Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Membentengi bisnis dari gonjang-ganjing

Membentengi bisnis dari gonjang-ganjing
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

DAMPAK negatif sejumlah bencana yang terjadi akhir-akhir ini mulai dirasakan oleh dunia bisnis, tidak terkecuali usaha berskala mikro, kecil, dan menengah.

Seperti dituturkan tiga pebisnis yang menimba ilmu di Sekolah Tinggi Manajemen PPM, banjir di tahun ini berdampak terhadap peningkatan biaya operasi dan produksi. Pemicunya tidak lain adalah terganggunya proses distribusi produk maupun material produksi.

Banjir yang melanda kawasan pantai utara (Pantura) Pulau Jawa, beberapa waktu lalu, menghentikan distribusi produk untuk sementara waktu. Padahal, di lain sisi, tuntutan produksi untuk tetap berjalan sangat tinggi. "Pasokan pakan ayam sempat terganggu, Pak," ujar Yehuda Ardhianto, pembudidaya ayam kampung di kawasan Bekasi. "Banjir juga mengganggu operasi jasa pengiriman kendaraan roda empat yang saya tekuni, Pak," tutur Yulianus Gualbertus, mahasiswa program pascasarjana dengan konsentrasi kewirausahaan.

Tak pelak lagi, kenaikan biaya produksi yang mengimpit profit pun menjadi menu wajib yang dihadapi pebisnis selama dua bulan terakhir. Lalu, apakah ada cara yang mampu membentengi bisnis kita dari gangguan eksternal? Jawabannya sudah pasti ada. Namun, syarat mutlak untuk dapat membangun benteng tersebut adalah kemampuan untuk mencermati kondisi lingkungan.

Kita harus melengkapi bisnis dengan rencana mitigasi untuk menghadapi berbagai kemungkinan negatif. Nah, agar upaya ini dapat dijalankan dengan efektif, pebisnis harus belajar dari setiap kejadian yang muncul di lapangan, untuk selanjutnya didokumentasikan. Berdasarkan telaah dokumentasi tersebut, maka kita dapat dengan mudah menyusun rencana mitigasi di kemudian hari.

Berbicara tentang tipikal rencana mitigasi memang tidak pernah sama. Setiap bisnis memiliki kekhasan yang mensyaratkan rencana mitigasi yang berbeda. Jadi pebisnis harus mencermati di bidang apa saja mitigasi perlu dilakukan.

Sebagai contoh, dalam kasus kelangkaan pakan budidaya ayam yang ditekuni Yehuda, fokus perhatian ada pada pengelolaan persediaan. Secara konseptual, menerapkan metode pengendalian persediaan just in time, saat pakan dibutuhkan, produk dapat langsung dipesan dan tiba tepat pada waktunya. Pola ini memang sangat ideal karena tidak menuntut layanan pergudangan.

Selain menghindarkan pebisnis dari kewajiban menyediakan layanan pergudangan, metode tersebut diyakini mampu menjaga kualitas produk. Dengan kata lain, produk selalu tiba dengan kualitas yang terjamin. Berbeda halnya dengan sistem persediaan, yang terkadang mengalami penurunan kualitas apalagi jika pengelolaan gudang tidak dapat berlangsung sebagaimana yang diprasyaratkan.

Fasilitas hedging

Nah, realitas bencana telah mengajarkan hal baru ke kita. Memiliki persediaan merupakan sebuah kewajiban. "Namun permasalahannya ada pada fluktuasi harga di pasar, Pak. Penerapan just in time terkadang bertujuan untuk mencari momen di mana harga sedang berada di titik bawah," tutur Yehuda.

Jika itu realitasnya, pebisnis hendaknya memilah-milah mana yang lebih penting; mencari harga murah dengan risiko kelangkaan produk di lapangan, atau terlepas dari risiko tersebut dengan harga yang mungkin lebih mahal. Memilih satu dari dua alternatif keputusan di atas sangatlah bergantung pada preferensi masing-masing individu. Namun, umumnya pebisnis dengan karakter penghindar risiko akan memilih untuk memiliki persediaan.

Bagi mereka yang belum terbiasa, memiliki persediaan bukan hal yang sederhana. Pebisnis seakan-akan merasa mempunyai pekerjaan ekstra. Kita tidak hanya wajib menyediakan ruang yang difungsikan sebagai gudang, melainkan juga memiliki fasilitas pendukung untuk menjaga kualitas produk. Keamanan, kebersihan, penyejuk udara, hingga bahkan asuransi, kerap menjadi elemen-elemen penting dalam mengelola persediaan.

Di sinilah biaya-biaya tambahan akan muncul. Langkah selanjutnya yang terbukti efektif membangun benteng adalah kebijakan lindung nilai alias hedging. Upaya ini khusus ditujukan untuk usaha yang melibatkan penggunaan valuta asing.

Saya teringat satu bisnis yang dijalankan mahasiswi PPM School of Management bertajuk Vanilla Hijab. Perkembangan usahanya telah membawa pebisnis itu melangkah ke ranah ekspor-impor. Beberapa negara yang menjadi tujuan pasarnya, seperti Malaysia, Singapura dan Australia, menggunakan dollar AS sebagai alat pembayaran internasional.

Ketika penjualan dilakukan dengan sistem kredit, maka US$ 1.000 di suatu hari akan memiliki nilai konversi yang berbeda di lain hari. Untuk itu, hedging sangat efektif menghindarkan kita dari kerugian atau ketidakmampuan dalam mencapai titik optimal keuntungan penjualan.

Meski sangat ideal, namun melakukan hedging di Indonesia, dewasa ini, masih dinilai sulit. Minimnya instrumen serta pasar yang belum sepenuhnya berkembang merupakan alasan utamanya. Karena itu, pebisnis mulai melirik pasar Singapura sebagai media terdekat untuk mengupayakan teknik hedging. Dengan cara ini, benteng dapat dibangun.

Tip terakhir yang dapat diberikan, ketika benteng yang dimaksud sudah dapat terbangun dengan kokoh, maka pebisnis masih mempunyai pekerjaan rumah tambahan, yakni mencatat setiap kejadian dalam suatu buku dokumentasi. Tujuannya sangat penting, yaitu memberi gambaran ke generasi berikut pengelola bisnis, tentang kondisi saat ini serta upaya apa yang perlu diinisiasi demi menjaga stabilitas roda operasional perusahaan.

Tak hanya itu, kedisiplinan pebisnis dalam mengolah data-data dokumentasi tersebut merupakan awal terbentuknya strategi mitigasi di masa depan. Bak pepatah sedia payung sebelum hujan, kita perlu mengambil langkah untuk membentengi usaha dari gonjang-ganjing perekonomian nasional maupun regional.