Kontan Online
  : WIB    --   
indikator  I  

Model bisnis menciptakan suskes

Model bisnis menciptakan suskes
Ketua Program Sarjana PPM School Of Management

BANYAK orang mengatakan bahwa uang adalah modal paling dasar dalam berbisnis. Namun ilmu manajemen bisnis dalam perkembangannya telah membuktikan bahwa modal, dalam bentuk uang, bukanlah hal yang utama dalam bisnis.

Bila prasyarat bisnis adalah ketersediaan uang di awal menjalankan usaha, pebisnis tidak akan merasa berkecukupan. Akibatnya, mereka akan menjalankan roda usaha secara ala kadarnya. Dan ketika hasil usaha yang diraih di bulan-bulan awal tidak lagi sesuai dengan target di awal operasi, kemungkinan besar si pebisnis akan menutup usahanya dan beralih ke bisnis lain.

Sekali dua kali, praktik semacam itu mungkin tidak memberi dampak apa-apa. Tapi, apabila dilakukan terus-menerus, si pebisnis akan kehilangan waktu untuk memposisikan misi bisnisnya di tengah-tengah persaingan. Atau dalam bahasa yang populer, ia akan terjebak dalam "permainan semusim", selepas habis musimnya, maka ia pun turut terempas.

Nah, untuk terlepas dari jebakan tersebut, memiliki sebuah model bisnis yang tepat merupakan modal usaha yang jauh lebih berharga daripada kapital dalam bentuk dana. Duo pebisnis AHA Juice, Firman Agus dan Tri Alga, termasuk dalam kelompok pebisnis yang menyadari betul peran sebuah model bisnis. "Tanpa model yang kuat, niscaya kita akan kesulitan menentukan ketepatan antara target konsumen dan nilai yang ditawarkan," ujar Agus dalam sebuah kesempatan diskusi.

Saat awal menjalani bisnis, Agus memandang bahwa pengalaman turut terjun dalam kegiatan operasional usaha katering milik keluarganya telah cukup untuk membawanya sukses menjajaki bisnis minuman sehat dan segar. "Pada beberapa periode awal saya menargetkan hampir semua segmen, tanpa memperhatikan ketepatan nilai dan harga yang kami tawarkan. Saya pikir dengan harga yang lebih tinggi daripada pasar, maka konsumen akan memahami kualitas yang ditawarkan. Ternyata realitas tidak berbicara demikian," tutur Agus, yang bersama Tri merupakan mahasiswa Sarjana Manajemen Bisnis PPM School of Management.

Menetapkan harga jual produk di level premium karena disertai kualitas yang prima sebenarnya tak jadi soal. Itu merupakan prerogatif pebisnis. Namun pola itu mensyaratkan agar pebisnis lebih selektif dalam memilih target konsumen. Demikianlah poin pembelajaran utama dalam sebuah model bisnis. Siapakah konsumen Anda?

Ketersediaan modal

Jika kita menggunakan bisnis jus milik duet pebisnis itu sebagai contoh, proses menyasar konsumen sangat tergantung pada "aliran" konsumen di wilayah outlet berada. Ambil contoh, gerai berada di daerah Tebet. Siapa saja yang lalu lalang di daerah itu; jam berapa arus lalu lintas di depan outlet sangat padat; kelompok umur mereka yang melintas di depan gerai, apa latar belakang profesinya. Demikian pertanyaan-pertanyaan yang layak mendapat jawaban pasti.

Analoginya cukup sederhana; jika siswa sekolah yang mendominasi arus, harga premium bisa jadi masalah besar bagi bisnis. Sebaliknya, jika para profesional yang mendominasi arus lalu lintas di depan outlet, ketika lokasi dapat dijadikan katakan, meeting point bagi para marketer, atau sales lapangan, harga premium tidak akan menjadi soal.

Anda tinggal menyiapkan ruangan, baik indoor ataupun outdoor yang cukup nyaman untuk ajang bertemu atau rapat sesaat. Artinya, pada konsep tersebut, bisnis teridentifikasi tidak hanya menjual jus, melainkan juga terfokus ke jasa penyediaan meeting point bagi para profesional. Sehingga ketika jam kantor usai, lokasi yang sudah dikunci sebagai pusat pertemuan akan mampu mengubah targetnya menjadi tempat kongko anak-anak muda. Di situlah siklus bisnis akan terus berputar.

Ide-ide inovasi yang muncul pun tidak kurang jumlahnya. Ketika musim pertandingan bola tiba, pengelola dapat menjadikan tempatnya sebagai lokasi nonton bareng. Dengan tambahan beberapa menu berat, niscaya bisnis akan melesat lebih cepat.

Menempatkan semua ide itu dalam sebuah model bisnis di awal fase usaha akan memberi kesempatan pengelola untuk menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari standard operating procedure yang akan mengatur setiap operasi layanan yang dijanjikan ke konsumen, pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia, hingga infrastruktur fisik yang dibutuhkan untuk menunjang bisnis.

Setelah itu, jika kalkulasi keuangan memperlihatkan adanya kekurangan modal dana, pebisnis dapat melirik partner lain yang mungkin berkenan menjadi pemegang saham pasif. "Tapi bagaimana halnya untuk bisnis baru? Apakah ide itu dimungkinkan?," tanya Alga dengan antusias. Jawabannya sangat mungkin.

Dewasa ini, ada begitu banyak aliran dana hibah untuk modal awal berusaha para generasi muda, khususnya mereka yang memiliki tingkat pendidikan SMU hingga perguruan tinggi. Tak hanya dari kementerian atau instansi bisnis, para pengelola pendidikan tinggi pun tak segan-segan menyelenggarakan kompetisi bisnis, yang menawarkan hibah sebagai hadiah. "Dengan pola pikir seperti itu, maka secara otomatis kita akan terkunci dengan dasar usaha yang sama, ya, Pak? Tinggal bagaimana mengembangkannya," imbuh dia.

Pernyataan itu sangatlah tepat. Memiliki model bisnis akan mengarahkan kita ke misi dan target awal pendirian usaha. Anda akan terlepas dari jebakan bisnis yang sesaat. Jadi ketika ide-ide inovasi mulai bermunculan, pengelola bisnis akan semakin aktif dalam mengembangkan usahanya. Itulah spirit awal dari bisnis yang berkelanjutan.

Kesimpulannya sederhana: memetakan secara jelas model bisnis Anda dan bersiaplah dengan berbagai ide inovatif untuk mengembangkannya. Semua akan menjadi lebih terarah.