: WIB    —   
indikator  I  

Prospek Jawa Tengah

Prospek Jawa Tengah
Pengamat Asia Tenggara

JAKARTA bukanlah satu-satunya kota yang menderita karena banjir. Semarang, ibukota Jawa Tengah, juga mengalami bencana banjir yang hebat.

Pada awal Februari lalu, menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Jawa Tengah, lebih dari 30.000 orang telah mengungsi akibat musibah banjir. Lebih memprihatinkan lagi, saat ini sebagian besar daerah Jawa Tengah diterpa lapisan abu vulkanik dari perut Gunung Kelud sebanyak 200 juta meter kubik.

Tentu, akan terkesan sedikit aneh berbicara tentang prospek dari Jawa Tengah. Tetapi bagaimanapun, di saat seperti ini, tetap penting bagi kita untuk melihat masa depan. Saya percaya Jawa Tengah adalah "permata yang terlupakan" di Indonesia.

Perekonomian Jawa Tengah tumbuh sebesar 6,3% pada tahun 2012 dan 6% di tahun 2011. Ini merupakan potensi besar yang jelas terabaikan. Pertama, Jawa Tengah punya skala ekonomi. Jawa Tengah dihuni oleh 32,4 juta orang, yang menjadikannya sebagai provinsi ketiga dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia. Potensi ini saja dapat memberikan pasar konsumen yang sangat besar.

Selain itu, tercatat ada 16,91 juta tenaga kerja di Jateng pada Februari 2013. Tenaga kerja di sana juga lebih murah, meskipun Semarang, sebagai ibukota memiliki upah minimum paling tinggi di provinsi itu, yaitu sebesar Rp 1,42 juta per bulan sejak 2014.

Soal upah menjadi penting karena investasi akan terhambat apabila tingkat upah terlalu tinggi. Di saat perusahaan asing keluar dari Indonesia karena biaya tenaga kerja tinggi, beberapa di antaranya, terutama perusahaan tekstil, malah relokasi pabriknya ke Jawa Tengah.

Selain itu, lahan industri juga masih murah di sana. Hal ini membuat Jawa Tengah sangat kompetitif, dan ini menjadi semakin terlihat jelas dari waktu ke waktu. Saat ini, Jawa Tengah merupakan jantung dari industri tekstil dan garmen di Indonesia yang diproyeksikan menghasilkan US$ 14 miliar untuk ekspor tahun ini. Industri ini menyumbang sekitar US$ 169 juta di sektor ekspor produk pada bulan Juni 2013.
H.M. Lukminto, pendiri Sritex, raksasa tekstil internasional yang berbasis di Solo, telah meninggal. Tetapi, kita masih bisa mengharapkan perusahaannya mencapai tingkat yang lebih tinggi. Selain mengerjakan pesanan garmen senilai US$ 50 juta dari Uniqlo tahun ini, merek internasional lain seperti H&M dan Guess juga jadi klien Sritex.

Di saat yang sama, provinsi ini juga telah dilengkapi dengan infrastruktur yang terpelihara dengan baik. Akses ke Jawa Tengah telah ditingkatkan dengan adanya bandara internasional Adi Sumarmo di Solo dan Achmad Yani di Semarang.

Selain itu, konektivitas Jawa Tengah akan lebih meningkat setelah pembangunan jalan tol Trans-Jawa selesai. Jalan tol itu akan banyak membantu untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di sepanjang Pantai Utara (Pantura) dan menyedot lebih banyak investasi ke Jawa Tengah, karena letak provinsi ini strategis, di antara Surabaya dan Jakarta. Di saat yang sama, pelabuhan Tanjung Mas Semarang sedang dalam proses pembangunan kembali selama beberapa bulan terakhir, dan ini juga akan meningkatkan aktivitas perdagangan.

Di sektor energi, lapangan gas Kepodang yang terletak sekitar 180 kilometer arah timur laut dari Semarang diharapkan bisa beroperasi pada bulan Oktober 2014. Konstruksi pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara senilai US$ 4 miliar yang terletak di Batang itu diharapkan bisa dimulai setelah pembebasan lahan beres.

Tentu saja, Jawa Tengah rentan terhadap bencana alam, khususnya ancaman gunung berapi. Namun, hal ini telah membawa berkah bagi Jawa Tengah berupa lahan pertanian yang subur dan mampu menyumbang 20% PDB provinsi di 2011. Tantangan bagi Jawa Tengah adalah menemukan pemimpin dengan visi untuk memenuhi janjinya.

Beruntung, Gubernur dijabat oleh seorang mantan aktivis, Ganjar Pranowo. Komitmennya untuk menghidupkan kembali koridor selatan provinsi ini sangat tepat mengingat adanya kesenjangan pembangunan yang cukup besar antara bagian utara dan selatan Jawa Tengah.

Kini, salah satu putra Jawa Tengah sedang naik daun dalam bursa capres 2014. Jika Joko Widodo bisa memenangkan kursi presiden, tentu akan terjadi "Jokowi Effect" di sana, berupa ledakan ekonomi dan infrastruktur. Saat ini merupakan momen yang sangat menentukan bagi Jawa Tengah. Masyarakat harus memandang provinsi ini lebih serius.


Close [X]