: WIB    —   
indikator  I  

Sukses Mengelola Portofolio (1)

Sukses Mengelola Portofolio (1)
Center For Finance And Investment Research Prasetya Mulya Business School

MUDA kaya raya, tua ongkang-ongkang, mati nanti dulu. Ini impian semua orang. Tapi, coba simak email curhat Pak Budi yang masuk ke mailbox saya.

“Saya pensiunan pegawai swasta. Saat ini, saya mulai kesulitan mendanai kebutuhan sehari-hari. Penyakit yang saya derita membutuhkan dana pengobatan besar. Ingin rasanya menjual rumah. Tapi apa adil setelah puluhan tahun bekerja untuk membeli rumah, harus dijual dan tinggal di kontrakan seperti 30 tahun silam? Lagipula rumah ini semestinya diwariskan ke anak-anak saya”. ?

Masih banyak email bernada sama. Kebanyakan orang cenderung lupa, hidup ada siklusnya. Secara fisik tubuh menua. Secara finansial kita mengalami penurunan. Saat tua, semakin sulit kita mengatasi masalah penuaan kondisi fisik dan keuangan.?Menyadari tidak selamanya kita muda, sehat, berpenghasilan bagus adalah awal manajemen portofolio sukses. Dengan demikian, kita bersemangat investasi, bukan konsumsi melulu.

Coba perhatikan, pameran mobil di Jakarta dihadiri lebih dari 300.000 pengunjung dalam beberapa hari saja. Berapa banyak pengunjung pameran produk investasi pada aset finansial? ?

Beberapa pekan lalu di kolom Investasi Pintar di Harian Tribun, saya menulis tentang belajar investasi dari beruang kutub, yang bisa bertahan hidup di musim dingin karena rajin berinvestasi. Mereka tidak membeli saham atau properti. Sepanjang musim panas, beruang kutub makan ikan sebanyak-banyaknya untuk menimbun lemak, yang menyelamatkan hidup mereka saat danau dan sungai membeku. ?

Terlebih dulu kita harus mengenali profil diri sendiri. Dari perspektif finansial, siklus hidup dibagi tiga tahap. Pertama, akumulasi (20-35 tahun). Di tahap ini seseorang membangun karier. Ia memiliki sedikit aset, sedikit penghasilan, dan tentu sedikit pengeluaran. Namun penghasilan dan aset bertumbuh cepat.?

Tahap berikut, konsolidasi (36-55 tahun). Di tahap ini, seseorang mulai memiliki posisi manajerial cukup tinggi, memiliki penghasilan tinggi dan stabil, memiliki lebih banyak aset. Tapi juga pengeluaran besar karena pertumbuhan kebutuhan anak-anak yang semakin dewasa.?

Tahap terakhir, pengeluaran (di atas 55 tahun). Di tahap ini, seseorang memasuki pensiun. Banyak aset, tapi tak memiliki penghasilan. Pengeluaran tetap besar. Meskipun anak-anak telah mandiri, kesehatan memburuk dan sulit menurunkan level gaya hidup.?

Dalam konteks risiko dan imbal hasil, di tahap pertama, kita bisa berinvestasi pada aset yang tinggi ekspektasi imbal hasil, juga tinggi risiko. Pada tahapan ketiga, sebaiknya berinvestasi di aset lebih rendah risiko, dengan lebih rendah ekspektasi imbal hasilnya.?

Tahap pertama dan kedua adalah “musim panas” manusia menimbun “lemak”. Semakin banyak lemak, semakin besar peluang menikmati “musim dingin” dengan baik. Karena waktu musim panas terbatas, beruang kutub yang bijak bekerja keras dari pagi hingga sore. Ia menangkap ikan-ikan salmon yang sangat kaya protein, bukan binatang lain yang kurang bergizi.?

Langkah pertama, menyadari di tahap mana kita sekarang? Awal atau pertengahan musim panas? Setelah kesadaran berinvestasi timbul, harus pintar memilih aset yang tepat. Racikan aset dalam portofolio tergantung 4 aspek: profil risiko, horizon investasi, kebutuhan likuiditas dan ekspektasi imbal hasil. ?

Manajemen portofolio berusaha menyesuaikan aset-aset portofolio dengan empat aspek tadi. Misalnya, di tahap pertama cenderung berani mengambil risiko, horizon investasinya lebih dari 10 tahun, kebutuhan likuiditas tak terlalu tinggi dan ekspektasi imbal hasil tinggi.

Ia bisa mengalokasikan lebih banyak dana di saham. Sebaliknya, pensiunan dengan horizon 5 tahun, mengharapkan penghasilan tetap bulanan, obligasi lebih tepat.?Investasi adalah sciene and art. Tapi, investasi bukan wacana, ia harus dijalankan. Sooner better than later.


Close [X]