: WIB    —   
indikator  I  

MEA: Ancaman atau Peluang?

MEA: Ancaman atau Peluang?
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

TAHUN 2015, Indonesia, bersama dengan negara-negara anggota ASEAN lain, akan memasuki era ekonomi yang baru. Selain sebagai sarana belajar sebelum menghadapi rezim ekonomi bebas di tingkat dunia, era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) itu juga bertujuan untuk menciptakan sinergi di antara negaranegara anggotanya.

Penggalangan keunggulan bersaing diharapkan mampu menempatkan Asia Tenggara sebagai kekuatan ekonomi baru yang patut diperhitungkan oleh dunia. Tentu, kondisi yang diinginkan itu, mutlak, membutuhkan keunggulan dari masing-masing pemain. Bagi perusahaan besar, MEA mungkin bukan suatu permasalahan yang besar. Namun tidak demikian halnya dengan bisnis yang baru berdiri.

Akankah MEA masih bisa dipandang sebagai peluang, atau justru, merupakan ancaman bagi bisnis baru, khususnya pebisnis di sektor usaha mikro kecil dan menengah di Tanah Air? Dari satu sisi, MEA membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pebisnis Indonesia untuk memperluas pasarnya di negara-negara tetangga karena tarif impor yang sangat kecil.

Lalu lintas produk, barang maupun jasa, modal serta tenaga kerja akan lebih mudah di era itu. Alhasil peluang perusahaan untuk meminimalkan biaya ekonomi akan semakin besar. Nah, dengan cara itu, niscaya proses produksi akan berlangsung lebih efisien.

"Lalu langkah apa yang harus kami persiapkan sejak saat ini Pak?" tanya Intan Kusuma Fauzia, pemilik Vanilla Hijab. Pertama, mengidentifikasikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki produk Anda di saat ini. Cara ini sangat mudah. Kita tinggal menjawab pertanyaan: Mengapa konsumen menyukai produk-produk yang kita tawarkan? Apakah karena harga yang murah, atau karena kualitas yang bagus, atau karena mereka alpa terhadap alternatif produk yang tersedia?

Bila jawaban untuk pertanyaan semacam itu adalah harga, Anda harus waspada. Sebab, besar kemungkinan kondisi tersebut akan menempatkan bisnis Anda pada persaingan harga yang sangat ketat.

Memanfaatkan media

Cobalah mencari kelebihan di bidang kualitas. Itu merupakan dimensi terunggul dalam daya saing. "Tetapi bukankah meramu kualitas membutuhkan modal yang sangat besar Pak?" imbuh Intan. Memang, itu benar. Namun, di situlah daya inovasi pebisnis diperlukan. Pada sejumlah studi, bahkan, ditemukan bahwa inovasi tidak selalu berawal dari modal yang besar.

Saya teringat kisah salah seorang kolega di Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM), yang berbisnis bidang fashion dengan menempati beberapa kios di Tanah Abang. Sebagai pedagang grosir, banyak orang mengira bahwa kekuatan bisnisnya terletak pada harga yang rendah. Ini terlihat dari bentuk desain produk, yang hampir semuanya sama.

Tak hanya, itu cara menawarkan produk di bisnis itu pun senada. Namun tidak demikian dengan rekan kami yang satu ini. Berbekal pengetahuan manajemen yang dimiliki, ia berupaya membuat desain baru yang berhasil menutupi kekurangan model-model saat ini. Kualitas jahitan pun tidak terlepas dari perhatiannya. Ternyata, inilah yang selalu diungkapkan ke pelanggan. "Dagangan kami memang Rp. 5.000 lebih mahal daripada barang di tempat lain. Namun itu karena kualitas jahitan dan model yang bagus," demikian penjelasan yang selalu ia dengungkan.

Ia juga selalu mengenakan model-model pakaian terbarunya ke seluruh karyawan toko. Alhasil, cara ini berhasil memikat pelanggan. Itulah yang dikenal dengan inovasi. Tidak berhenti di situ, upaya peningkatan penjualan juga ia lakukan melalui media sosial yang notabene berbiaya murah.

Instagram merupakan salah satu aplikasi yang ia manfaatkan. Dengan keahlian fotografinya, pebisnis itu secara tekun memasang model-model terbarunya dalam foto yang sangat menarik. Metode pemesanannya juga melalui internet. Pasca pembayaran dilakukan via internet banking, pesanan akan langsung menuju alamat pembeli. Dalam selang waktu tiga bulan saja, pola ini sudah berhasil meraup keuntungan bersih di atas Rp 140 juta. Angka yang spektakuler, bukan?

Menggunakan media jejaring sosial sebagai sarana pemasaran kini dinilai sangat efektif. Tapi, mengingat umur teknologi yang relatif pendek, pebisnis harus jeli dan selektif dalam memilih media yang digunakan. Membaca hasil-hasil riset efektivitas media akan sangat membantu memperluas wawasan hingga kita dapat memilih media yang paling tepat. Hal selanjutnya adalah jejaring (networks).

Meski terkesan klasik, namun kekuatan jejaring sangat menentukan keberhasilan pemasaran produk-produk perusahaan dewasa ini, khususnya jejaring pelanggan. Mereka adalah duta-duta perusahaan anda. Dengan jalinan yang kuat, niscaya kesaksian yang diberikan akan jauh lebih efektif.

Jadi, ini pekerjaan rumah pebisnis domestik. Pemanfaatan media internet serta kemampuan berbahasa Inggris bisa membuka akses usaha mikro, kecil, dan menengah ke pasar internasional. Selanjutnya, peran media massa nasional dalam mengkampanyekan nilai-nilai unik dari produk-produk besutan pemain domestik diharapkan dapat menjadi berita yang "bernilai" di kancah global.

Hal terakhir adalah pemanfaatan skema insentif pajak sebagai bentuk proteksi dari Pemerintah Indonesia. Dengan tarif pajak yang tidak terlalu memberatkan, niscaya, produk dapat dijual pada harga yang kompetitif. Melalui cara ini, setidaknya, bisnis baru masih memiliki kesempatan untuk menguasai pasar nusantara sebelum melangkah ke negara-negara tetangga. Kemenangan di pasar dalam negeri merupakan kunci sukses di pasar ASEAN.

Bila Vanilla Hijab yang dirancang Kusuma Fauzia, mahasiswa program Sarjana Manajemen Bisnis regular 6 mampu menembus pasar ekspor, bagaimana dengan bisnis Anda? Simak terus Diary bisnis mahasiswa di PPM School of Management, yang terletak di Jalan Menteng Raya 9-19, depan Patung Tani Menteng Jakarta Pusat.


Close [X]