: WIB    —   
indikator  I  

Strategi Perubahan RJ Lino

Strategi Perubahan RJ Lino
Pengamat Asia Tenggara

MENGELOLA Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu tidak mudah, terutama jika menyangkut pelabuhan terbesar di Indonesia. Pengawasan dari masyarakat sangat besar. Hanya orang yang mampu menanggalkan kepentingan pribadinya dan mau menghadapi kritik yang bisa diserahi tugas mengelola.

Saya telah menulis tentang Ignasius Jonan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia. Hal serupa saya ingin tulis pada PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II yang dipimpin oleh Richard Joost Lino, yang biasa disingkat RJ Lino.

Ia memulai kariernya di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut hingga akhirnya dipercaya untuk mengelola proyek pembangunan pelabuhan Tanjung Priok yang didanai oleh Bank Dunia. Setelah 12 tahun bekerja untuk Tanjung Priok, Lino kemudian bekerja di Dwipantara Transconsult. Dia menjadi Direktur Proyek AKR Nanking selama tiga tahun di China. Tidak mengherankan jika dia lantas ditunjuk menjadi Presiden Direktur Pelindo II pada 2009.

Banyak kalangan saat itu merasa optimistis karena Lino memiliki apa yang dibutuhkan untuk mengubah perusahaan menjadi lebih baik. Lino adalah sosok CEO yang modern, memiliki semangat dan pengetahuan di bidang yang digelutinya. Dan, yang lebih penting, dia merupakan seorang komunikator hebat yang mampu menginspirasi bawahannya.

Tugas pertama Lino ketika memimpin Pelindo II adalah mengembangkan sumber daya manusia (SDM). Dia berusaha untuk meningkatkan energi dan kapasitas timnya. Lino meyakini bahwa kunci sukses Pelindo II untuk bisa diakui secara global terletak pada kemampuan perusahaan dalam menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompeten. Realisasinya, lebih dari 500 karyawan dikirim ke luar negeri untuk menjalani pelatihan dan program lainnya.

Pada saat yang sama, Lino-peraih The Best CEO pada 2011-juga menyadari perlu pembenahan infrastruktur yang memadai. Lino akhirnya berhasil meningkatkan efisiensi fasilitas dari waktu ke waktu. Dan, di bawah kepemimpinannya, pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo II telah mengalami transformasi secara bertahap.

Sebelumnya, pengiriman langsung ke Tanjung Priok hanya 35% dari total pengiriman, sedangkan sisanya datang dari pelabuhan lain seperti Tanjung Pelepah dan Klang di Malaysia. Seiring dengan peningkatan fasilitas dan aksesibilitas, angka ini berlipat ganda menjadi 71% pada 2010 dan mencapai 82% pada tahun 2011.

Saat ini, Tanjung Priok sedang melakukan ekspansi besar-besaran. Dana US$ 2,5 miliar akan digunakan untuk konstruksi tahap pertama pada 195 hektare lahan di Jakarta Utara. Sedangkan US$ 1,5 miliar akan dialokasikan untuk pembangunan empat terminal peti kemas di tahap kedua.

Kinerja keuangan yang kuat juga terlihat. Laba bersih sebesar Rp 1,79 triliun dan pendapatan Rp 5,6 triliun telah diraih pada 2012. Pada September 2013, perusahaan ini meraup pendapatan Rp 8 triliun. Lino telah menerima pujian yang memang layak atas perubahan yang dia lakukan.

Sayangnya, kepemimpinan Lino bukan tanpa kontroversi. Beberapa bulan terakhir ini, terjadi konflik internal dengan serikat pekerja perusahaan. Pengkritik dari internal tidak puas terhadap struktur kerja dan layanan efisien yang diinisiasi oleh Lino. Mereka menuduh Lino melakukan penyimpangan administrasi dan tidak bisa bekerja sama. Beberapa protes yang terjadi di Tanjung Priok dalam dua bulan terakhir mengganggu kegiatan bisnis di sana.

Tetapi, tidak dapat dihindari bahwa mengubah perusahaan, berarti Anda menghadapi kepentingan kuat di suatu kelompok tertentu dan mengoreksi kebiasaan yang telah lama dibangun. Bagaimanapun, pemimpin pasti dikritik karena harus mengabaikan satu pemangku kepentingan. Kompromi untuk menghindari konflik seperti ini bisa mengakibatkan perusahaan di ambang bencana.

Mungkin inilah sebabnya banyak perusahaan milik negara menghadapi tantangan seperti itu. Pemimpin seharusnya memimpin. Manajemen dan kebangkitan perusahaan tidak seharusnya menjadi kontes popularitas.

Masyarakat bebas untuk mengkritik Lino atas caranya menangani masalah hubungan kerja di Pelindo II. Hal itu adalah hak mereka. Tetapi mereka juga harus bertanya pada diri sendiri: apakah saat ini perusahaan akan lebih baik tanpa dia? Melalui Lino, tentu kita bisa mengharapkan hal yang lebih baik dari Pelindo II.


Close [X]