Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Cara singkat ciptakan daya saing

Cara singkat ciptakan daya saing
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

PEBISNIS domestik, kini, sibuk menyusun strategi mengantisipasi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tujuan strategi itu, apalagi kalau bukan untuk menciptakan daya saing. Maklumlah, setelah MEA berlaku, pintu masuk untuk produk barang atau jasa dari negara sekawasan akan terbuka lebar-lebar.

Demikian juga sebaliknya. Produk atau jasa dari Indonesia akan lebih mudah mengalir ke negara jiran. Biaya rendah, nilai unik, serta variasi produk disebut-sebut berpotensi menjadi kekuatan produk lokal untuk merebut mata pasar global.

Namun, kendati terdengar sederhana, menciptakan daya saing bukan urusan mudah. Proses itu bisa menyita waktu manajemen puncak. Itu sebabnya, banyak pemain baru di kancah bisnis yang terkesan pasrah dengan ancaman membanjirnya produk-produk impor. Tanpa taktik yang jitu, niscaya produk lokal hanya akan menjadi "tamu" di Nusantara.

Belum lagi ditambah dengan kompleksitas pasar bebas ASEAN tahun depan. Tak ayal, proses menciptakan daya saing tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Berbagai literatur manajemen menyatakan bahwa rumusan daya saing berawal dari kekuatan inovasi. "Apakah mungkin bisnis baru dibangun dengan kekuatan inovasi, Pak," ujar Bhimo, seorang anggota Pebisnis Pengkolan Menteng yang menggeluti bisnis kuliner Jepang dengan cita rasa lokal.

Jawaban atas pertanyaan itu adalah "sangat mungkin". Meski, banyak pengusaha meyakini cara pandang yang sama, namun kenyataannya, membangkitkan semangat dan komitmen mereka untuk mulai berpikir tentang inovasi merupakan langkah strategis yang tidak mudah. Pada tahap awal, inovasi harus didudukkan pada konsep yang tepat.

Arti inovasi tidak sebatas pada produk baru. Masih banyak dimensi yang membuat bisnis mampu ber-inovasi. Beberapa di antaranya adalah inovasi pemasaran atau organisasi.

Meski sampai saat ini definisi inovasi masih mengalami perkembangan yang berarti, namun pada tataran produk, inovasi tidak selalu identik dengan hal yang baru. Ide inovasi dapat mengambil dari kelemahan produk-produk sejenis yang sudah ada saat ini. Anda tinggal perlu menutup kelemahan itu serta mengolaborasikannya dengan inovasi pemasaran, maka produk akan dapat terserap pasar dengan cepat.

Saya ingin mengambil contoh usaha warung kopi yang menyediakan berbagai jenis variasi minuman kopi; mulai dari kopi luwak hingga jenis kopi asli dari beberapa daerah di Indonesia.

Berbicara tentang bisnis warung kopi, mungkin ini hal yang biasa. Namun tidak demikian halnya bila kita menyasar tujuan mendasar konsumen datang ke sebuah warung kopi. Menikmati secangkir kopi hangat akan menjadi hal yang biasa. Namun menyertakan konsumen sejak meracik kopi yang akan diminumnya hingga membantu mereka memahami filosofi di dalam nikmatnya sebuah sajian bisa jadi pengalaman yang unik.
Konsumen tidak hanya menikmati sajian, melainkan beroleh wawasan mendasar dari kopi yang tengah dinikmatinya. Saat kepuasan teraih, maka word of mouth konsumen akan mendatangkan konsumen lain untuk menikmati sajian kopi di warung yang sama.

Tak jarang, bahkan mereka mau mengalokasikan waktu secara khusus di warung tersebut. Di situ letak kekuatan perpaduan antara inovasi pemasaran dan produk. Saat hospitality berpadu dengan kualitas produk, maka di situlah daya saing mulai tercipta.

Pilih kolaborasi
Spirit semacam itu yang perlu dibangun di era MEA. Pebisnis perlu lebih jeli melihat nilai-nilai budaya lokal Asia Tenggara untuk kemudian dipadukan dengan dimensi modern dari kualitas sebuah produk. Bila hal itu sudah dapat dibangun, maka langkah berikutnya adalah menduplikasi konsep untuk melebarkan sayap pemasaran ke negara-negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Pada fase ini, kolaborasi dengan pebisnis lokal di setiap negara akan mempercepat ekspansi usaha di luar negeri.

"Apakah hanya kolaborasi yang dapat mempercepat pertumbuhan di era perdagangan bebas," tanya Bhimo. Studi menunjukkan bahwa jawaban yang tepat adalah hanya kolaborasi saja yang terbukti mampu mempercepat pertumbuhan bisnis di masa depan.

Ada banyak pilihan yang bisa dipilih, apabila kita ingin melakukan kolaborasi. Salah satu di antaranya adalah sistem franchising, atau yang dikenal dengan waralaba. Meski metode kerjasama tersebut sudah ada sejak 1967 di Tanah Air, namun praktik waralaba hingga kini masih dipandang sebagai cara instan dalam mengembangkan bisnis.

Cara pandang yang keliru itu berbuntut pada munculnya pandangan negatif dari sejumlah kalangan. Kekhawatiran akan lunturnya nilai-nilai filosofis awal (baca: warna asal) bisnis saat bekerjasama dengan pihak lain kini masih menjadi ketakutan utama. Namun kini ada baiknya jika kita becermin pada sejumlah merek waralaba yang sukses merambah karier internasional.

Anda pasti kenal dengan Es Teller 77. Sampai kini, mereka memiliki 180 gerai yang tersebar di Nusantara hingga Singapura, Malaysia, dan Australia. Keberanian mereka dalam menjalin kerjasama dengan investor asing merupakan kunci dalam berekspansi yang sangat efektif.

"Lalu bagaimana kita menjaga nilai-nilai originalitas yang ada," jawaban untuk pertanyaan itu cukup sederhana: pebisnis perlu memperkuat sisi operasi dengan menggunakan dominasi bahan baku lokal. Tentu, dengan nilai yang wajar. Melalui cara ini, ketergantungan pada sumber daya asli nusantara tetap terjaga.

Tak hanya itu, langkah monitoring juga akan terjaga secara efektif sehingga dimungkinkan nilai-nilai awal yang diusung dapat tetap lestari. Di sinilah daya saing lanjutan yang akan menjaga keberlangsungan usaha tercipta. Tanpa disadari mekanisme itulah yang akan membawa bisnis lokal menjadi primadona di pasar bebas ASEAN.