: WIB    —   
indikator  I  

Karyawan bahagia, perusahaan tak rugi

Karyawan bahagia, perusahaan tak rugi
Guru Besar Manajemen Stratejik, Mantan Rektor Prasetiya Mulya Business School (2004-2012)

Berpikir menjadikan perusahaan sebagai tempat kerja yang paling membahagiakan para karyawannya, rasanya, belum menjadi kebiasaan pimpinan perusahaan di Indonesia. Maklum, sepanjang semester pertama biasanya para pimpinan menghabiskan waktunya untuk memikirkan perampungan perhitungan pajak, penyelesaian audit laporan keuangan, pembuatan laporan tahunan untuk RUPS, hingga mengejar target penjualan.

Sementara itu, selama semester kedua, seluruh waktu tersita untuk membuat rencana strategis tiga tahun ke depan, menyusun anggaran tahun berikutnya, mengejar target triwulan ketiga dan keempat, dan menilai kinerja untuk pemberian bonus dan kenaikan gaji. Selain itu, pimpinan masih harus memikirkan berbagai kemungkinan yang timbul di Tahun Politik 2014.

Tetapi, di Amerika Serikat (AS), setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, pemikiran menjadikan perusahaan sebagai tempat kerja yang paling membahagiakan karyawan telah serius diupayakan agar bisa diwujudkan. Ini bertolak belakang dengan pandangan bahwa tak sulit mencari karyawan baru di tengah kondisi belum pulihnya perekonomian negara itu lantaran meningkatnya jumlah pencari kerja.

Jadi, mengapa karyawan harus dibahagiakan sehingga menambah pengeluaran perusahaan? Biasanya, tujuan akhir perusahaan atau paling tidak salah satunya yang terpenting adalah laba tahun ini, tahun depan, tahun depannya lagi, dan seterusnya. Padahal, bila kondisi ekonomi belum pulih sehingga tidak memungkinkan perusahaan mengganjar kinerja karyawannya dengan menaikkan upah, maka menjadikan perusahaan sebagai tempat kerja yang paling membahagiakan karyawan merupakan keputusan tepat.

Karyawan yang bahagia akan lebih termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi. Selain agar dianggap lebih berharga sehingga berpeluang lebih besar untuk dipertahankan oleh perusahaan, rasa bahagia akan membuat mereka lebih kreatif mencari peluang pendapatan baru atau penghematan biaya yang ujung-ujungnya untuk meningkatkan laba.

Hasil survei sebuah perusahaan konsultan sumber daya manusia (SDM) CareerBliss terhadap 9.800 perusahaan berhasil mengidentifikasi lima profesi atau bidang pekerjaan yang karyawannya memiliki tingkat kebahagiaan paling tinggi dibandingkan dengan profesi lain. Kelima profesi itu secara berturut-turut adalah software publishers (skor 4,014), stasiun radio dan televisi (3,978), jasa pendidikan (3,954), manajemen perusahaan (3,898), serta film dan video (3,846).

Software publishers merupakan entitas bisnis penghubung antara pengembang software dan distributor yang menunjukkan nilai tertinggi “kebahagiaan” karyawan pada kategori mengenai “rekan kerja”. Rekan kerjanya adalah para pengembang software yang sangat kreatif. Nilai tinggi juga diperoleh mengenai “cara kerja” yang memberi kebebasan sangat besar bagi karyawan untuk membuat produk dari pengembang software sehingga berhasil didistribusikan oleh distributor.

Tingginya tantangan untuk bekerja sama dengan orang-orang kreatif, memiliki kebebasan berkreasi dan kepuasan karena berhasil membahagiakan para pendengar dan pemirsa seperti ditunjukkan oleh rating suatu program, menjadi ciri dari kebahagiaan karyawan yang bekerja di stasiun radio dan televisi.

Adapun  tantangan di bidang jasa pendidikan untuk mencerdaskan orang lain merupakan “kebahagiaan” seorang guru. Guru diberikan kebebasan sebesar-besarnya ketika berada di depan kelas dan kepuasan peserta didik bisa terasakan, baik saat mengajar di dalam kelas hingga bertahun-tahun kemudian bila ada muridnya yang sukses.

Kebahagiaan manajer perusahaan adalah ketika berhasil mengatur banyak orang dengan berbagai spesialisasi, sifat, dan perilaku yang berbeda-beda. Kebahagiaan mengekspresikan seluruh kemampuan diri juga ciri khas pekerja kreatif di bidang seni pertunjukan, seperti perfilman. Mulai dari penulis skrip, artis, desainer busana, pengambil gambar, sutradara, dan produser.


Kinerja perusahaan

Ciri-ciri kebahagiaan yang tecermin dalam diri para karyawan di kelima profesi tersebut ternyata memiliki kesamaan dengan perusahaan. Berdasarkan survei CareerBliss, perusahaan-perusahaan besar seperti Pfizer, Qualcomm, dan GE yang kerap disebut perusahaan terbaik dalam survei-survei lain, memang tercantum dalam daftar 10 “Perusahaan Paling Membahagiakan” selama dua tahun terakhir ini.

Bidang usaha 10 perusahaan itu sangat beragam, mulai dari teknologi, keuangan, perawatan kesehatan hingga ritel. Karyawan di 10 perusahaan itu memberikan nilai tinggi untuk faktor-faktor seperti keseimbangan antara kerja dan kehidupan di luar kerja, kompensasi, peluang karier, budaya perusahaan (termasuk reputasi), dan dukungan sumber daya (dana, orang, informasi) yang diperlukan dalam pekerjaan.

Hasil survei CareerBliss tersebut plus survei-survei sebelumnya tentang “Perusahaan Terbaik” menunjukkan adanya hubungan antara tingkat kebahagiaan karyawan dan kinerja perusahaan. Semakin tinggi tingkat kebahagiaan karyawan maka kian besar peluang perusahaan menghasilkan kinerja yang melampaui perusahaan dengan tingkat kebahagiaan karyawan yang lebih rendah.

Berdasarkan survei tersebut juga dapat menjadi sebuah rekomendasi untuk perusahaan bahwa membahagiakan karyawan bukanlah beban (expenses), melainkan investasi yang cepat atau lambat akan terbayar (pay off) melalui kinerja yang lebih baik. Meski merupakan biaya (cost), secara relatif nilainya tidak besar karena bisa berbentuk penyediaan makan siang bersama, jam kerja yang fleksibel, kelas tak berbayar untuk peningkatan kreativitas, waktu bebas menjalankan kegiatan sosial (mengurus koperasi), dan penghargaan atas ide-ide kreatif yang dapat dijalankan.

Selain tingkat keluar-masuk karyawan akan menjadi sangat rendah sehingga pengembangan SDM tidak sia-sia, perusahaan juga tidak sekadar memiliki SDM tetapi “modal manusia” yang bermental all out di atas landasan rasa berbahagia untuk melakukan berbagai terobosan. Terobosan itu bisa dari sisi produk, pasar maupun perbaikan sistem di dalam perusahaan.

Nah, semua itu diawali dari sebuah perbuatan yang sangat sederhana: “Give and you will be given”.        


Close [X]