Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Membangun daya saing bisnis baru

Membangun daya saing bisnis baru
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

MEMBUKA bisnis di masa-masa ini harus diakui tidak sesederhana seperti melakukan itu pada sepuluh tahun yang lalu. Turbulensi yang terjadi pada ekonomi dalam negeri serta kompleksitas persaingan yang dipicu oleh perkembangan internet serta teknologi, telah menciptakan sejumlah pandangan baru di bidang manajemen perusahaan. Betapa tidak, hampir setiap saat muncul pertimbangan-pertimbangan baru yang tidak jarang mengubah arah bisnis.

Contoh yang sangat sederhana tentang itu dialami Taru, salah satu bisnis besutan mahasiswa PPM School of Management. Usaha di bidang fashion kacamata berbahan kayu itu dimulai dengan strategi pemasaran berskala nasional. Ketika mengikuti sebuah event pameran sektor kreatif yang digelar salah satu pusat perbelanjaan bergengsi di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, pengelola Taru diperkenalkan dengan pembeli dari negara tetangga.

Alhasil, saat produk dibawa pulang oleh pembeli dan menggaet minat dari pasar di negara asal si pembeli, beberapa strategi harus mengalami perubahan. Pertama, Taru sudah tidak dapat menggunakan strategi pemasaran skala nasional semata. Ia harus mulai melirik penggunaan media online yang memungkinkan informasi produk tersebar secara global. Itu berarti, penggunaan bahasa Inggris sebagai sarana komunikasi merupakan prasyarat mutlak.

Tidak hanya itu, ketika produknya mulai diminati oleh konsumen di Malaysia atau Thailand, si pebisnis harus segera menyiapkan product knowledge yang dirumuskan dalam bahasa dan tulisan, atau huruf yang dikenal oleh masyarakat di pasar tujuannya.

Cukup kompleks, bukan? Dalam penelusuran lebih lanjut, kita bisa menyimpulkan bahwa kompleksitas belum berhenti. Ketika arus barang melalui aktivitas ekspor meningkat, mau tidak mau pengelola Taru harus mempelajari aturan persyaratan kualitas yang berlaku di setiap negara tujuan produknya. Langkah ini bertujuan untuk memudahkan produk diperdagangkan secara luas di luar negeri.

Di sini, hak cipta menjadi modal utama. Kealpaan kepemilikan hak cipta akan menghentikan sirkulasi produk di pasar global.

Kedua, terkait proses inovasi. Memasarkan produk di mancanegara pada hakikatnya membuka diri pada risiko pembajakan. Di sinilah siklus pembelajaran bagi pebisnis dimulai. Memiliki sertifikat hak cipta belum menjamin bahwa produk tidak akan mengalami pembajakan. Ada banyak celah yang memungkinkan terjadinya peniruan atas produk yang kita hasilkan. Artinya, ketika kita memandang fenomena ini sebagai media pembelajaran, upaya inovasi akan menjadi satu-satunya solusi terbaik.

Green business

Pada perspektif manajemen, inovasi dipahami sebagai suatu hal yang baru. Ia dapat benar-benar baru, atau sekadar pembaruan dari sesuatu yang sudah ada. Karenanya, aktivitas inovasi pada bisnis baru hendaknya dicermati pada beberapa elemen, khususnya produk dan pemasaran.

Mencermati kinerja produk, khususnya dalam memenuhi kebutuhan konsumen di fase awal bisnis, merupakan upaya awal penciptaan daya saing. Beberapa literatur manajemen inovasi, bahkan, menyarankan pebisnis untuk menyiapkan lebih dari satu varian saat peluncuran produk perdananya.

Ketika seri produk pertama diluncurkan, perusahaan harus sudah siap dengan seri kelanjutannya. Waktu peluncurannya pun harus ditentukan sedemikian rupa, agar produk kedua itu tidak muncul terlalu jauh daripada saat edisi perdana dirilis.

Ketika produk seri pertama sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, inovasi pemasaran harus segera dilakukan. Meninggalkan satu pasar untuk segera masuk pada pasar yang baru akan menciptakan siklus hidup lanjutan bagi produk.

Sadar atau tidak, langkah tersebut akan memperpanjang usia produk. Pertanyaan berikutnya, bagaimana dengan pasar yang ditinggalkan? Jawabannya cukup sederhana: pebisnis harus sudah siap dengan hasil inovasi produk lanjutannya.

Beberapa saat sebelum produk perdana keluar, produk pengganti harus sudah siap berada di pasar. Dengan cara semacam ini, eksistensi suatu bisnis akan terjaga.

Pertanyaannya sekarang adalah: ketika inovasi sangat ditentukan oleh ketersediaan ide-ide kreatif, bagaimana usaha baru dapat melakukannya? Kuncinya ada pada kedekatan hubungan antara produk dengan konsumen. Di sinilah prinsip menjadikan konsumen sebagai mitra bisnis perusahaan tercipta. Semakin dekat suatu produk dengan konsumen, maka di situlah keterbukaan komunikasi antara keduanya semakin terjalin.

Pebisnis hendaknya mampu menggali kebutuhan dasar konsumen di masa depan. Tanggapan konsumen terhadap kinerja produk saat ini merupakan titik tumpu bagi pebisnis untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumennya di masa depan. Alhasil, penyempurnaan kinerja produk serta penambahan fitur-fitur pelengkap akan menumbuhkan daya saing tersendiri.

Satu tema yang kini tengah berkembang adalah pemanfaatan material produk yang berasal dari sumber daya alam terbarukan. Asumsi yang melandasi tema itu cukup kuat; ketika produk dibangun dari bahan-bahan yang ramah lingkungan, efek negatif yang bisa muncul saat produk tersebut dikonsumsi, dapat ditekan.
Langkah tersebut dipercaya mampu menjaga keremajaan bumi yang kita diami saat ini. Selanjutnya, konsep inilah yang kita kenal dengan istilah green business.

Bergerak di sektor kreatif harus diakui mendatangkan sejumlah tantangan. Karenanya, menyesuaikan diri dengan fenomena sosial yang tengah terjadi, akan mendudukkan bisnis sebagai salah satu penentu arah gerak, alias menjadi trendsetter di industrinya.

Terakhir, kemampuan pebisnis untuk beradaptasi itu jugalah yang akan mendatangkan ide-ide kreatif bagi si pebisnis saat melakukan inovasi di kemudian hari.