Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Practise make perfect

Practise make perfect
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

BANYAK kalangan, hingga kini, memandang, terjun langsung berbisnis merupakan pembelajaran yang sangat efektif. Beberapa bahkan memilih jalan yang lebih ekstrem. Tanpa mempelajari seluk-beluk bisnis, seseorang dipaksa mendalaminya melalui praktik sehari- hari. Kelompok ini meyakini bahwa pengalaman jatuh-bangun dalam melakoni bisnis akan menciptakan teori dan konsep pembelajaran yang menghantarkan seseorang pada sesuatu yang dinamakan kesuksesan.

Dengan nada yang sama, kelompok lain berupaya menerapkan konsep manajemen bisnis secara tepat. Sebelum terjun ke dunia nyata, calon pebisnis diperlengkapi dengan dua jenis senjata. Pertama, konsep lengkap bagaimana mengelola usaha, mulai dari menetapkan misi dan visi yang kuat agar komitmen dapat terus terbangun hingga langkah aktif merespon setiap kebutuhan pasar.

Senjata kedua adalah secuil pengalaman praktik dalam masa inkubasi. Kedua senjata itu yang bisa membuat seorang mampu menakhodai bisnis yang menuntut keahlian dasar, berbeda dengan latar belakang pendidikannya. Saya mengenal seorang dokter gigi yang kini dikenal sebagai pebisnis les privat, atau seorang dokter muda yang kini banting setir menjadi agen properti terlaris di Jakarta Utara.

Merujuk ke dua contoh itu, bisa jadi ada yang bertanya: Lalu, apa gunanya latar belakang pendidikan setara S-1 untuk calon pebisnis? Jawabannya singkat. Jenjang pendidikan sarjana, dalam program studi apa pun, sejatinya, telah melengkapi pola pikir seseorang dengan kemampuan mensintesis serta mencari solusi bagi satu permasalahan.

Studi yang dilakukan atas beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Manajemen PPM, baik di tingkat sarjana maupun pasca sarjana, menemukan fakta bahwa perkembangan naluri bisnis individu sangat ditentukan oleh dengan siapa yang bersangkutan sering berinteraksi. Ketika seseorang secara kontinu berinteraksi dengan pihak lain atas satu topik bisnis tertentu, maka di situ tercipta ide, yang akan berbuah suatu keinginan kuat untuk mencoba keberuntungannya.

Pola taste the water, yang lazim disebut masa inkubasi, memberi peluang untuk meletakkan ide bisnis di tataran praktis. Ambil contoh, duo pebisnis, Yehuda Ardhito dan Abimanyu, di bawah bendera CV Dwi Lestari Farming. Keduanya merupakan siswa program studi Sarjana Manajemen Bisnis Regular 6 di PPM School of Management, yang menjajaki inkubasi dengan mencoba budidaya ayam kampung sebanyak 1.000 ekor.

Pengetahuan tentang penyiapan infrastruktur, seperti kandang, perolehan bibit unggul, hingga proses pemeliharaan merupakan sesuatu yang langsung mereka praktikkan. Dengan dukungan modal dan pengalaman dari peternak senior, mereka menjadikan dua masa panen sebagai media inkubasi.

"Di siklus pertama, kami benar-benar belajar, mulai dari membangun dan menyiapkan kandang hingga mencari pemasok bibit unggul dan sumber pakan yang murah namun berkualitas. Faktor ketepatan waktu, baik ketika bibit datang dan siap masuk ke kandang hingga cara mengelola pakan berikut penyajiannya merupakan pengetahuan awal bagi kami," tutur Yehuda.

Ia melanjutkan, pengetahuan berikutnya adalah melakukan pemeliharaan. Cuaca yang cukup ekstrem beberapa bulan terakhir di lokasi budidaya memunculkan sejumlah ide inovasi, seperti membuat ternak merasa nyaman, hingga meminimalkan potensi saling serang antar ternak. Pengetahuan lanjutan yang tak kalah penting muncul di musim panen. "Semula kami senang karena pemasok bibit berkenan memborong semua hasil panen kami. Namun, setelah dihitung dengan cermat, pola itu tidak mendatangkan keuntungan yang optimal.

Berkaca dari pengalaman siklus pertama, di siklus berikut, sejak masa penyiapan kandang, kami sudah menjalankan aktivitas pemasaran," tutur dia. Jurus itu membuat mereka mampu meraih keuntungan lebih besar di siklus kedua daripada siklus pertama.

Nah, apakah kedua pengalaman dari dua siklus itu sudah cukup sebagai bekal untuk berbisnis? Saya rasa tidak. Practice makes perfect. Itulah ungkapan yang tepat bagi pengalaman mereka. "Setelah sukses di panen kedua, kami berusaha merumuskan poin-poin kunci yang akan mengantarkan kami ke kesuksesan berikutnya. Di bidang produksi, kami belajar menciptakan efisiensi hingga menstabilkan harga. Itulah alasan mengapa harga jual kami sangat kompetitif. Untuk meningkatkan penjualan, kami mengenalkan hasil budidaya ke masyarakat di sekitar kandang. Tema kesehatan tentang ayam kampung menjadi kekuatan kami menciptakan penjualan. Dari situ, pengukuran peta pasar baru dapat dilakukan. Setelah mengetahui dengan pasti berapa besar pasar, muncul ide menambah kapasitas sebanyak dua kandang," ujar Yehuda.
Itulah gambaran jurus baru dalam melakoni bisnis di masa kini. Menjadikan usaha sebagai sarana belajar merupakan langkah efektif dalam menjalankan misi yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan dukungan pengetahuan yang cukup, niscaya pebisnis akan mampu meraih kesuksesan yang diimpikan. Ikuti terus rubrik Diary PPM.