Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Ugensi manajemen risiko bencana

Ugensi manajemen risiko bencana
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

Banjir yang melanda kawasan Jabodetabek, beberapa waktu lalu, berimbas besar ke dunia bisnis. Selain terhentinya kegiatan operasional, banjir memaksa sejumlah pusat perekonomian, mulai dari pasar hingga pusat perdagangan dan mal, tutup akibat derasnya air.

Banjir di awal tahun ini juga melanda budidaya ayam kampung yang dilakoni duo pebisnis muda PPM, Yehuda Ardhito dan Abimanyu. Dua mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis angkatan enam ini di PPM School of Management itu, harus berji-baku hadapi banjir. "Kami tak pernah membayangkan banjir akan datang sesering ini Pak. Karena itu, kami tidak punya rencana mitigasi yang lengkap di tahap penyiapan kandang," tutur Yehuda.

Lokasi peternakan yang berada di wilayah Bekasi Selatan, di tahun-tahun lalu, jarang terendam banjir. Itu terlihat dari kehadiran sejumlah pebisnis ayam kampung di wilayah tersebut. "Suatu malam kami dikagetkan oleh teriakan ayam-ayam di kandang pertama. Kandang itu dihuni ayam yang berusia lebih dari 21 hari, dan telah memperoleh vaksinasi. Ketika dihampiri, tampak jelas air keluar dari lantai kandang yang berisi sekam," tutur Yehuda.

Spontan, kondisi itu menciptakan kepanikan pengelola kandang. Maklumlah, ayam dari jenis apa pun, pasti takut dengan air. Apalagi, jika air yang mengalir secara deras. Selain mampu menciptakan kepanikan yang berujung pada kematian, banjir di dalam kandang berpotensi menumbuhkan bibit penyakit yang pada akhirnya menurunkan hasil panen. "Untung kami masih menyisakan satu kandang kosong yang tengah dalam fase persiapan lahan, sebelum bibit dimasukkan. Secepat kilat, kami memindahkan satu per satu ayam dari kandang yang banjir ke lokasi baru. Prosesnya pun terus dipantau agar ayam tidak stres. Jika mereka stress, besar kemungkinan terjadi perkelahian yang berujung pada kematian," kisah Yehuda.

Syukurlah, pemindahan tersebut berlangsung dengan lancar hingga ayam-ayam yang dibudidayakan tidak mengalami perubahan berarti. Indentifikasi risiko Duet pebisnis PPM itu, menarik satu pelajaran dari musibah banjir itu. "Pentingnya pengelolaan risiko, terutama risiko bencana alam, Pak," ujar Abimanyu. Antisipasi tersebut tepat adanya, terlebih, lokasi peternakan kini masuk kategori daerah rawan banjir.
Mengelola risiko sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Anda hanya perlu memahami beberapa prinsip. Pertama terkait definisi risiko. Meski kini banyak pihak menyamakan risiko dengan ketidakpastian, namun terdapat perbedaan yang sangat signifikan di antara kedua istilah itu. Risiko merupakan kejadian di mana peluang terjadinya, maupun dampak yang ditimbulkan, dapat diperkirakan dengan pasti.
Pengalaman terkena imbas banjir pada waktu sebelumnya, dapat digunakan sebagai pedoman pengelolaan. Misalnya, peternak menyediakan kandang cadangan sebagai tempat penampungan ketika banjir datang.
Kedua, langkah-langkah pengelolaan risiko itu sendiri. Secara hirarkis ada lima langkah yang dapat dijadikan alternatif. Langkah pertama adalah mengidentifikasi risiko. Langkah ini dilakukan dengan melihat kejadian-kejadian yang membawa dampak negatif pada budidaya ternak. Seperti misalnya hujan lebat selama waktu tertentu. Selain berpeluang menciptakan banjir, hujan lebat secara otomatis disertai angin dan suhu udara yang lebih dingin. Mengingat kedua hal itu berdampak buruk terhadap kesehatan ternak, pebisnis harus waspada ketika menemui kondisi tersebut.

Setelah identifikasi dilakukan, tahap kedua adalah mengukur potensi dampak yang ditimbulkan serta peluang terjadinya event. Dampak kerugian umumnya dihitung dengan menggunakan nilai rupiah. Misalnya, setiap kematian satu ekor ayam akibat timbulnya banjir identik dengan kerugian sebesar Rp x. Dengan cara itu, pebisnis dapat mengkalkulasi kerugian total dari bencana.

Langkah ketiga adalah menentukan peluang terjadinya event. Estimasi bisa dilakukan dengan menggunakan pengalaman di masa lalu. Sebenarnya, potensi bencana banjir di wilayah Jabodetabek. sudah dapat diestimasi. Bulan Januari dan Feburari bisa dimasukkan ke kategori waspada risiko.

Langkah berikutnya adalah menentukan skala prioritas penanganan risiko. Dari sekian banyak hasil identifikasi yang telah dilakukan, pebisnis tinggal melihat mana saja yang menimbulkan dampak kerugian terbesar dengan peluang terjadinya paling tinggi. Atas risiko itulah, program mitigasi perlu dilakukan. Merujuk ke contoh sebelumnya, bila curah hujan berangsur-angsur bertambah, maka langkah memberikan pemanas ruangan pada kandang bisa jadi langkah mitigasi yang tepat. "Jika demikian langkah pemindahan ayam dari kandang lama ke kandang baru yang kami lakukan sudah tepat ya Pak?" tanya Yehuda.
Bencana banjir tahun ini tidak cuma menganggu aktivitas produksi. Program pemasaran dan distribusi pun akan terganggu. Di kedua dimensi itu, penanganan risiko juga harus dilakukan. "Mengingat usia ayam yang terus bertambah, ketika banjir tengah melanda, kami harus tetap melakukan aktivitas pemasaran. Pelanggan yang sudah mengetahui usaha kamipun mulai berdatangan untuk membeli ayam secaralangsung. Demikian pula pasar-pasar tradisional sekitar lokasi budi daya yang kala itu tetap melayani konsumen. Namun hal yang menjadi kendala adalah proses distribusi Pak. Banjir terkadang memutus kita bergerak dari jalan satu ke jalan yang lain," tutur Abimanyu.

Alhasil, upaya mitigasi seperti mengirim produk sembari berjalan kaki berikut memanfaatkan moda transportasi lain, merupakan langkah proaktif yang dapat dilakukan. "Kami berupaya menghidupi komitmen untuk melayani masyarakat dengan hasil ternak yang ada, setiap waktu pak," simpul Abimanyu.

Demikian semangat yang ditumbuhkan di Sekolah Tinggi Manajemen depan patung Tani Menteng, Jakarta Pusat. "Setia pada misi bisnis" merupakan falsafah di sekolah yang berlokasi di Jl. Menteng Raya itu. Ingin tahu kisah selanjutnya tentang para anggota PPM? Silahkan simak terus rubrik Diary Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).