: WIB    —   
indikator  I  

Menyoal Produk Domestik Bruto Indonesia

Menyoal Produk Domestik Bruto Indonesia
Pengamat Pasar Modal & Pasar Uang

KITA patut bangga membaca estimasi program perbandingan internasional (international comparison program/ICP) Bank Dunia yang menempatkan Indonesia di urutan ke-10 ekonomi terbesar berdasarkan data 2011. Menggunakan produk domestik bruto purchasing power parity (PDB-PPP) atau PDB paritas daya beli, Indonesia masuk 10 besar dengan US$ 2 triliun, naik lima tingkat dari posisi sebelumnya dengan kontribusi sebesar 2,3% terhadap perekonomian dunia.
 
Padahal berdasarkan PDB nominal, Indonesia masih belum beranjak dari posisi 16 dunia dengan nilai PDB sebesar US$ 850 miliar, satu peringkat di bawah Korea Selatan dengan PDB sekitar US$ 1,1 triliun.

Amerika Serikat (AS) yang mengambil alih posisi jawara dari Inggris pada tahun 1872 tetap teratas dengan US$ 15,5 triliun atau 17,1% PDB PPP dunia. Angka ini lebih rendah daripada PDB nominalnya yang US$ 16,2 triliun.
 
Di urutan kedua ada China yang menguasai 14,9% ekonomi dunia dengan PDB PPP sebesar US$ 13,4 triliun meskipun PDB secara nominal masih US$ 9 triliun.
 
Yang menarik dari estimasi ICP ini adalah China yang diprediksi akan menggantikan dominasi ekonomi Amerika yang sudah berlangsung 140 tahun. Padahal PDB nominal per kapitanya hanya US$ 6.800 dengan peringkat yang juga masih jauh di bawah yaitu 85 dunia.
 
Apa itu PDB paritas daya beli dan apa bedanya dengan PDB nominal, PDB per kapita, dan pendapatan per kapita?

Ada beberapa cara untuk menunjukkan kebesaran sebuah negara, seperti kekuatan militer, luas wilayah, pengaruh budaya, dan volume ekspor. Akan tetapi, sejak ahli statistik mengenalkan ukuran untuk output nasional pada tahun 1930-an, ekonom sepakat untuk mengacu pada satu ukuran yang sama yaitu total barang dan jasa yang dihasilkan dalam wilayah sebuah negara atau produk domestik bruto (PDB).
 
Jika angka ini dibagi dengan jumlah penduduk yang ada di negara itu, hasilnya adalah PDB per kapita. Jika PDB ini dikurangi produk atau pendapatan milik orang asing yang tinggal di negara itu dan ditambah pendapatan warga negara itu yang bekerja di luar negeri, kita mendapatkan produk nasional bruto (PNB). Jika PNB ini dibagi seluruh warga negara yang ada, kita memperoleh pendapatan per kapita.
 
PDB dan pendapatan per kapita, awalnya dipercaya dapat digunakan untuk membandingkan kesejahteraan warga suatu negara relatif terhadap warga negara-negara lain. Tapi, dalam perkembangan, ekonom memandang ukuran ini mengandung kelemahan.
 
Pendapatan per kapita belum memperhitungkan perbedaan standar kehidupan dan harga yang berlaku di suatu negara, seperti tiket bus dan kereta api, ongkos sewa rumah, atau biaya gunting rambut. Dalam pendekatan ini, biaya hidup dan harga barang dan jasa yang sama diasumsikan sama.
 
Menyadari harga barang dan jasa lebih tinggi di negara maju daripada di negara berkembang, penggunaan pendapatan per kapita menjadi kurang pas. Untuk mengoreksi kelemahan ini, dibentuklah ICP pada tahun 1968 untuk menyesuaikan PDB nominal dengan memasukkan perbedaan harga dan biaya hidup di negara kaya dan di negara lebih miskin.
 
PDB yang sudah memperhitungkan perbedaan harga barang dan jasa antar negara ini disebut PDB PPP. Sebagai ilustrasi, misalkan PDB nominal per kapita negara A dua kali PDB nominal per kapita negara B. Namun, harga-harga di negara A juga dua kalinya harga di negara B. Berdasarkan paritas daya beli (PPP), PDB per kapita kedua negara itu sama.
 
Dalam survei pertamanya di tahun 1970, ICP hanya melibatkan 10 negara dan berkembang menjadi 199 negara dalam survei terakhirnya di tahun 2011. ICP bertujuan untuk memberikan ukuran yang lebih baik daripada sekedar PDB atau pendapatan per kapita.
 
Faktanya, PDB paritas daya beli sendiri juga banyak dikritik. Pada tahun 1980, Yunani dan Gabon (negara yang tercatat pernah gagal bayar utangnya) berada di peringkat lebih tinggi daripada Inggris padahal PDB nominal per kapita dua negara ini hanya sepertiganya Inggris. Timor Leste pada estimasi tahun 2014 juga ditempatkan lebih tinggi daripada Polandia, Estonia, dan Hongaria dan hampir sejajar dengan penjajahnya yaitu Portugal, padahal PDB nominal per kapitanya hanya US$ 4.669 berbanding US$ 14.166 di Portugal.

Kritik lainnya, bagaimana alokasi biaya antar negara bisa dibandingkan jika belanja makanan di China sampai sepertiga tetapi di Amerika hanya 14%, sementara pengeluaran untuk perumahan di China 17% dan di Amerika mencapai 37%? Persentase mana yang digunakan untuk menghitung biaya makanan dan akomodasi?
 
Banyak barang dan jasa yang dikonsumsi secara luas di negara-negara kaya ternyata tidak tersedia di negara-negara miskin. Kritik lainnya, di Asia kita makan nasi sementara beras sulit dicari di Afrika. Bagaimana menghitung dan membandingkan biaya untuk konsumsi makanan pokok di dua benua ini?
 
Kesimpulannya, kita boleh gembira dengan masuknya negara kita dalam 10 besar ekonomi dunia versi PDB PPP dengan PDB per kapita US$ 8.389. Tapi, pendapatan per kapita kita secara nominal tetap sekitar US$ 3.600 dan masih di posisi 107.
 
Saya lebih senang mendengar PDB nominal kita menembus US$ 1 triliun untuk bergabung dengan 15 negara lainnya atau S&P menaikkan peringkat Indonesia menjadi BBB- atau investment grade. Semoga harapan ini dapat segera terealisasi.


Close [X]