: WIB    —   
indikator  I  

Antara nyangkut dan cut loss

Antara nyangkut dan cut loss
Chairman Department of Finance Prasetiya Mulya Business School

Saya ingin membahas sebuah surat elektronik (e-mail) yang masuk sekitar tiga minggu lalu ke alamat prof.telo@gmail.com.

“Membaca ulasan Bapak di Wake Up Call, tanggal 3 Oktober 2011, saya ingin bertanya: apakah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa pulih kembali dalam waktu dekat? Mengingat krisis di Eropa dan Amerika Serikat (AS) cukup serius. Saya investor di Bursa Efek Indonesia dengan posisi nyangkut dan tidak melakukan cut loss.”

Well, 2011 tampaknya bukan tahun yang baik bagi investor saham. Namun jika investor aktif mengevaluasi portofolionya, sebenarnya ada beberapa kali peluang untuk menghindari posisi nyangkut, bahkan menangguk keuntungan.

Perjalanan IHSG tahun ini cukup berliku. Dibuka di  level 3.704, IHSG langsung turun pada bulan Januari karena kekhawatiran investor asing terhadap inflasi tinggi di Indonesia. Ketika hal ini tak terbukti, perlahan tapi pasti IHSG rebound kembali ke level semula. Di akhir bulan April, IHSG sudah kembali di level 3.700.

Sementara pada periode akhir April hingga awal Agustus lalu,  IHSG melesat dari 3.700 hingga 4.195, yang merupakan rekor tertinggi indeks tahun ini. Artinya, investor mempunyai peluang untuk mengevaluasi portofolionya: apakah harus melakukan profit taking jika harga saham yang dipegang dirasa sudah terlalu mahal.

Imbal hasil yang diperoleh sekitar 14% selama empat bulan atau sekitar 40% setahun. Not bad! Inilah yang dilakukan oleh mayoritas investor asing, profit taking sebelum kekhawatiran krisis utang Eropa dan resesi AS merebak.

Baru di pekan ketiga bulan September hingga awal Oktober ini badai menerpa. Sehingga, IHSG anjlok tajam dari level 3.800 ke 3.256, yang merupakan rekor terendah indeks tahun ini.

Di titik inilah investor yang memegang saham dihadapkan dengan pilihan yang sulit: cut loss atau membiarkan uangnya nyangkut?

Saya selalu menyarankan agar investor tidak mengambil keputusan secara panik. Saat IHSG turun 326 poin (9%) dalam sehari (pada 22 September 2011), kalau mau berpikir rasional, apakah penurunan sebesar itu pantas? Yang pasti para investor atau trader yang oportunis di bursa saham siap membeli saham-saham yang sedang dilanda kepanikan harga.

Nah, jadi apa yang harus dilakukan: cut loss atau dibiarkan nyangkut? Jika kita adalah trader, jawabannya lebih mudah karena trader harus disiplin dalam cut loss maupun profit taking. Misalnya saat saham sudah turun atau naik 7%, segera jual. Dengan begitu trader tidak mengalami kerugian lebih parah dan terpaksa jadi anggota “The Nyangkutters” jika harga semakin turun.

Sedangkan jika Anda seorang investor, keputusan cut loss sebaiknya dilandasi pada pertimbangan apakah asumsi saat kita membeli saham masih berlaku? Jika asumsi membeli sudah tidak berlaku maka cut loss merupakan keputusan bijak.

Contohnya, pada Oktober 2008 saham Astra Internasional (ASII) sempat jatuh 60% dari Rp 17.000 ke Rp 7.100 per saham dalam waktu tiga pekan. Sedangkan sepanjang 2007, rentang harga ASII adalah sebesar Rp 14.000 – Rp 27.000.

Misalkan investor, saat membeli saham ASII pada harga Rp 17.000 per saham meyakini harga tersebut adalah underpriced. Pada harga Rp 7.100, jika dia masih meyakini saham ASII tersebut underpriced, mengapa harus menjual pada harga diskon 60%? Jika tidak panik, tujuh bulan kemudian harga ASII sudah kembali ke Rp 17.000. Bahkan, tiga tahun kemudian harganya sudah naik menjadi sembilan kali lipat!

Nasib berbeda dialami investor yang membeli saham Bumi Resources (BUMI) saat harga teramat tinggi. Saham BUMI dihargai sekitar Rp 700 pada Oktober 2007. Seiring lonjakan harga minyak dunia dan batubara, saham ini sempat menyentuh Rp 8.750 pada 10 Juni 2008.

Harga minyak saat itu mencapai rekor US$ 126 sebelum turun tujuh bulan kemudian ke US$ 31. Bagi investor yang membeli saham BUMI di harga ini pasti berasumsi saham ini underpriced karena memprediksi harga minyak masih naik terus.

Saat krisis tahun 2008, harga saham BUMI turun mengikuti jejak harga minyak dunia dan batubara. Berbeda dengan ASII yang terdiskon 60% dalam tiga minggu, saham BUMI turun 94% dari Rp 8.750 ke Rp 500 dalam waktu tujuh bulan. Artinya banyak waktu bagi investor berpikir apakah asumsi waktu beli masih berlaku atau tidak, dan melakukan cut loss.

Misalnya, apakah harga minyak akan bertahan di atas US$ 100 per barel? Jika tidak, kemungkinan harga saham BUMI sudah overpriced dan cut loss bisa menghindarkan investor dari keanggotaan panjang “The Nyangkutters”.

Bagi investor saham, thesis investasi sangat jelas: jual saat kita meyakini saham overpriced, beli saat underpriced dan hold saat fairly priced.


Close [X]