: WIB    —   
indikator  I  

Menilik prinsip stewardship

Menilik prinsip stewardship
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

AGENDA politik yang berlangsung sekali dalam lima tahun punya arti yang berbeda bagi Pebisnis Pengkolan Menteng. Jika para politisi menggunakan pemilihan umum (pemilu) sebagai momen untuk meraup keberpihakan rakyat, maka para pebisnis yang masih menempuh studi di program S-1 PPM School of Management mencermati peristiwa itu sebagai sebuah refleksi diri.

"Sejauh mana proses "kampanye" bisnis kita mampu memberikan dampak positif pada kehidupan konsumen dan stakeholder yang lain?" Itulah pertanyaan dasar yang harus terjawab.

Dasar konsep tersebut sangatlah sederhana. Selama ini, pebisnis memandang konsumen sebagai pihak yang harus dimenangkan hatinya. Karena, ketika si pebisnis berhasil melakukan itu, dana akan mengalir masuk ke kantongnya.

Namun, pernahkah si pebisnis benar-benar memahami sejauh mana produk yang ditawarkannya mampu membantu konsumen pasca konsumsi dilakukan? Saya teringat akan sebuah konsep populer dalam dunia manajemen, yakni prinsip "menjaga nilai", atau dalam istilah aslinya stewardships.

Pada konteks tersebut, berbisnis dipandang sebagai sebuah dialektika humanis. Di satu sisi, produsen berharap melalui produk yang ditawarkannya konsumen akan lebih terbantu dalam kehidupannya. Di lain sisi, konsumen dipersepsikan juga memegang teguh komitmen itu serta menggunakannya sebagai tolok ukur kinerja produk yang dibeli pada khususnya dan produsen pada umumnya.

Tak hanya itu, di dalam konteks stewardships, transaksi tidak lagi dipandang semata-mata pada kacamata ekonomi. Transaksi merupakan ikatan perjanjian di mana konsumen dengan penuh keikhlasan menerima komitmen produsen baik melalui kualitas produk yang dijanjikan maupun kewajaran harga kesepakatan. Di situlah terbangun nilai-nilai kualitas produk dan kewajaran harga.

Dengan demikian, jika saat konsumsi terlaksana, ternyata konsumen merasa bahwa kedua nilai tersebut tidak berhasil diperoleh, maka produsen akan dipandang tidak menjalankan nilai-nilainya. Dampak situasi tersebut akan bervariasi. Satu di antaranya adalah si produsen akan kehilangan kepercayaan pasar dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Sebuah kondisi yang tentunya akan mengancam stabilitas operasional perusahaan.

Dalam perkembangannya, ketika manajemen dipandang tidak lagi hanya bertanggungjawab kepada konsumen, melainkan juga kepada stakeholder lain, termasuk masyarakat, konsep stewardships juga ikut-ikutan meluas. Tuntutan kepada manajemen perusahaan untuk turut serta aktif dalam mengupayakan kehidupan masyarakat yang lebih baik kini dipandang sebagai nilai yang wajib dipegang pengelola perusahaan, melengkapi kedua nilai yang telah ada sebelumnya. Eksistensi bisnis perusahaan serta kontribusinya dalam membangun masyarakat kini menjadi prasyarat utama sebelum konsumen menjatuhkan pilihannya.
Coba tengok bagaimana kini tren anak muda dalam mengonsumsi produk-produk impor.

Nilai keempat

Kriteria pertama ada pada sejauh mana keberpihakan perusahaan terhadap upaya pelestarian lingkungan. Semakin tinggi komitmen perusahaan terhadap upaya pelestarian lingkungan, maka kepercayaan pasar terhadap produk akan semakin mudah terbangun. Namun sekali saja perusahaan terkena masalah lingkungan, maka gerakan penolakan terhadap produk, berikut produsen, bisa dipastikan akan muncul.

Cara pandang ini muncul sebagai sebuah tuntutan masyarakat. Selain agenda global, tuntutan juga muncul dari issue nasional maupun regional. Kehadiran visi menjadikan kawasan ASEAN sebagai kekuatan ekonomi baru di kancah global melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN merupakan hal lain yang mewarnai nilai dari sebuah transaksi.

Kekhawatiran sebagian kalangan akan meredupnya potensi industri lokal, setelah penerapan MEA telah menciptakan tuntutan baru. Partisipasi perusahaan-perusahaan besar sebagai mentor sektor usaha mikro kecil menengah di Nusantara untuk berpikir dalam konteks global kini menjadi kriteria pertama pasar dalam memilih produk.

Sekilas terlihat bagaimana jiwa nasionalis mewarnai perdagangan di Tanah Air. Keinginan untuk melindungi pemain lokal dari imbas perdagangan bebas telah membawa gerakan mencintai produk-produk lokal membahana di seantero nusantara. Semangat itulah yang harus diakui telah menghidupkan industri kreatif di Indonesia.

Lalu apakah paradigma ini telah meluas di Nusantara? Jawabannya sudah pasti tidak. Observasi yang dilakukan PPM di kawasan timur Indonesia menunjukkan ketimpangan semangat tersebut.

Oleh karenanya prinsip stewardships perlu menggagas nilai keempat, yakni menggunakan transaksi sebagai media pemicu sinergi, mengingat konteks perdagangan antara produsen dan konsumen bisa terjadi antar bisnis. Bila itu terjadi antara satu wilayah dengan wilayah lain (atau antara pusat dan daerah) maka besar kemungkinan "nilai-nilai' diwujudkan dalam transfer pengetahuan dan semangat untuk menciptakan kemandirian daerah sebelum perdagangan bebas diberlakukan.

Pemahaman bahwa kekayaan alam merupakan sesuatu yang harus dijaga demi kelestarian alam dan kehidupan ekonomi masyarakat mulai dari skala daerah merupakan hal yang harus terus menerus dibangun. Itulah dinamika perkembangan prinsip stewardships hingga saat ini.


Close [X]