: WIB    —   
indikator  I  

Saatnya nasionalisme beraksi

Saatnya nasionalisme beraksi
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

ERA Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 mendatang ternyata tidak hanya menjadi pembicaraan hangat di Indonesia. Sejumlah negara tetangga pun kini menyiapkan strategi untuk menang di masa tersebut. Salah satu negara di ASEAN, bahkan, dengan tegas mengedepankan sektor kreatif sebagai jurus maut, yang diyakini mampu "menyingkirkan" lawan agar berhasil menang dalam pertandingan.

Berbagai upaya jitu, mulai dari mengubah paradigma hingga memperbaiki kualitas infrastruktur, tidak luput dari perhatian mereka. Alhasil, grand design strategi keunggulan bersaing nasional pun siap diuji.

Hal yang sama juga sedang berlangsung di negeri kita. Sebagai negara ASEAN yang memiliki pasar terbesar, dengan populasi mencapai 250 juta lebih penduduk, Indonesia tentu tidak ingin dipandang sebagai target penjualan produk-produk asing saja, namun juga ingin menguasai pasar regional.

Sebagai bahan pembanding, negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua setelah negara kita hanya sepertiga dari populasi penduduk Indonesia. Dengan demikian, bila sepertiga rakyat Indonesia terjun dalam sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), maka tidak terbayangkan kekuatan ekonomi yang terbentuk untuk menguasai pasar.

Peningkatan jumlah wirausaha mandiri di Tanah Air kerap dipandang sebagai PR klasik. Namun bukan berarti, agenda itu hanya menjadi bahan diskusi yang tidak berujung. Ada beberapa hal yang selama ini diyakini bisa menjadi pemicu pertumbuhan jumlah wirausaha.

Pertama, melalui pemanfaatan efek nasionalisme sebagai Bangsa Indonesia. Salah seorang founding father negara ini pernah menegaskan bahwa cita-cita bangsa ini adalah mencapai kemandirian ekonomi di masa depan. Visi itu yang kemudian secara eksplisit dituangkan ke dalam Pembukaan UUD 1945.

Artinya, dengan pemaknaan visi tersebut, menjadi pebisnis di kancah global hendaknya merupakan misi setiap warga negara. Bukan hanya semata-mata untuk membuka lapangan pekerjaan, melainkan juga mengenalkan nilai budaya lokal ke luar negeri.

Berbicara tentang resonansi nasionalisme, ternyata, tidak hanya terhenti di situ. Pertumbuhan yang cukup masif dari sektor properti di Tanah Air dewasa ini menciptakan begitu banyak peluang bagi bisnis lokal untuk menapaki karier di kancah internasional.

Saya teringat akan sebuah peristiwa beberapa waktu lalu di mana seorang kolega berkebangsaan Malaysia membeli beberapa buah tangan dari Jawa Timur, terutama dari Kota Malang. Salah satu keunikan yang berada di kota itu adalah adalah kemunculan istilah baru yang dibentuk dari mengeja kata asalnya secara terbalik. Ambil contoh, saya disebut ayas, atau arek disebut kera, dan seterusnya.

Sebuah toko kaus oblong mencoba memvisualisasikan budaya mempelesetkan kata itu. Meski awalnya sang wisatawan cukup bingung dengan cara penyebutan itu, namun setelah mendapat penjelasan detail bahwa ini merupakan salah satu ciri budaya lokal, nilai unik pun serta-merta terbangun. Tak ayal, dengan pemahaman dasar bahasa Melayu, yang mirip dengan bahasa kita, maka wisa-tawan dari negeri jiran dapat mengerti visualisasi itu.

Pemanfaatan SDM

Tanpa disadari keunikan itu juga yang membukakan akses internasional ke budaya lokal. Dari sekadar oleh-oleh, aktivitas perdagangan pun mulai terjadi. Kali ini si wisatawan bergeser menjadi salah seorang pemain ekonomi. Mengingat animo yang cukup besar di negaranya terhadap kaus itu, ia memberanikan diri menjadi kepanjangan tangan dari pebisnis di Jawa Timur.

Bila dicermati lebih lanjut, perlahan namun pasti, mekanisme tersebut akan menciptakan sebuah nasionalisme baru sebagai sesama rumpun Melayu. Produk khas dari satu daerah sangat dimungkinkan menjadi primadona di negara lain. Ikatan inilah yang perlu segera diinisiasi oleh pebisnis di dalam negeri.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mencari kesamaan di antara negara rumpun Melayu. Kemiripan bahasa, rasa, serta nilai ketimuran merupakan objek-objek vital yang perlu dipelajari. Sebab, dengan mengakomodasi tema-tema tersebut, produk buatan sini akan lebih mudah diterima di negara lain. Selanjutnya, perdagangan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN dipercaya akan berbasis pada ketersediaan faktor-faktor produksi.

Keinginan pebisnis untuk mencapai skala ekonomi yang maksimum akan mengarahkannya ke paradigma bisnis yang lebih sederhana. Di mana faktor murah dapat ditemukan, maka di situlah peluang ditemukan. Nah dalam konteks tersebut, Indonesia sudah hampir dipastikan menjadi rujukan produksi bagi pemain asing. Selain kepemilikan sumber daya alam yang berlimpah, ketersediaan tenaga kerja produktif diperkirakan akan menciptakan daya tarik investasi bagi Indonesia.

Ketika situasi itu terjadi, maka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia akan semakin luas. Terlebih, jika pemanfaatan tenaga kerja lokal diangkat menjadi prasyarat untuk melakukan investasi langsung.
Karena itu, paradigma berpikir secara global, namun berani bertindak mulai dari skala lokal, harus ditanamkan sejak dini. Sadar atau tidak, cara pandang itu akan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kapabilitas dalam segenap aspek kehidupan ekonomi. "Jika ingin tumbuh sebagai negara yang turut diperhitungkan di Asia, ini saatnya masyarakat lokal menyadari arti penting pendidikan, khususnya di bidang manajemen," tutur Haris, seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).

Upaya tersebut perlu segera dilakukan agar sumber daya manusia Indonesia mampu menempati posisi strategis di perusahaan-perusahaan ketika era MEA. "Tak cuma itu, Pak, dengan cara pandang yang tepat, regenerasi di dalam tubuh perusahaan akan dapat terus dilakukan melalui pemanfaatan SDM lokal," imbuh dia. Jika agenda itu tidak digulirkan sejak dini, kapan ia akan dimulai?


Close [X]