Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Indonesia dan Filipina

Indonesia dan Filipina
Pengamat Asia Tenggara

SEMUA orang sepertinya terobsesi dengan China. Namun, saat ini, para investor telah menengok tempat lain, dan Asia Tenggara adalah yang paling dipertimbangkan.

Tahun lalu, wilayah ini berhasil mendapatkan dana investasi asing sebesar US$ 111,4 miliar, hampir menyamai investasi asing yang diraih China sebesar US$ 121,1 miliar. Meskipun pertumbuhan PDB rata-rata 5% dalam satu dekade terakhir, ini sangat memadai dilihat dari besarnya skala wilayah dengan populasi lebih dari 620 juta dan GDP gabungan dari US$ 2,2 triliun pada 2012.

Itu berarti, bisnis di Asia Tenggara sangat menarik. Di Asia Tenggara, terdapat dua negara yang menonjol: Indonesia dan Filipina. Di Majalah Foreign Affairs, Karen Brooks, ahli Asia Tenggara, menyebutkan bahwa Indonesia dan Filipina adalah dua negara yang mendorong bangkitnya ASEAN.

Namun, kedua negara tersebut masih menghadapi tantangan yang hebat. Dengan penduduk sebanyak 250 juta dan GDP senilai US$ 878 miliar, keberhasilan ekonomi yang luar biasa yang dimiliki Indonesia dapat dikaitkan dengan sumber daya alam yang kaya, sektor domestik yang sangat besar, dan kebijakan makroekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan. Hasilnya, ekspor telah meningkat secara eksponen dari US$ 84 miliar menjadi US$ 204 miliar pada kurun 2007-2011.

Namun, keuangan Indonesia sangat rentan dengan besarnya defisit transaksi neraca berjalan (tercatat 8,3% dari PDB pada Q3 2013) dan nilai rupiah yang merosot. Sebagian besar defisit ini dibiayai oleh aliran portofolio.

Solusi buat Indonesia adalah memperluas produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.Negara harus berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur sehingga meningkatkan nilai tambah produksi domestik dan industri.

Beranjak ke arah timur, Filipina, rumah untuk 106 juta manusia juga menemukan dirinya sedang menghadapi masalah serupa, meskipun kurang parah, banyak tantangan. Harga elektronik (yang mencakup lebih dari 50% ekspor) telah menurun, menciptakan defisit perdagangan. Karena itu, neraca transaksi berjalan Filipina surplus sejak 2003.

Filipina juga dilindungi oleh pengiriman uang dari pekerja di luar negeri, yang tertinggi di ASEAN. Saat ini, ada lebih dari 10 juta orang Filipina bekerja di luar negeri. Pengiriman uang gabungan mereka memiliki kontribusi sekitar 9% dari PDB.

Dana ini telah meningkatkan permintaan terhadap peso Filipina dan melindungi peso dari penurunan lebih lanjut, mengakibatkan jatuhnya hanya 5% pada 2013. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Filipina secara konsisten didorong oleh sektor jasanya, kontribusinya cukup baik sebesar 57% dari PDB di 2012.

Hari ini, Filipina adalah pemimpin dunia dalam proses bisnis outsourcing. Perlu dicatat bahwa baik Indonesia dan Filipina juga diharapkan menikmati "bonus demografi." Populasi di kedua negara diharapkan tumbuh, mengurangi rasio ketergantungan.

Namun, pendidikan dan infrastruktur yang lebih baik diperlukan untuk mencegah pengangguran yang lebih besar. Filipina tampaknya memiliki keunggulan atas Indonesia karena pengembangan infrastruktur perkotaan yang lebih baik dan karena penyebaran populasi yang lebih luas di seluruh pulau.

Namun, dua negara itu akan memiliki Presiden baru di tahun 2014 dan 2016. Filipina telah memulai berbagai reformasi di bawah Presiden Benigno Aquino III, terutama dalam anti-korupsi dan liberalisasi pasar. Reformasi Indonesia lebih lama. Masa depan pasti adalah milik ASEAN, tetapi hal itu bisa dengan mudah sia-sia hilang dengan kepemimpinan yang buruk. Tahun 2014 akan menjadi tahun yang menarik.