dia memimpin perusahaan Citigroup Indonesia sampai 2008) ke perusahaan milik negara. Sebab, dunia BUMN bisa saja menjadi ladang ranjau: para pejabatnya harus berurusan dengan beragam stakeholders --seperti anggota parlemen, kelompok bisnis, dan masyarakat-- dibanding perusahaan rekanan yang biasanya selalu sejalan.

Namun demikian, Jonan membuat sentuhan yang kuat dengan perubahan luar biasa bagi perusahaan. Ia berhasil mengubah kondisi keuangan perusahaan yang tadinya rugi sebesar Rp 82 miliar pada 2008, menjadi untung Rp 156 miliar pada 2009. Bahkan, keuntungan KAI terus meningkat hingga Rp 425 miliar pada 2012. Jonan juga mempelopori banyak perbaikan dalam hal pelayanan, mulai AC, peningkatan keamanan di setiap gerbong, serta efisiensi dengan menerapkan sistem tiket multi-trip, meskipun penerapannya masih belum optimal.

Customer-oriented

Pemanfaatan teknologi ke dalam model bisnisnya telah membuat hidup para pelanggan KAI lebih mudah. Pemesanan dan pembelian tiket kini dapat dilakukan secara online melalui internet banking atau di salah satu contact center. Bahkan, beberapa titik penjualan juga didirikan di minimarket.

Selain itu, tingkat efisiensi dalam pelayanan kereta api juga meningkat di bawah pengawasan Jonan. Keterlambatan kedatangan atau keberangkatan berhasil dikurangi dari 40% menjadi sekitar 25% saat ini. Dapat dikatakan bahwa ini merupakan tugas berat bagi Jonan untuk mengelola organisasi besar seperti KAI, dengan lebih dari 27.000 pekerja, terutama karena ia awalnya dipandang sebagai orang luar.

Namun, di bawah kepemimpinannya, filosofi bisnis KAI telah mengalami transformasi besar-besaran. Perusahaan yang tadinya product-oriented dan self-centred, sekarang dikenal sebagai customer-oriented. Bahkan, KAI telah mencatat tonggak sejarah dengan memberikan layanan kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Medan dan Bandara Kuala Namu.

Meski begitu, perjalanan Jonan masih panjang dan tampaknya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Pemenang penghargaan The Best CEO BUMN 2013 ini memiliki rencana untuk ekspansi perusahaan di masa depan. Dua proyek besar saat ini sedang dikerjakan. Pertama, proyek pembangunan jalur kereta api baru senilai US$ 150 juta yang terhubung ke bandara di Jakarta, dijadwalkan akan selesai pada akhir 2014. Jalur baru ini akan mempersingkat perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta dan memiliki kapasitas lebih besar untuk mengangkut kargo.

Kedua, KAI juga sedang melanjutkan perluasan jalur kereta api dalam Jakarta secara keseluruhan senilai US$ 400 juta, yang ditargetkan selesai dalam lima tahun ke depan, sebagai alternatif bagi warga dalam menghadapi kemacetan. Ketika salah satu dari dua proyek tersebut selesai, hal itu akan mengubah wajah transportasi di Indonesia, terutama di Jakarta.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang dinamis seperti Jonan yang tidak takut untuk berpikir besar dan bertindak meyakinkan. Siapa yang tahu, kabinet berikutnya juga dapat dijalankan dengan satu atau dua orang seperti dia!


Close [X]