: WIB    —   
indikator  I  

Harmonisasi seni dan dimensi fisik

Harmonisasi seni dan dimensi fisik
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

ANDA pasti sangat akrab dengan pepatah "Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat". Harmonisasi
keduanya memang mutlak dibutuhkan dalam menjalankan bisnis. Ketika fisik sedang tidak mendukung,
pebisnis akan menemui sejumlah hambatan, mulai dari kesulitan menciptakan ide-ide inovasi hingga
memberi arahan di lapangan.

Alhasil ketika kondisi tersebut tak kunjung berubah, hampir dapat dipastikan ada pengaruh negatif ke
profit perusahaan. Beberapa waktu lalu, kelompok Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM) mengalami kedukaan
yang mendalam. Seorang mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis Reguler 8 Raifaza Alfaridzi
berpulang. Siswa yang dikenal berkat kepiawaiannya memainkan piano ini meninggal dalam usia yang
sangat belia.

Meski saya hanya mengenalnya dalam waktu yang sangat terbatas, namun beberapa ungkapannya ternyata
memberi makna yang sangat mendalam. Satu yang saya ingat adalah perlunya harmonisasi antara seni dan
kekuatan fisik.

Sepintas, mungkin Anda tidak menemukan hal yang baru dalam ide tersebut. Men sana in corpore sano
sudah dikenal oleh kebanyakan dari kita, saat menduduki bangku sekolah dasar. Namun tidak demikian
halnya dengan sisi praktis dari konsep tersebut. "Saat menjalankan roda usaha, segala sesuatu terlihat
sangat penting sehingga seringkali kita tidak punya waktu untuk berolah raga. Padahal kekuatan fisik
mutlak diperlukan terlebih saat bisnis sedang berada pada fase pengenalan," ungkap Tri Alga.

"Baru terasa setelah kondisi tubuh menurun, sedangkan di sisi lain ada banyak pekerjaan yang
sebenarnya sudah tidak dapat ditunda lagi," imbuh dia. Fenomena itu yang mendudukkan konsep manajemen
sebagai sebuah "seni". Marie Pierce, seorang cendekiawan mengungkapkan bahwa "Management is an art of
doing something."

Napas dasar dari manajemen dipahami dalam konteks seni. Sehingga dalam seni inilah, manajemen dikenal
dengan fleksibilitas dan keindahannya. Coba lihat bagaimana cara yang efektif untuk membangun hubungan
dengan pelanggan. Firman Agus, anggota PPM yang juga seorang pebisnis kuliner punya pengalaman semacam
itu. "Suatu ketika saya terlambat mengawal pasukan katering mengantar pesanan kepada seorang pelanggan
kami. Setibanya di lokasi, kami hanya terlambat lima belas menit dari jadwal. Namun apa boleh buat
ratusan karyawan sudah menanti kehadiran kami yang akan menyajikan makan siangnya. Caci maki pun
menjadi santapan siang kami kala itu," tutur Agus.

Bagi Agus yang kala itu masih dalam fase pembelajaran, terlambat menghantarkan produk diyakini sebagai
hal yang dapat termaafkan. Namun tidak demikian halnya dengan si pelanggan. "Kontrak kerja kami
langsung diputus Pak," tegas Agus. "Saya jadi kehilangan pelanggan, yang berarti juga kehilangan kas
masuk," imbuh dia.

Bahagia dan inovasi Sungguh sebuah pembelajaran yang baik bagi kita sekalian. Kualitas memang telah
menjadi faktor dominan dalam menjalankan roda usaha. Ketika hal yang satu ini hilang, maka secara
otomatis melayang pula lah kepercayaan konsumen. Namun satu hal yang menarik untuk dicermati adalah
cara Agus untuk tetap memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan.

"Keesokan harinya saya resmi datang berkunjung untuk meminta maaf Pak. Mulai dari membuat pernyataan
tertulis hingga berupaya memperbaiki mutu layanan berupa layanan gratis. Niatan kami kala itu tulus
untuk meminta maaf, tanpa adanya motif berharap agar kontrak diteruskan," tutur dia.

Inilah penerapan customer relationships management, terutama di bidang service recovery. Memang
praktik ini mengandung biaya, namun wajib dilakukan. Di situlah sebenarnya seni dalam berbisnis.
Ketika ungkapan permintaan maaf hanya dilakukan secara formal tertulis, seperti melalui surat, maka
respons yang diperoleh akan sangat berbeda dengan ketika dilakukan meminta maaf secara kesantunan adat
timur.

Paham Timur menekankan bahwa ungkapan rasa bersalah harus diekspresikan secara langsung kepada pihak
yang dirugikan. Hanya dengan cara itu kita dapat beroleh maaf yang tulus. Dari pengalaman itu, Agus
mempelajari beberapa hal. "Pertama, masalah komunikasi dengan tim, lalu kedisiplinan yang ternyata
bersumber pada kesiapan fisik dalam bekerja di kesehariannya, Pak," ujar dia.

Secara pribadi, saya sangat sepakat dengan kesimpulan Agus. Profesionalisme harus diprioritaskan,
hingga hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana menyiapkan fisik agar tetap prima dalam
beraktivitas. Secara psikologis ditemukan bahwa ketika setiap fungsi tubuh beroperasi secara utuh,
maka manusia cenderung memiliki perasaan yang bahagia.

Nah, perasaan inilah yang pada akhirnya akan menciptakan semangat untuk berkarya. Kebahagiaan yang
ditandai dengan perasaan tanpa tekanan, umumnya berujung ke pola pikir yang siap keluar dari zona
nyaman saat ini. Di situlah ide-ide kreatif inovatif umumnya dapat dengan mudah ditemukan. Tak jarang
bahkan pada kondisi tersebut manusia mampu merumuskan ide-ide bisnis terbaik.

"Benar, Pak. Beberapa waktu kemudian, saya kembali diminta menyuplai makan siang karyawan di pabrik
itu. Tentunya dengan persyaratan yang cukup kompleks. Secara pribadi saya ikhlas mengingat ini
merupakan poin pembelajaran bagi kesuksesan yang akan diperoleh di masa depan," tutur Agus.

Akhirnya, harmonisasi seni dan dimensi fisik jualah yang akan mengantar para Pebisnis Pengkolan
Menteng pada kesuksesan kariernya. Mau tahu apa yang terjadi di Jalan Menteng Raya 9-19 depan Tugu
Tani Jakarta Pusat, tempat para anggota Pebisnis Pengkolan Menteng menempuh studi? Simak terus rubrik
Diary PPM.


Close [X]