Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Mempercepat awareness

Mempercepat awareness
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

MEMILIKI bisnis yang mampu melayani masyarakat dalam jumlah besar merupakan dambaan setiap wirausahawan. Jumlah outlet, varian produk, hingga ketenaran produk seringkali menjadi indikator kesuksesan suatu bisnis. Alhasil, beberapa strategi, seperti menjual franchise atau mengajak pemodal untuk melakukan ekspansi, kini telah menjadi pilihan terbaik.

Hal senada juga dialami oleh "ORO", salah satu bisnis yang bergerak di bidang fashion berbahan dasar kulit. Usaha yang digeluti oleh duet mahasiswa Sarjana Manajemen Bisnis Reguler 6, Azlansyah Majid dan Alfad Mishal ini, dirintis sejak mereka berada di bangku kuliah. Bermodalkan pengetahuan di bidang fashion, keduanya memulai beragam usaha, dari memproduksi dompet kulit hingga folder map serta tas pria yang tengah digandrungi saat ini.

"Membesarkan merek ternyata bukan hal yang sederhana, terlebih ketika produk telah di-positioning-kan sebagai barang premium," ujar Azlan, yang tercatat sebagai seorang mahasiswa di Jalan Menteng Raya 9-19, depan Tugu Tani Jakart Pusat. Merujuk ke konsep pemasaran, fase awareness atau tahap penyadaran pasar akan eksistensi sebuah merek memang dipandang sebagai investasi.

Pada tahap tersebut, tidak jarang pebisnis harus merogoh kocek lebih dalam untuk mengenalkan produk ke masyarakat luas. Realitas ini yang dapat menciptakan "ketegangan" di fase-fase awal bisnis. Betapa tidak, jumlah modal yang dikucurkan cukup banyak, namun merek tidak kunjung dikenal orang. Salah menerapkan strategi bisa-bisa mengarahkan bisnis ke kerugian.

Membangun kesadaran pasar akan kehadiran merek baru memang membutuhkan proses. Namun kini kemajuan internet dan teknologi harus diakui telah menciptakan sejumlah peluang emas. Di satu sisi, upaya membangun kesadaran dapat berjalan secara efektif. Di sisi lain, modal yang diinvestasikan untuk itu tidaklah besar.

Indikator pertama adalah tingkatan pasar di mana Anda akan memposisikan produk tersebut. Bila pebisnis menyasar kalangan menengah ke bawah, pola komunikasi menggunakan media promosi seperti flyer hingga baliho dinilai cukup efektif.

Namun, hal yang sama tidak berlaku bagi produk-produk premium. Untuk produk premium, sangat disarankan memilih media promosi, yang sesuai dengan karakter pola hidup konsumen di segmen itu. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kalangan menengah ke atas kini menempatkan internet sebagai bagian dari kehidupannya. Hampir setiap saat, segmen ini berhubungan dengan dunia maya; mulai dari mencari informasi hingga memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Itulah alasan mengapa bisnis online kini menjamur di mana-mana.

Gunakan artis
Alhasil, kejelian pebisnis dalam melihat media sosial apa yang paling digemari oleh segmen pasarnya: apakah Facebook, Instagram, atau media sosial yang lain sangat penting. Masuk dalam media digital sebenarnya bukan hal yang mudah. Bahkan, beberapa kalangan meyakini bahwa untuk mendulang sukses saat memanfaatkan media sebagai alat promosi, dibutuhkan pola pengelolaan terpadu.

Pebisnis harus berupaya menempatkan produknya di posisi puncak agar terlihat jelas oleh pasar. Caranya pun cukup bervariasi. Pertama, memastikan tampilan produk benar-benar sesuai dengan gaya hidup target konsumen. Pemilihan warna, bentuk huruf, hingga foto yang ditampilkan merupakan hal-hal yang perlu dicermati secara jeli. Warna-warna lembut dipercaya mampu menarik perhatian segmen atas.

Kedua, memilih nama (alamat rujukan produk), yang menarik, mudah diingat, dan mewakili karakteristik unik dari produk. Sebagai contoh adalah Vanilla Hijab, sebuah bisnis online dengan memanfaatkan Instagram yang dikomandoi oleh Intan Kusuma Fauzia, anggota Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).

Kata Hijab melambangkan produk yang dijual. Sedang kata Vanilla berhasil menciptakan kesan elegan dan feminisme dari produk tersebut. Meski langkah ini dapat memicu aksi negatif dari pesaing, namun harus dipahami bahwa selama alamat ditulis sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa, maka konsumen mampu memilah mana alamat yang asli dan mana yang asal sekadar "tembakan".

Ketiga, pola pengelolaan di setiap situs membutuhkan upaya yang berbeda-beda. Seperti ketika kita menggunakan media sosial Instagram, frekuensi penayangan foto-foto terbaru akan mendorong peningkatan jumlah pengunjung. Semakin sering kita memampangkan foto-foto terbaru, opini positif jugalah yang akan tercipta.

Selanjutnya, opini itu yang akan memicu peningkatan jumlah pengunjung situs. Inilah langkah yang mengorbitkan "artis-artis" Instagram dewasa ini. Dengan gaya yang unik, hasil jepretan kamera mereka mampu menarik perhatian pengunjung hingga lambat laun bertambahlah jumlah pengikutnya.

Kini, sebenarnya ada cara "instan" untuk mempercepat awareness melalui media sosial. Sinergi dengan para artis menjadi titik tumpunya. Dengan jumlah pengikut yang besar, seorang "artis" akan menjadi endorser produk yang paling efektif. "Dalam sehari, pengikut kami bisa bertambah 300 orang, Pak," ujar Baskara Mahendra, seorang pebisnis PPM yang berhasil mendulang keuntungan dari pola itu.

Tak cuma menambah pengikut, langkah ini juga dipercaya sangat efisien karena untuk mengajak para artis mempromosikan produk, tidak semahal tarif artis profesional. Selain karena hobi, langkah aktif yang dilakukannya akan menambah jumlah pengikut.

Lalu, bagaimana halnya ketika produk diperkenalkan melalui sebuah website? Bila langkah ini yang dipilih, maka pebisnis harus mampu menempatkan situsnya di posisi puncak pada setiap hasil pencarian, melalui kata kunci. Frekuensi kunjungan, serta rujukan situs lain akan sangat menentukan kecepatan dalam mencapai posisi tersebut. Di sinilah search engine optimizer dibutuhkan. Anda ingin tahu lebih jauh tentang penerapan konsep ini? Ikuti terus Diary Pebisnis Pengkolan Menteng (PPM).